<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494</id><updated>2012-02-10T09:14:47.689+07:00</updated><title type='text'>MASJID AL IKHLAS online</title><subtitle type='html'>menuju kearah kesempurnaan beribadah &gt;&gt;&gt; menggapai ke puncak Taqwa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>74</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-2800276162406563128</id><published>2012-01-09T14:08:00.002+07:00</published><updated>2012-01-09T14:13:59.362+07:00</updated><title type='text'>Panjang Angan angan</title><content type='html'>MENGGUNAKAN GARIS&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh: M. Suyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika menjelaskan hubungan antara manusia, ajal dan cita-citanya. Imam Bukhari meriwatkan sebagai berikut : Telah menceritakan kepada kami [Shadaqah bin Al Fadll] telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Sufyan] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Ayahku] dari [Mundzir] dari [Rabi' bin Khutsaim] dari [Abdullah] radliallahu 'anhu dia berkata;&lt;br /&gt;"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah membuat suatu garis persegi empat, dan menggaris tengah dipersegi empat tersebut, dan satu garis di luar garis segi empat tersebut, serta membuat beberapa garis kecil pada sisi garis tengah dari tengah garis tersebut. Lalu beliau bersabda: 'Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya yang telah mengitarinya atau yang mengelilinginya dan yang di luar ini adalah cita-citanya, sementara garis-garis kecil ini adalah rintangan-rintangannya, jika ia berbuat salah, maka ia akan terkena garis ini, jika berbuat salah lagi maka garis ini akan mengenainya.'" Ibnu Majah meriwayatkan yang serupa : Telah menceritakan kepada kami [Abu Bisyir Bakar bin Khalaf] dan [Abu Bakar bin Khallad Al Bahili] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepadaku [ayahku] dari [Abu Ya'la] dari [Ar Rabi' bin Hutsaim] dari [Abdullah bin Mas'ud] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau membuat garis persegi empat dan menggaris tengah di persegi empat tersebut, dan membuat beberapa garis pada sisi garis tengah dari tengah garis tersebut serta satu garis di luar garis segi empat tersebut. Lalu beliau bersabda: "Tahukah kalian apakah ini?" para sahabat menjawab; "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Ini adalah manusia berada di garis tengah, sementara garis-garis ini (yang berada di sisinya) adalah rintangan-rintangan yang menghimpit -atau yang menggigitnya- dari segala tempat. Jika ia berbuat salah, maka ia akan terkena garis ini. Adapun garis segi empat yang mengitarinya adalah ajal yang mengelilinya. Dan garis yang berada di luar adalah cita-citanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmidzi meriwayatkan hubungan antara manusia, ajal dan angan-angannya sebagai berikut : Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basyar] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [ayahnya] dari [Abu Ya'la] dari [Ar Rabi' bin Khutsaim] dari [Abdullah bin Mas'ud] berkata: Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam membuat garis kotak, ditengah-tengahnya beliau membuat satu garis, satu garis diluarnya dan beberapa garis disekitar tengahnya lalu beliau bersabda: "Ini adalah anak cucu Adam, ini ajalnya mengitarinya, yang ada ditengah ini manusia dan garis-garis ini halangan-halangannya, bila ia selamat dari yang ini ia digigit oleh yang ini (maksudnya kematian), sementara garis yang di luar adalah angan-angan." Hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan hubungan antara manusia, ajal dan angan-angannya sebagai berikut : Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Sufyan] telah menceritakan kepadaku [ayahku] dari [Abu Ya'la] dari [Rabi' bin Khutsaim] dari [Abdullah bin Mas'ud] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau membuat sebuah garis persegi empat dan membuat garis di tengah garis persegi empat serta garis-garis di samping garis tengah persegi panjang dan garis di luar garis persegi panjang, seraya bertanya: "Tahukah kalian apa ini?" mereka menjawab; Allahdan RasulNya lebih mengetahui. Beliau bersabda: "Garis di tengah adalah manusia, garis-garis di sampingnya adalah tujuan dunia yang mengerogotinya dari setiap tempat, jika yang ini salah, ia akan mendapatkan yang ini, sementara garis persegi empat adalah ajal yang menguasainya sedangkan garis di luar adalah angan-angannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-RxORwgkK-5M/TwqTQGqMMvI/AAAAAAAAAkA/ovMpMFkq8xs/s1600/angan.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 198px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RxORwgkK-5M/TwqTQGqMMvI/AAAAAAAAAkA/ovMpMFkq8xs/s400/angan.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695526583638176498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan Manusia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, “Nabi saw membuat garis persegi empat, dan ia menggaris (pula) di tengah yang keluar dari padanya. Lalu ia menggaris (lagi) beberapa garis kecil menuju ke garis yang di tengah ini dari sampingnya, yang berada di tengah. Lalu beliau bersabda,” Ini manusia, dan ini ajalnya yang mengelilinginya, dan garis yang keluar ini adalah cita-citanya, Adapun garis-garis kecil ini adalah harta benda. Dan jika ia terhindar dari yang ini, maka ia akan terkena yang ini.” (HR.Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari di atas menggambarkan posisi manusia, kematian dan keinginannya dengan cara mengilustrasikannya dalam bentuk garis dan gambar, agar mudah dipahami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penilaian Ibnu Hajar &lt;br /&gt;Dalam menilai gambar yang dibuat oleh Rasulullah tersebut ada perbedaan di kalangan ulama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam mensyarahi hadits di atas, membuat beberapa gambar yang masing-masing berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah bisa dijadikan sandaran (dapat dipertanggungjawabkan), Sedangkan susunan hadits di atas (pun) sesuai dengannya. Isyarat dengan kata-kata “Ini adalah manusia” masuk ke dalam titik(garis persegi empat yang di dalam). Isyarat dengan kata-kata “ Ini yang keluar garis adalah angan-angannya” sampai garis panjang yang menyendiri. Adapun isyarat dengan kata “Ini sampai kepada garis-garis” (garis-garis) ini disebutkan menurut cara perumpamaan bukan dimaksud meringkas(garis-garis tersebut) pada jumlah yang ditentukan. (fathul Bari XI:285) &lt;br /&gt;Keterangan Ibnu Hajar ini diperkuat oleh hadits lain yang masih diriwayatkan oleh Bukhari, tetapi melalui sahabat Anas bin Malik ra, Nabi saw membuat beberapa garis lalu bersabda, “ Ini adalah cita-cita dan ini adalah ajalnya. Maka di antara keduanya itu ternyata ada satu garis yang dekat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan manusia itu ada dua macam: Pertama, angan-angan yang mungkin bisa tercapai, yaitu yang ditunjuki oleh garis-garis yang berada di luar lingkaran yang sekaligus sebagai pembatas. Kedua, angan-angan yang tidak mungkin tercapai, yaitu yang ditunjuki oleh garis-garis yang berada di luar lingkaran (kotak) yang sekaligus sebagai pembatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa cita-cita dan angan -angan manusia itu jauh lebih panjang dari pada ajalnya. Sedang sesuatu yang diangan-angankan itu biasanya tidak akan jauh dari yang namanya harta dan umur panjang. Sudah menjadi fitrahnya, bahwa masing-masing manusia memiliki keinginan dan harapan yang selalu didamba-dambakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memiliki harta yang cukup, maka ia akan memikirkan untuk mmpergunakannya, walaupun fisik dan mentalnya sudah lemah atau berkurang. Rasulullah saw bersabda,” Anak Adam (manusia) itu tumbuh menjadi besar, dan bersamaan dengan itu, akan tumbuh pula dua perkara yaitu: cinta harta dan panjang angan-angannya.” (HR.Bukhari). &lt;br /&gt;Walaupun keinginan dan cita-cita seseorang itu telah tercapai, namun kebiasaan manusia tidak akan merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya. Maka ia akan mencari dan mencari lagi harapan yang lain. &lt;br /&gt;Pada umumnya, cita-cita dan kegemarannya terhadap harta dan umur panjang ini sampai melampaui batas. Sehingga dengan cara dan jalan apapun ia usahakan demi mencapai tujuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan yang kuat itu terkadang tanpa disadari membuat banyak manusia menjadi lupa dengan kematian. Allah swt memberi peringatan terhadap orang yang terlena oleh kehidupan dunianya dengan firman-Nya, &lt;br /&gt;”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai (kamu) masuk ke dalam kubur.” (QS.At-Takatsur:1-2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain dikatakan, &lt;br /&gt;”Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr:3). &lt;br /&gt;Rasulullah saw. menggambarkan sifat manusia dalam kecintaannya kepada harta benda dan ketidakpuasannya sebagai berikut: “ Jika anak Adam memiliki dua lembah dari emas, maka masti ia akan mencari lagi lmbah yang keiga Tidak akan ada yang dapat mengisi perut anak Adam selain dari pada tanah. Dan Allah akan memberi taubat (mengampuni) terhadap orang yang bertaubat.” (HR.Bukhari melalui sahabat Ibnu Abbas ra). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, betapapun tingginya angan-angan manusia terhadap harta dan kesenangan dunia ini, namun jangan sekali-kali melupakan satu hal yang pasti, yakni mati. Semua manusia akan merasakan mati, dan inilah yang menjadi ujung dari kehidupan di dunia.Suka tau tidak semua harapan harus dihentikan sampai disini.' harapan dan impian akan terpotong begitu saja dengan datangnya kematian. &lt;br /&gt;Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;“ Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. (QS.Ali Imran:185). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah bagi seorang muslim, jangan melampaui batas dalam hal cita-cita dan angan-angannya. Namun bukan berarti mereka tidak boleh memiliki cita-cita lalu menjadi orang kaya. Silakan bercita-cita, dan monggo saja bila ingin menjadi orang kaya, tapi hendaknya jangan sampai kekayaan membuatnya lupa ibadah kepada Allah swt. &lt;br /&gt;Sungguh jelas, bahwa kekayaan tidak menjadi sebab Allah menjadi marah. Yang dilarang—dan yang mengundang murka-Nya—adalah orang kaya yang sombong dan lupa diri dengan kekayaannya. Rasulullah saw bersabda,” Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bertaqwa, kaya dan tidak sombong.” (HR.Muslim). &lt;br /&gt;Hidup Sederhana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Islam, tidak tercatat bahwa Rasulullah saw, itu orang yang kaya dengan harta benda. Tapi tidak seorangpun yang berani mengatakan bahwa beliau itu orang yang miskin. Kalau kita pikirkan, Rasulullah saw, itu adalah seorang pemimpin ummat dan orang yang disegani. Apabila beliau menghendaki sesuatu atau berdo'a kepada Allah ingin menjadi orang kaya, tentu Allah akan mengabulkannya, sebagaimana Rasulullah telah mendo'akan salah seorang sahabatnya yakni Sa'labah yang semula miskin kemudian menjadi kaya raya. Akan tetapi hal itu tidak beliau lakukan. &lt;br /&gt;Nabi juga pernah ditawari oleh Tuhannya, bahwa jalan raya yang berada di Makkah akan dijadikan (dipenuhi) dengan emas untuknya. Akan tetapi beliau menjawab,” Tidak, ya Tuhanku, tetapi (aku memilih) kenyang sehari dan lapar sehari (beliau mengucapkannya sampai tiga kali). Atau dengan begitu, kalau aku lapar, maka aku akan selalu merendah diri kepada-Mu dan akan selalu ingat kepada-Mu. Dan apabila aku kenyang, maka aku akan bersyukur dan memuji-Mu.” (HR.At-Tirmidzi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw betul-betul mempergunakan umur itu untuk kemaslahatan ummatnya. Ia memilih sehari lapar dan sehari kenyang dari pada ia harus menyibukkan diri dengan kekayaan. Sebab, kekayaan itu adalah fitnah, yaitu akan menyibukkan seseorang untuk mengurusnya dan akibatnya akan melalaikan ibadah kepada Allah swt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kaya bukan saja disibukkan oleh dirinya sendiri karena mengurus kekayaannya itu, juga akan disibukkan oleh gunjingan, cibiran, iri, dan cemburu dari orang lain. Mereka yang tidak siap menerima amanah kekayaan, akan menjadi mudah manik, hilang keseimbangan kemudian menjadi orang yang mengasingkan diri, memusuhi dan dimusuhi manusia. Keadaan akan menjadi lebih buruk bila hubungan komunikasi dengan Tuhan terganggu dan rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta merupakan fitnah utama bagi kaum muslimin sepanjang zaman. Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya bagi setiap ummat itu ada fitnah, dan fitnah yang ada pada ummatku adalah harta.” (HR.At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim). &lt;br /&gt;Tegasnya, bahwa seorang muslim itu harus memiliki keyakinan bahwa akhirat itu lebih baik dari pada dunia dan seluruh isinya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Iyus Kurnia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-2800276162406563128?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/2800276162406563128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=2800276162406563128&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/2800276162406563128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/2800276162406563128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2012/01/panjang-angan-angan.html' title='Panjang Angan angan'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RxORwgkK-5M/TwqTQGqMMvI/AAAAAAAAAkA/ovMpMFkq8xs/s72-c/angan.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-5101678835924755714</id><published>2011-11-18T11:21:00.000+07:00</published><updated>2011-11-18T11:26:14.851+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>KEUTAMAAN DZIKIR MENGINGAT ALLAH&lt;br /&gt;Written by chapila | August 5, 2011 | 1 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak orang yang masih menganggap remeh kegiatan dzikir atau mengingat Allah. Mereka menganggap duduk diam sambil berzikir menyebut nama Allah sebagai suatu kegiatan yang sia sia dan hanya membuang waktu percuma. Ini terjadi karena sebagian besar manusia perhatiannya hanya tercurah pada kehidupan dunia. Sebagian besar manusia hanya fokus pada kehidupan jangka pendek, yaitu kehidupan dunia. Mereka merancang kehidupannya hanya sampai hari tua, seluruh perhatian dan aktifitasnya dicurahkan untuk keberhasilan dan kesuksesan hidup didunia. Mereka tidak peduli dengan kehidupan jangka panjang, bahkan mereka ragu dengan adanya kehidupan akhirat yang abadi dan pertemuan dengan Allah kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang mengharapkan berjumpa dengan Allah penguasa alam semesta, maka saat pertemuan itu pasti terjadi. Barang siapa yang tidak mengharap perjumpaan dengan Allah, maka di akhirat kelak dia tidak akan berjumpa dengan-Nya, kesenangan dan kegembiraan hidupnya didunia ini telah berakhir dengan datangnya kematian, diakhirat kelak ia akan dikumpulkan dilembah neraka, hidup kekal abadi selamanya disana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Ankabut 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit sekali orang yang paham dan mengerti bahwa saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan panjang yang tidak memiliki ujung, perjalanan panjang yang tidak ada akhirnya. Sebagian besar manusia hanya tahu bahwa perjalanan ini akan berakhir dengan datangnya kematian. Mereka tidak menyadari bahwa dibalik kematian mereka masih harus menempuh perjalanan panjang yang tidak pernah ada ujungnya, perjalanan panjang yang tidak pernah ada akhirnya. Mereka harus melalui alam barzakh, padang mahsyar, hari berhisab, selanjutnya hidup kekal abadi dilembah neraka atau ditaman syurga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perjalan panjang yang tidak pernah ada akhirnya.&lt;br /&gt;Perjalanan panjang yang kita lalui didunia maupun akhirat penuh dengan halangan dan rintangan. Halangan dan rintangan itu akan menimbulkan berbagai penderitaan dan rasa sakit yang berkepanjangan. Kita butuh kekuatan ekstra untuk mengatasi berbagai halangan dan rintangan itu. Jika kita sanggup mengatasi berbagai halangan dan rintangan yang datang menghadang kita akan mengalamai kegembiraan dan kebahagiaan yang terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ingat kepada Allah dan selalu berlindung pada-Nya kita akan mendapat kekuatan ekstra menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang datang menghadang baik didunia maupun diakhirat. Orang yang selalu ingat pada Allah akan mendapat kemudahan dalam mengatasi berbagai halangan dan rintangan yang datang menghadang. Hal tersebut terjadi karena Allah selalu ingat dan memperhatikan keadaan orang yang selalu ingat pada-Nya, Dia selalu siap memberi pertolongan kepada orang yang selalu ingat pada-Nya. Firman Allah dalam surat Al Baqarah 152 :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku. (Al Baqarah 152)&lt;br /&gt;Ibadah Dzikrullah&lt;br /&gt;Kegiatan Dzikrullah (mengingat Allah) adalah suatu aktivitas yang dapat memberikan kekuatan ekstra kepada kita dalam menghadapi berbagai masalah yang datang menghadang dalam hidup kita. Ada beberapa kegiatan dzikrullah yang diajarkan Rasulullah kepada kita antara lain , Sholat 5 waktu maupun sholat sunah, membaca Qur’an, membaca kalimat tahlil, tahmid, tasbih, takbir, Asma’ulhusna, membaca do’a , dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat dilakukan pada waktu dan cara yang telah ditetapkan, membaca Qur’an juga dianjurkan dilakukan dengan tartil dan berusaha memahami semua bacaannya pada waktu malam hari. Membaca tahlil, tahmid, tasbih, takbir dan berdo’a dianjurkan dilakukan setelah selesai mengerjakan sholat. Mengingat Allah dengan menyebut Asma’ulhusna dianjurkan dibaca setelah sholat atau pada waktu berdiri, duduk dan berbaring. Usahakan hati dan fikiran tidak pernah kosong dan sepi dari menyebut nama Allah, hadirkan Allah didalam hati dan fikiran setiap saat dimanapun berada. Selama hati dan fikiran selalu ingat dan menyebut nama-Nya, demikian pula Allah akan selalu ingat dan memperhatikan keadaan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Syaikhani dan Turmidzi dari Abu Huraira r.a Allah mengatakan :&lt;br /&gt;” Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia ingat kepadaKu didalam hatinya, Akupun ingat pula kepadanya didalam hatiKu. Dan jika ia ingat kepadaKu dilingkungan khalayak ramai, niscaya Akupun ingat kepadanya didalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Dan jika ia mendekat padaKu sejengkal,Akupun mendekat pula padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta, niscaya Aku mendekat padanya sedepa. Dan jika dia datang padaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al Ahzab ayat 41-43 Allah mengingatkan orang yang beriman agar ingat kepada Allah dengan sebanyak banyaknya, dan bertasbih pada-Nya pada waktu pagi dan petang hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;41- Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;42- Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.&lt;br /&gt;43- Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (AL Ahzab 41-43)&lt;br /&gt;Manfaat nyata dari Dzikrullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ingat dan menyebut nama Allah setiap saat dan sepanjang waktu dikala berdiri, duduk dan berbaring merupakan gambaran nyata dari keimanan ,ketakwaan dan rasa tawakkal seseorang. Allah akan memperlihatkan menfaat dan efek nyata dari amalan dzikrullah seseorang dalam kehidupannya sehari hari hari antara lain:&lt;br /&gt;1. Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel,kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan ( Ar Raad 28)&lt;br /&gt;2. Dikeluarkan Allah dari kegelapan (hidup yang penuh kesukaran, kesempitan,kepanikan, kekalutan ,kehinaaan dan serba kekurangan ) kepada cahaya yang terang benderang ( hidup bahagia,nyaman, aman, mulia, sejahtera dan berkecukupan). (Al Ahzab 43)&lt;br /&gt;3. Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar (Al Ankabut 45)&lt;br /&gt;4. Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan (An Nahl 99)&lt;br /&gt;5. Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya ( At Thalaq 2-3)&lt;br /&gt;6. Dibukakan baginya pintu kemenangan, diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang, ditambahkan baginya berbagai kenikmatan hidup, ditunjuki jalan yang lurus , dan diberi pertolongan dengan kekuatan yang dahsyat. ( Al Fath 1-3)&lt;br /&gt;7. Selalu mendapat perhatian istimewa dari Allah dimanapun ia berada , selama ia ingat pada-Nya (Al Baqarah 152)&lt;br /&gt;8. Terhindar dari beban hidup yang berat dan tidak sanggup dipikul serta terhindar dari siksa dan azab yang melampaui batas ( Al Baqarah 286)&lt;br /&gt;9. Diampuni segala dosanya, dihapuskan segala kesalahannya dan diwafatkan bersama orang yang berbuat kebaikan ( husnul khotimah) (Ali Imran 193)&lt;br /&gt;10. Mendapat kehidupan yang baik sampai datang ajal yang telah ditetapkan (Hud 3, An-Nahl 97)&lt;br /&gt;11. Dibalasi dan dilipat gandakan amal kebaikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ( An Nahl 96-97)&lt;br /&gt;12. Selalu disertai Allah dimanapun mereka berada (Al Baqarah 153, Al Hadit 4)&lt;br /&gt;13. Mendapat pertolongan dari ribuan tentara malaikat dalam menghadapi berbagai hal dan masalah didunia maupun akhirat ( Ali imran 124-125, Fushilat 30-31)&lt;br /&gt;14. Dimudahkan semua urusannya dan diberi bimbingan menempuh jalan yang mudah (Al Lail 7, Al A’la 8 )&lt;br /&gt;15. Dibukakan baginya keberkahan dan pintu rahmat dari langit dan bumi (Al A’raaf 96)&lt;br /&gt;16. Diwafatkan dalam keadaan baik dan disambut oleh para malaikat dengan salam penghormatan ( An Nahl 32, Ar Raad 23-24, Al Ahzab 44 )&lt;br /&gt;17. Mendapat kehidupan yang baik selama masa menanti dialam barzakh ( Ali Imran 169)&lt;br /&gt;18. Memiliki wajah yang putih berseri dihari berbangkit ( Ali Imran 106-107)&lt;br /&gt;19. Memiliki wajah dan tubuh yang bercahaya terang dihari berbangkit ( Al Hadit 12-13 dan At Tahrim 8 )&lt;br /&gt;20. Menerima buku catatan amal dari sebelah kanan dan dimudahkan saat dihisab dan ditimbang semua amalnya (Al Haqqah 19-21 )&lt;br /&gt;21. Memiliki timbangan kebaikan yang lebih banyak dan berat (Al Qori’ah 6-7,Al A’raaf 8 )&lt;br /&gt;22. Diselamatkan Allah dari ganas dan panasnya api neraka (Maryam 72-73, Al Lail 17)&lt;br /&gt;23. Dimasukan kedalam taman syurga dan hidup kekal selamanya disana (Az zumar 73)&lt;br /&gt;Betapa banyak manfaat yang didapat dari mengingat Allah sebagai mana disebutkan diatas , namun sayang…. sedikit sekali orang yang mau dan tertarik untuk melakukan kegiatan tersebut. Mudah mudahan setelah membaca berbagai keterangan diatas anda akan tertarik untuk melaksanakan ibadah dzikir mengingat Allah sepanjang waktu dikala berdiri, duduk dan berbaring. Mulailah berusaha menyisihkan waktu untuk duduk diam setelah sholat lima waktu atau pada waktu pagi dan malam hari , berzikir dengan menyebut Asma’ulhusna sebanyak banyaknya. Insya Allah anda akan merasakan berbagai manfaat sebagaimana disebutkan diatas, itu adalah janji Allah dalam Al Qur’an Dia tidak pernah mengingkari janji. Allah maha kuat dan pasti memenuhi semua janji-Nya. Janji Allah tidak pernah meleset.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;205- Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.&lt;br /&gt;206- Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud. (Al-A’raaf 205-206)&lt;br /&gt;Oleh : Fadhil ZA&lt;br /&gt;(Sumber Fadhilza.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-5101678835924755714?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/5101678835924755714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=5101678835924755714&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/5101678835924755714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/5101678835924755714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2011/11/keutamaan-dzikir-mengingat-allah.html' title=''/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-4653789650180979824</id><published>2011-02-28T13:14:00.001+07:00</published><updated>2011-02-28T13:19:15.002+07:00</updated><title type='text'>Wirid setelah Sholat Lima Waktu</title><content type='html'>Oleh: Redaksi Buletin Al Ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca semoga Allah menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada kebaikan dan kebenaran. Diantara kebaikan yang mudah untuk kita amalkan adalah berdzikir setelah melaksanakan shalat wajib yang lima waktu. Dzikir (wirid) ini sangat penting karena diantara fungsinya adalah sebagai penyempurna dari kekurangan dalam shalat kita. Bahkan dzikir setelah shalat fardhu merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, walaupun dalam keadaan genting sekalipun seperti dalam keadaan perang. Sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (An-Nisa’: 103)&lt;br /&gt;Ayat tersebut terkait dengan kondisi perang, maka dalam kondisi aman tentu lebih memungkinkan untuk melaksanakan dzikir.&lt;br /&gt;Para pembaca rahimakumullah, seorang muslim yang berdzikir setelah shalat hendaknya mencukupkan dengan dzikir-dzikir yang telah disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bukan dengan dzikir yang tidak  dicontohkan oleh beliau, yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir-dzikir yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam berdasarkan hadits-hadits yang shahih adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengucapkan istighfar 3 kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Saya mohon ampun kepada Allah.”&lt;br /&gt;Lalu mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Ya Allah Engkaulah As-Salam (Dzat yang selamat dari segala kekurangan) dan dari-Mu (diharapkan) keselamatan, Maha Suci Engkau Dzat Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 591)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهْوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ ،&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala puji, Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah tidak ada yang mampu mencegah terhadap apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi terhadap apa telah Engkau mencegahnya, serta tidak bermanfaat disisi-Mu kekayaan orang yang kaya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala puji, Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah, Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Milik-Nya segala nikmat, keutamaan dan pujian yang baik. Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.” (HR. Muslim no. 594)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengucapkan Tasbih, Tahmid dan Takbir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبحان الله (Maha suci Allah) 33 kali,&lt;br /&gt;الحمد لله (Segala puji hanya milik Allah) 33 kali,&lt;br /&gt;الله أكبر (Allah Maha besar) 33 kali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan digenapkan menjadi seratus dengan mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala puji, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang keutamaannya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa    bertasbih   (mengucapkan سُبحان الله) 33 kali, bertahmid (mengucapkan الحمد لله) 33 kali, dan bertakbir (mengucapkan الله أكبر) 33 kali, itu semua berjumlah 99, kemudian sempurnanya 100 dengan mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala puji, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu)),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscaya akan diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR.Muslim no. 597)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Cara menghitung Tasbih, Tahmid dan Takbir yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam adalah dengan jari-jemari. Sebagaimana telah dijelaskan oleh shahabat Yasiirah a. (Lihat Sunan Abu Daud no. 1501 dan Sunan At-Tirmidzi no. 3486)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Tidak ada sesembahan yang haq (benar) diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala puji, (Dialah Dzat) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)&lt;br /&gt;Dibaca 10 kali setelah Shalat Maghrib dan Shubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang keutamaannya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengucapkan usai shalat Shubuh       dalam keadaan melipat kedua kakinya sebelum berbicara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 kali, maka dituliskan baginya 10 kebajikan, dihapus darinya 10 keburukan, dan diangkat baginya 10 derajat,serta harinya itu berada dalam lindungan dari semua yang tidak disenangi dan dijaga dari setan, juga dosa tidak akan mencapai (timbangan)nya pada hari itu selain dosa menyekutukan Allah (berbuat kesyirikan –red).” (HR. At-Tirmidzi no. 3474 dan Ahmad no. 16583/16699) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Membaca Ayat Kursi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Allah, tidak ada ilah (sesembahan yang haq (benar) diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (Allah) mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang keutamaannya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من قرأ آية الكرسي في دبر كل صلاة مكتوبة لم يمنعه من دخول الجنة الا ان يموت نوع آخر في دبر الصلوات&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai menunaikan shalat lima waktu, maka tidaklah ada yang menghalanginya untuk masuk ke dalam Al-Jannah (Surga) kecuali kematian.” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 9928)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 1-4)&lt;br /&gt;Artinya: “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila Telah gelap gulita.Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (Al-Falaq: 1-5)&lt;br /&gt;Artinya: “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilah (sesembahan) manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Naas: 1-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Tiga surat tersebut dibaca 3 kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh dan dibaca 1 kali setelah shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaannya adalah sebagimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam: “Tiga surat tersebut cukup bagimu (sebagai permohonan perlindungan) dari segala kejelekan.” (Lihat Sunan Abu Daud no. 5094)&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bisshowab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-4653789650180979824?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/4653789650180979824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=4653789650180979824&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4653789650180979824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4653789650180979824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2011/02/wirid-setelah-sholat-lima-waktu.html' title='Wirid setelah Sholat Lima Waktu'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-619769924958947821</id><published>2011-02-25T09:51:00.001+07:00</published><updated>2011-02-25T09:57:59.792+07:00</updated><title type='text'>Jihad Melawan Setan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-hXxNQF8x560/TWcapwiWlqI/AAAAAAAAAZE/jucFGcrTX8g/s1600/images6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 108px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-hXxNQF8x560/TWcapwiWlqI/AAAAAAAAAZE/jucFGcrTX8g/s400/images6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577455968227595938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh  : Ustadz Abu Muslim Al Atsari &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada edisi Khusus telah kami angkat tentang setan yang merupakan musuh besar manusia. Dalam upayanya menyesatkan manusia, setan selalu berusaha menghalangi manusia dari ketaatan kepada Allah. Setan selalu berupaya memalingkan manusia dengan tipu dayanya. Dalam menjalankan aksinya, setan memiliki dua senjata, yaitu syubhat dan syahwat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang ingin selamat, ia harus berjihad melawan setan tersebut dengan bersenjatakan ilmu dan mentazkiyah jiwanya. Ilmu nafi’ akan menghasilkan keyakinan, yang akan menolak syubhat. Sedangkan tazkiyatun nafs, akan melahirkan ketakwaan dan kesabaran, yang akan mengendalikan syahwat. &lt;br /&gt;Menurut Imam Ibnul Qayyim, jihad melawan setan, ada dua tingkatan. Pertama, menolak syubhat dan keraguan yang dilemparkan setan kepada hamba. Kedua, menolak syahwat dan kehendak-kehendak rusak yang dilemparkan setan kepada hamba. Jihad yang pertama akan diakhiri dengan keyakinan, sedangkan jihad yang kedua akan diakhiri dengan kesabaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ {24} &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami".[As Sajdah : 24]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memberitakan, bahwa kepemimpinan agama hanyalah diraih dengan kesabaran (dan keyakinaan). Yakni kesabaran menolak syahwat dan kehendak-kehendak yang rusak, dan keyakinan menolak keraguan dan syubhat. (Zadul Ma’ad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, senjata untuk melawan senjata setan ialah ilmu dan kesabaran. Ilmu yang bersumber dari kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Kemudian mengamalkan ilmu tersebut, sehingga jiwa menjadi bersih dan suci, dan menumbuhkan kesabaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menghadapi setan, secara rinci, di antaranya dilakukan dengan cara sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beriman Dan Bertauhid Kepada Allah Dengan Sebenar-benarnya. &lt;br /&gt;Sesungguhnya seluruh kekuatan, kekuasaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah Pencipta alam. Oleh karena itu, seorang hamba yang ditolong dan dilindungi Allah, maka tidak ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. Sehingga senjata pertama dan terutama bagi seorang mukmin untuk menghadapi setan, ialah dengan beriman secara benar kepada Allah, beribadah dengan ikhlas kepadaNya, bertawakkal hanya kepadaNya, dan beramal shalih menurut aturanNya, lewat Sunnah RasulNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitakan, setan tidak memiliki kekuasaan terhadap hamba-hambaNya yang beriman dan mentauhidkanNya. Allah berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah".[An Nahl : 99, 100]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim menjelaskan, ketika Iblis mengetahui bahwa dia tidak memiliki jalan (untuk menguasai) orang-orang yang ikhlas, maka dia mengecualikan mereka dari sumpahnya yang bersyarat untuk menyesatkan dan membinasakan (manusia). Disebutkan dalam Al Qur`an, Iblis mengatakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ {82} إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demi kekuasaanMu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas di antara mereka". [Shad : 82, 83] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat" [Al Hijr : 42] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ikhlas adalah jalan kebebasan, Islam adalah kendaraan keselamatan, dan iman adalah penutup keamanan [1]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berpegang Teguh Kepada Al Kitab Dan As Sunnah Sesuai Dengan Pemahaman Salafush Shalih. &lt;br /&gt;Ketika Allah menurunkan manusia di muka bumi, sesungguhnya Dia menyertakan petunjuk untuk mereka. Sehingga manusia hidup di dunia ini tidak dibiarkan begitu saja tanpa bimbingan, atau tanpa perintah dan tanpa larangan. Bahkan Allah menurunkan kitab suci dan mengutus para rasul yang membawa peringatan, penjelasan dan bukti-bukti. Barangsiapa berpaling dari peringatan Allah, maka dia akan menjadi mangsa setan dan dijerumuskan ke dalam kecelakaan abadi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al Qur`an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya" [Az Zukhruf : 36]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa jalan Allah, jalan kebenaran, hanya satu. Menyimpang darinya, berarti mengikuti jalan-jalan setan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَطَّ خَطًّا هَكَذَا أَمَامَهُ فَقَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَخَطَّيْنِ عَنْ يَمِينِهِ وَخَطَّيْنِ عَنْ شِمَالِهِ قَالَ هَذِهِ سَبِيلُ الشَّيْطَانِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ فِي الْخَطِّ الْأَسْوَدِ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ ( وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Jabir, dia berkata,”Kami duduk di dekat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau membuat sebuah garis di depan beliau, lalu beliau mengatakan: ‘Ini jalan Allah Azza wa Jalla. (Kemudian) beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat dua buah garis di kanannya, dan dua garis di kirinya. Beliau bersabda: ‘Ini jalan-jalan setan’. Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis yang hitam (tengah, Pen), lalu membaca ayat ini." [2] (Dan bahwa (yang kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kami bertakwa" [Al An'aam : 153] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi jelaslah, bahwa jalan keselamatan agar terhindar dari tipu daya setan hanyalah dengan mengikuti jalan Allah, mengikuti Al Kitab dan As Sunnah sebagaimana pemahaman Salafush Shalih. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (yaitu jalan para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". [An Nisa` : 115]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berlindung Kepada Allah Dari Gangguan Setan. &lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Makna ‘aku berlindung kepada Allah dari setan yang dilaknat’, yaitu aku meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang dilaknat dari gangguannya atas agamaku, atau pada duniaku, atau menghalangiku dari melakukan apa yang aku diperintahkan dengannya, atau mendorongku melakukan apa yang aku dilarang dengannya. Karena tidak ada yang mencegah setan dari manusia kecuali Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk mengambil hati dan bersikap lembut kepada setan manusia, dengan melakukan kebaikan kepadanya, agar tabi’atnya (yang baik) menolaknya dari gangguan (yang dia lakukan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memerintahkan agar (manusia) berlindung kepadaNya dari setan, jin, karena dia tidak menerima suap. Perbuatan baik tidak akan mempengaruhinya, karena dia (setan) memiliki tabi’at yang jahat. Dan tidak akan mencegahnya darimu, kecuali Yang telah menciptakannya.[3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebaik-baik jalan untuk menyelamatkan diri dari setan dan tentaranya, dengan memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla, karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon perlindungan ini dilakukan secara umum pada setiap waktu, setiap diganggu setan, dan juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dituntunkan Allah dan RasulNya. Allah berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan katakanlah : "Ya, Rabb-ku. Aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku". [Al Mukminun : 97-98] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ باِللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [Al A’raf : 200]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun waktu-waktu tertentu yang dituntunkan untuk beristi’adzah, antara lain ialah : saat diganggu setan, adanya bisikan jahat, gangguan di dalam shalat, saat marah, mimpi buruk; saat akan membaca Al Qur1an, hendak masuk masjid, saat masuk ke tempat buang hajat, saat mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai, ketika akan berjima’, pada waktu pagi dan petang, isti’adzah untuk anak-anak dan keluarga, ketika singgah di suatu tempat, ketika akan tidur. Perincian dalil-dalil ini semua terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membaca Al Qur`an. &lt;br /&gt;Di antara hikmah Allah menurunkan kitab suci Al Qur`an ialah sebagai obat dan penawar bagi orang yang beriman. Allah berfirman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَاهُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَيَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّخَسَارًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian". [Al Isra` : 82] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, membaca Al Qur`an juga termasuk sebagai terapi mengusir atau menjaga dari gangguan setan. Karena sesungguhnya, dengan sebab bacaan Al Qur`an ini, setan akan lari menjauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, janganlah kamu menjadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al Baqarah di dalamnya".[HR Muslim, no. 780] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Abu Hurairah, setan telah membukakan salah satu rahasianya. Hal ini dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setan mengatakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ ( اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الْآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi (Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum) sampai engkau menyelesaikan ayat tersebut. Maka sesungguhnya akan selalu ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi". [HR Bukhari] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memperbanyak Dzikrullah. &lt;br /&gt;Dzikrullah merupakan benteng yang sangat kokoh untuk melindungi diri dari gangguan setan. Sebagaimana hal ini diketahui dari pemberitaan Allah melalui para rasulNya. Antara lain melalui lisan Nabi Yahya Alaihissallam, sebagaimana hadits di bawah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ الْحَارِثِ الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهَا وَيَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهَا...وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al Harits Al Asy’ari, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakaria Alaihissallam dengan lima kalimat, agar beliau mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil agar mereka mengamalkannya (di antaranya)… Aku perintahkan kamu untuk dzikrullah (mengingat, menyebut Allah). Sesungguhnya perumpamaan itu seperti perumpamaan seorang laki-laki yang dikejar oleh musuhnya dengan cepat, sehingga apabila dia telah mendatangi benteng yang kokoh, kemudian dia menyelamatkan dirinya dari mereka (dengan berlindung di dalam benteng tersebut). Demikianlah seorang hamba tidak akan dapat melindungi dirinya dari setan, kecuali dengan dzikrullah". [HR Ahmad] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, jika Anda ingin selamat dari tipu daya dan gangguan setan, hendaklah selalu membasahi lidah dengan dzikrullah disertai konsentrasi dengan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menetapi Jama’ah Umat Islam. &lt;br /&gt;Bergabung dengan jamaah umat Islam dalam melaksanakan berbagai ibadah yang dituntunkan dengan berjamaah, merupakan salah satu cara menyelamatkan diri dari incaran setan. Karena sesungguhnya, setan merupakan serigala yang akan menerkam manusia, sebagaimana serigala akan menerkam domba yang menyendiri dari rombongannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ قَالَ زَائِدَةُ قَالَ السَّائِبُ يَعْنِي بِالْجَمَاعَةِ الصَّلَاةَ فِي الْجَمَاعَةِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abu Darda’, dia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada tiga orang di suatu desa atau padang, tidak didirikan shalat jamaah pada mereka, kecuali setan menguasai mereka. Maka bergabunglah dengan jamaah, karena sesungguhnya serigala itu akan memakan kambing yang menyendiri" [HR Abu Dawud, no. 547] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mengetahui Tipu-Daya Setan Sehingga Mewaspadainya. &lt;br /&gt;Sungguh setan sangat antusias menyesatkan manusia. Dia menghabiskan umur dan nafasnya untuk merusak keadaan manusia. Maka kewajiban orang yang berakal, ia harus mewaspadai musuhnya ini, yang telah menampakkan permusuhannya semenjak zaman Nabi Adam Alaihissallam. Allah memperingatkan hamba-hambaNya dengan firmanNya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَازَكَى مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمُُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [An Nur : 21] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengetahui tipu daya setan, yaitu dengan mengetahui dan membongkar tipu-dayanya, sehingga seseorang dapat menghindarinya. Karena barangsiapa tidak mengetahui keburukan, tanpa disadarinya, dia akan terjerumus ke dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Menyelisihi Setan Dan Menjauhi Sarana-Sarananya Untuk Menyesatkan manusia. &lt;br /&gt;Setan adalah musuh manusia. Kita wajib menjadikannya sebagai musuh. Karena tabiat musuh selalu berusaha dengan berbagai cara untuk mencelakakan musuhnya dan menjauhkannya dari kebaikan-kebaikan. Allah berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُورُ {5} إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala". [Fathir : 5, 6]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam hal ini, yaitu menyelisihi perbuatan-perbuatan setan, seperti : &lt;br /&gt;- Setan makan dan minum dengan tangan kiri, maka kita menyelisihinya dengan makan dan minum dengan tangan kanan. &lt;br /&gt;- Setan tidak melakukan qailulah (istirahat di tengah hari), maka kita menyelisihinya dengan melakukan qailulah. &lt;br /&gt;- Kita wajib meninggalkan tabdzir (pemborosan), karena orang-orang yang melakukan tabdzir adalah saudara-saudara setan. &lt;br /&gt;- Kita wajib melakukan sesuatu dengan tenang dan hati-hati, karena sikap tergesa-gesa adalah dari setan. &lt;br /&gt;- Hendaklah kita menolak dan menahan sekuatnya saat menguap, karena hal itu dari setan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil yang kami sebutkan ini, terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih. Demikian juga kita jauhi sarana-sarana yang digunakan setan untuk menyesatkan manusia, seperti musik, nyanyian, minuman keras, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Meyakini Kelemahan Tipu-Daya Setan &lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَآءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah". [An Nisa` : 76]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun lihainya setan menebarkan perangkap-perangkapnya atas manusia, namun kita tetap harus meyakini bahwa tipu daya setan itu sesungguhnya lemah. Asalkan kita selalu mentaati Allah Yang Maha Perkasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kelemahan setan ialah: dia tidak dapat membuka pintu yang dikunci dan disebut nama Allah padanya. Demikian juga tidak dapat makan bersama manusia yang mengucapkan bismillah sebelumnya. Setab juga tidak dapat bermalam di dalam rumah yang penghuninya masuk dengan membaca bismillah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Taubat Dan Istighfar. &lt;br /&gt;Selama masih hidup, manusia membutuhkan taubat dan istighfar dari dosa-dosanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selama manusia berbuat demikian, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan selalu mengampuninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ لِرَبِّهِ بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي بَنِي آدَمَ مَا دَامَتِ الْأَرْوَاحُ فِيهِمْ فَقَالَ اللَّهُ فَبِعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَبْرَحُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Iblis berkata kepada Robbnya,’Demi kemuliaan dan keagunganMu, aku senantiasa akan menyesatkan anak-anak Adam selama ruh masih ada pada mereka’. Maka Allah berfirman,’Demi kemuliaan dan keagunganMu, Aku senantiasa akan mengampuni mereka selama mereka mohon ampun kepadaKu". [HR Ahmad]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sedikit penjelasan tentang setan dan tipu dayanya. Semoga bermanfaat dan menjadi bekal untuk membentengi diri kita dari gangguan dan godaan setan yang terkutuk. Wallahul musta’an. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-619769924958947821?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/619769924958947821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=619769924958947821&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/619769924958947821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/619769924958947821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2011/02/jihad-melawan-setan.html' title='Jihad Melawan Setan'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hXxNQF8x560/TWcapwiWlqI/AAAAAAAAAZE/jucFGcrTX8g/s72-c/images6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-4880353545666968470</id><published>2011-02-18T15:10:00.002+07:00</published><updated>2011-02-18T15:14:51.266+07:00</updated><title type='text'>Ibnu Hajar dan Imam Nawawi Vs Bin Baz Tentang Hukum Isbal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-JPNT5w9akYo/TV4qWaWk8WI/AAAAAAAAAY0/ai7VpqMnIXo/s1600/zzzzzz.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JPNT5w9akYo/TV4qWaWk8WI/AAAAAAAAAY0/ai7VpqMnIXo/s400/zzzzzz.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574939953250759010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan pendapat tentang isbal memang sudah lama ada, bukan sebuah hal yang qath'i, meski ada sebagian kalangan yang agaknya tetap memaksakan pendapatnya. Hal itu wajar dan kita harus berlapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sesungguhnya perbedaan pendapat itu tidak bisa dipungkiri. Sebagian mengatakan bahwa memanjangkan kain atau celana di bawah mata kaki hukumnya mutlak haram, apapun motivasinya. Namun sebagian lainnya mengatakan tidak mutlak haram, karena sangat tergantung motivasi dan niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendapat Yang Mengatakan Mutlak Haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit untuk mencari literatur pendapat yang mengharamkan isbal secara mutlak. Fatwa-fatwa dari kalangan ulama Saudi umumnya cenderung memutlakkan keharaman isbal. Kalau boleh disebut sebagai sebuah contoh, ambillah misalnya fatwa Syeikh Bin Baz rahimahullah. Jelas dan tegas sekali beliau mengatakan bahwa isbal itu haram, apapun alasannya. Dengan niat riya' atau pun tanpa niat riya'. Pendeknya, apapun bagian pakaian yang lewat dari mata kaki adalah dosa besar dan menyeret pelakunya masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau amat serius dalam masalah ini, sampai-sampai fatwa beliau yang paling terkenal adalah masalah keharaman mutlak perilaku isbal ini. Setidaknya, fatwa inilah yang selalu dan senantiasa dicopy-paste oleh para murid dan pendukung beliau, sehingga memenuhi ruang-ruang cyber di mana-mana. Berikut ini adalah salah satu petikan fatwa beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka " [Hadits Riwayat Bukhari dalam sahihnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua hadits ini dan yang semakna dengannya mencakup orang yang menurunkan pakaiannya (isbal) karena sombong atau dengan sebab lain. Karena Rasulullah SAW mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan. Kalau melakukan Isbal karena sombong, maka dosanya lebih besar dan ancamannya lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena Rasullullah SAW tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau SAW menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju ke sana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan, dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan-lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Ucapan Nabi SAW kepada Abu Bakar As Shiddiq ra. ketika berkata: Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda: "Engkau tidak termasuk golongan orang yang melakukan itu karena sombong." [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan oleh oleh Rasulullah bahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga) tidak melakukan Isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiannya turun. Karena hadits-hadits shahih yang melarang melakukan Isbal besifat umum dari segi teks, makna dan maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap Isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da'wah hal 218]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendapat Yang Mengharamkan Bila Dengan Niat Riya'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pendapat para ulama yang tidak mengharamkan isbal asalkan bukan karena riya, di antaranya adalah pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang yang dengan sukses menulis syarah (penjelasan) kitab Shahih Bukhari. Kitab beliau ini boleh dibilang kitab syarah yang paling masyhur dari Shahih Bukhari. Beliau adalah ulama besar dan umat Islam berhutang budi tak terbayarkan kepada ilmu dan integritasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus dalam masalah hukum isbal ini, beliau punya pendapat yang tidak sama dengan Syeikh Bin Baz yang hidup di abad 20 ini. Beliau memandang bahwa haramnya isbal tidak bersifat mutlak. Isbal hanya haram bila memang dimotivasi oleh sikap riya'. Isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi sikap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau menerangkan hukum atas sebuah hadits tentang haramnya isbal, beliau secara tegas memilah maslah isbal ini menjadi dua. Pertama, isbal yang haram, yaitu yang diiringi sikap riya'. Kedua, isbal yang halal, yaitu isbal yang tidak diiringi sikap riya'. Berikut petikan fatwa Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة, وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا, لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا, فلا يحرم الجر والإسبال إذا سلم من الخيلاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa isbal izar karena sombong termasuk dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya'), meski lahiriyah hadits mengharamkannya juga, namun hadits-hadits ini menunjukkan adalah taqyid (syarat ketentuan) karena sombong. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini. Maka tidak diharamkan memanjangkan kain atau isbal asalkan selamat dari sikap sombong. (Lihat Fathul Bari, hadits 5345)&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah ulama besar di masa lalu yang menulis banyak kitab, di antaranya Syarah Shahih Muslim. Kitab ini adalah kitab yang menjelaskan kitab Shahih Muslim. Beliau juga adalah penulis kitab hadits lainnya, yaitu Riyadhus-Shalihin yang sangat terkenal ke mana-mana. Termasuk juga menulis kitab hadits sangat populer, Al-Arba'in An-Nawawiyah. Juga menulis kitab I'anatut-Thalibin dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Syarah Shahih Muslim, beliau menuliskan pendapat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما الأحاديث المطلقة بأن ما تحت الكعبين في النار فالمراد بها ما كان للخيلاء, لأنه مطلق, فوجب حمله على المقيد. والله أعلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والخيلاء الكبر. وهذا التقييد بالجر خيلاء يخصص عموم المسبل إزاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيلاء. وقد رخص النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك لأبي بكر الصديق رضي الله عنه, وقال, " لست منهم " إذ كان جره لغير الخيلاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Khuyala' adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, "Kamu bukan bagian dari mereka." Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka klaim bahwa isbal itu haram secara mutlak dan sudah disepakati oleh semua ulama adalah klaim yang kurang tepat. Sebab siapa yang tidak kenal dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumallah. Keduanya adalah begawan ulama sepanjang zaman. Dan keduanya mengatakan bahwa isbal itu hanya diharamkan bila diiringi rasa sombong. Maka haramnya isbal secara mutlak adalah masalah khilafiyah, bukan masalah yang qath'i atau kesepakatan semua ulama. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan itulah realitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat mana pun dari ulama itu, tetap wajib kita hormati. Sebab menghormati pendapat ulama, meski tidak sesuai dengan selera kita, adalah bagian dari akhlaq dan adab seorang muslim yang mengaku bahwa Muhammad SAW adalah nabinya. Dan Muhammad itu tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat mana pun dari ulama itu, boleh kita ikuti dan boleh pula kita tinggalkan. Sebab semua itu adalah ijtihad. Tidak ada satu pun orang yang dijamin mutlak kebenaran pendapatnya, kecuali alma'shum Rasulullah SAW. Selama seseorang bukan nabi, maka pendapatnya bisa diterima dan bisa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila satu ijtihad berbeda dengan ijtihad yang lain, bukan berarti kita harus panas dan naik darah. Sebaliknya, kita harus mawas diri, luas wawasan dan semakin merasa diri bodoh. Kita tidak perlu menjadi sok pintar dan merasa diri paling benar dan semua orang harus salah. Sikap demikian bukan ciri thalabatul ilmi yang sukses, sebaliknya sikap para juhala' (orang bodoh) yang ilmunya terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT selalu menambah dan meluaskan ilmu kita serta menjadikan kita orang yang bertafaqquh fid-din, Amin Ya Rabbal 'alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Sarwat, Lc (http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/7304084413-ibnu-hajar-imam-nawawi-vs-bin-baz-tentang-hukum-isbal.htm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum Wwb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-4880353545666968470?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/4880353545666968470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=4880353545666968470&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4880353545666968470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4880353545666968470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2011/02/ibnu-hajar-dan-imam-nawawi-vs-bin-baz.html' title='Ibnu Hajar dan Imam Nawawi Vs Bin Baz Tentang Hukum Isbal'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JPNT5w9akYo/TV4qWaWk8WI/AAAAAAAAAY0/ai7VpqMnIXo/s72-c/zzzzzz.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-8796989402552112105</id><published>2010-10-21T13:59:00.004+07:00</published><updated>2010-10-21T14:23:48.666+07:00</updated><title type='text'>Teknik sederhana tapi akurat dalam penentuan arah kiblat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Istiwa A'dhom, teknik sederhana tapi akurat dalam penentuan arah kiblat&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah arah kiblat masjid bisa berubah? Entah karena gempa bumi maupun bergeraknya lempeng Bumi s&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_m0K5OL6I/AAAAAAAAAXo/l38Dlg-rBtE/s1600/31148_1477365938733_1371280811_31255639_3140417_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_m0K5OL6I/AAAAAAAAAXo/l38Dlg-rBtE/s320/31148_1477365938733_1371280811_31255639_3140417_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530392651386204066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;eperti isu yang tengah berkembang? Jawabannya tentu TIDAK! Artinya pengukuran sebelumnya memang yang membuat arah kiblat masjid tersebut tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah arah kiblat cukup ke BARAT? Sebagaimana yang difatwakan oleh MUI beberapa waktu yang lalu? Jawabannya tentu TIDAK! Sebab di zaman sekarang menentukan arah kiblat semudah membalik telapak tangan (saking mudahnya RED)...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Dan dari mana saja engkau keluar (untuk shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka'bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan." (QS. Al-Baqarah : 149)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baitullah ( Ka'bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (Makkah) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi Timur dan Barat dari umatku” (HR. Al-Baihaqi)&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lg7yHxGI/AAAAAAAAAXQ/T6j0hKcyIqY/s1600/31148_1477451340868_1371280811_31255790_2418396_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lg7yHxGI/AAAAAAAAAXQ/T6j0hKcyIqY/s320/31148_1477451340868_1371280811_31255790_2418396_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530391221400749154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jika kamu mendirikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat, lalu takbir, kemudian bacalah apa yang kamu hafal dari qur’an, lalu ruku’ sampai sempurna, kemudian i’tidal sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, kemudian duduk di antara dua sujud sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, lakukanlah yang demikian itu setiap rekaat.” (HR. Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ajaran Islam, menghadap ke arah kiblat atau bangunan Ka'bah yang berada di Masjidil Haram adalah merupakan tuntutan syariah dalam melaksanakan ibadah tertentu. Berkiblat wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah Muslim. Menghadap kiblat juga merupakan ibadah sunah ketika tengah azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembeli&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lgjt82nI/AAAAAAAAAXA/eOJSiJ-Fh1Q/s1600/31148_1477546143238_1371280811_31255980_5854085_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lgjt82nI/AAAAAAAAAXA/eOJSiJ-Fh1Q/s320/31148_1477546143238_1371280811_31255980_5854085_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530391214940805746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;h binatang dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan kebiasaan yang berkembang di masyarakat, terdapat beberapa kaidah yang sering digunakan untuk mengetahui ketepatan arah kiblat. Diantaranya adalah menggunakan kompas kiblat, kompas sajadah atau peralatan canggih seperti pesawat GPS dan theodoliti. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kini, melalui teknologi penginderaan jarah jauh yang disediakan cuma-cuma oleh Google via internet menggunakan software Google Earth atau secara online disediakan oleh situs-situs seperti Qibla Locator atau RHI Qibla Locator yang memanfaatkan fasilitas Google Map Api (GMA) kita dengan mudah dapat mengetahui arah kiblat sebuah bangunan &lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lgR_bn7I/AAAAAAAAAW4/lUr5gHbEEEw/s1600/31148_1477553983434_1371280811_31256018_2881821_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lgR_bn7I/AAAAAAAAAW4/lUr5gHbEEEw/s320/31148_1477553983434_1371280811_31256018_2881821_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530391210182287282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;masjid secara visual dan jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian penggunaan kaidah-kaidah tersebut sering terkendala beberapa masalah. Kompas belumlah dikatakan sebagai alat ukur yang presisi. Sebab dalam penggunaannya, kompas sering mengalami kesalahan. Kesalahan tersebut berupa penyimpangan jarum kompas baik oleh variasi magnetik secara global maupun atraksi magnetis secara lokal oleh logam di sekitarnya. Belum lagi skala kompas biasanya terlalu kasar. Sementara, penggunaan GPS dan theodolit untuk mengukur arah kiblat walaupun bisa mendapatkan hasil yang lebih presisi namun dalam prakteknya kedua peralatan tersebut tidak mudah didapatkan karena harganya yang cukup mahal. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Walaupun Google Earth maupun fasilitas qibla locator secara online dapat membantu mengetahui arah kiblat secara visual dengan perhitungan yang sangat akurat, namun piranti tersebut bukan merupakan alat ukur yang presisi di lapangan dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lantas apakah bisa mengukur arah kiblat secara presisi dengan biaya yang murah?&lt;/span&gt; Jawabannya adalah BISA! Yaitu dengan menggunakan fenomena astronomis yang terjadi pada hari yang disebut sebagai yaumul rashdul qiblat atau hari meluruskan arah kiblat karena saat itu Matahari tepa&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_m0LD4CiI/AAAAAAAAAXg/FR5pj2BHEK0/s1600/31148_1477379579074_1371280811_31255651_886452_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 132px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_m0LD4CiI/AAAAAAAAAXg/FR5pj2BHEK0/s320/31148_1477379579074_1371280811_31255651_886452_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530392651430890018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;t di atas Ka'bah. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenomena yang terjadi 2 kali selama setahun ini dikenal juga dengan istilah Transit Utama atau Istiwa A'dhom.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istiwa, dalam bahasa astronomi adalah transit yaitu fenomena saat posisi Matahari melintasi di meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Setiap hari dalam wilayah Zona Tropis yaitu wilayah sekitar garis Katulistiwa antara 23,5° LU sampai 23,5° LS posisi Matahari saat istiwa selalu berubah, terkadang di Utara dan disaat lain di Selatan sepanjang garis Meridian. Hingga pada saat tertentu sebuah tempat akan mengalami peristiwa yang disebut Istiwa A'dhom yaitu saat Matahari berada tepat di atas kepala pengamat di lokasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini bisa difahami sebab akibat gerakan semu Matahari yang disebut sebagai gerak tahunan Matahari. Ini diakibat selama Bumi beredar mengelilingi Matahari sumbu Bumi miring 66,5° terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun Matahari terlihat mengalami pergeseran antara 23,5° LU sampai 23,5° LS. Pada saat nilai azimuth Matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa A'dhom yaitu melintasnya Matahari melewati zenit lokasi setempat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian halnya Ka'bah yang berada pada koordinat 21,4° LU dan 39,8° BT dalam setahun juga akan mengalami 2 kali peristiwa Istiwa A'dhom yaitu setiap tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 waktu setempat dan 16 Juli sekitar pukul 12.27 waktu setempat. Jika waktu tersebut dikonversi maka di Indonesia peristiwanya terjadi pada 28 Mei pukul 16.18 WIB dan 16 Juli pukul 16.27 WIB. Dengan adanya peristiwa Matahari tepat di atas Ka'bah tersebut maka umat Islam yang berada jauh dan berbeda waktu tidak lebih dari 5 atau 6 jam dapat menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan Matahari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;28 MEI 2010 @ 16:18 WIB&lt;br /&gt;16 JULI 2010 @ 16:27 WIB&lt;br /&gt;MATAHARI TEPAT DI ATAS KA'BAH&lt;br /&gt;POSISI MATAHARI = ARAH KIBLAT&lt;br /&gt;BAYANGAN MATAHARI = ARAH KIBLAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teknik penentuan arah kiblat pada hari Rashdul Qiblat sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga sudah banyak yang menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebatang tongkat lurus deng&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lhABrBXI/AAAAAAAAAXY/C1XlQmXN4WQ/s1600/31148_1477439900582_1371280811_31255746_1468317_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 224px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lhABrBXI/AAAAAAAAAXY/C1XlQmXN4WQ/s320/31148_1477439900582_1371280811_31255746_1468317_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530391222539715954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;an panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa A'dhom tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat yang benar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan dengan menggunakan software khusus yang dapat mengetahui pergerakan benda langit secara presisi kapan secara persis terjadinya Istiwa A'dham dapat diketahui. Untuk tahun 2010 ini misalnya menurut software Starrynight Pro Plus Versi 6.3.8 yaitu sebuah software astronomi yang memiliki tingkat ketepatan sangat tinggi, peristiwa Istiwa A'dhom terjadi pada 28 Mei 2010 pukul 12:17:59 WS atau 16:17:59 WIB dan 16 Juli 2010 pukul 12:26:48 WS atau 16:26:48 WIB. Namun secara praktis angka tersebut bisa dibulatkan ke menit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan adalah ke Timur, maka arah bayangan yang menuju ke tongkat adalah merupakan arah kiblat yang benar. Jika anda khawatir gagal karena Matahari terhalang oleh mendung maka toleransi pengukuran dapat dilakukan pada H-2 hingga H+2. Satu hal penting yang harus kita perhatikan adalah JAM yang kita gunakan hendaknya sudah terkalibrasi dengan tepat. Untuk mengetahui standard waktu yang tepat bisa digunakan tanda waktu saat Berita di RRI, layanan telpon 103 atau menggunakan jam atom yang disediakan oleh layanan internet.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penentuan arah kiblat menggunakan fenomena ini hanya berlaku untuk tempat-tempat yang pada saat peristiwa Istiwa A'dhom dapat secara langsung melihat Matahari. Sementara untuk daerah lain di m&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lg-W5cQI/AAAAAAAAAXI/NXUxmfTLqb8/s1600/31148_1477503502172_1371280811_31255879_7056607_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_lg-W5cQI/AAAAAAAAAXI/NXUxmfTLqb8/s320/31148_1477503502172_1371280811_31255879_7056607_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530391222091870466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ana saat itu Matahari sudah terbenam seperti Wilayah Indonesia Timur (WIT) praktis teknik ini tidak dapat digunakan. Maka ada fenomena lain yang dapat digunakan oleh daerah-daerah tersebut sehingga dapat mengetahui arah kiblat secara presisi. Fenomena itu adalah saat Matahari berada tepat di bawah Ka'bah yaitu saat Istiwa A'dhom terjadi di titik Nadir (Antipode) Ka'bah yang terjadi pada setiap tanggal 13 Januari dan 28 November.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa A'dhom :&lt;br /&gt;1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/ langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sediakan tongkat lurus panjang minimal 1 meter. Akan lebih bagus jika menggunakan benang besar yang diberi bandul sehingga tegak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Siapkan jam/arloji yang sudah dicocokkan / dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/ televisi/ internet atau telpon ke 103.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tentukan lokasi pengukuran; di dalam masjid (diutamakan) atau di sisi Selatan Masjid atau di sisi Utara atau di halaman depan masjid. Yang penting tempat tersebut datar dan masih mendapatkan penyinaran Matahari saat peristiwa Istiwa A'dhom berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pasang tongkat secara tegak dengan bantuan lot tukang (jika menggunakan tongkat) atau pasang benang lengkap dengan bandul serta penyangganya di tempat tersebut. (Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya fenomena agar tidak terburu-buru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tunggu sampai saat Istiwa A'dhom terjadi dan amatilah bayangan Matahari yang terjadi. Berilah tanda menggunakan spidol, benang, lakban, penggaris atau alat lain yang dapat membuat tanda lurus. Maka itulah arah kiblat yang sebenarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Gunakan benang, sambungan pada tegel lantai, atau teknik lain yang dapat meluruskan arah kiblat ini ini ke dalam masjid. Intinya yang hendak kita ukur sebenarnya adalah garis shaff yang posisinya tegak lurus (90°) terhadap arah kiblat. Maka setelah garis arah kiblat kita dapatkan untuk membuat garis shaff dapat dilakukan dengan mengukur arah sikunya dengan bantuan benda-benda yang memiliki sudut siku misalnya lembaran triplek atau kertas karton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Semoga cuaca cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan lurusnya arah kiblat kita, ibadah shalat yang kita kerjakan menjadi lebih afdhal dan doanya lebih dikabulkan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lengkap hubungi Rukyat Hilal Indonesia (RHI) di 0274-552630 atau 08122743082.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link Terkait:&lt;br /&gt;Qibla Locator&lt;br /&gt;RHI Qibla Locator&lt;br /&gt;Arah Kiblat Qiblati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-8796989402552112105?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/8796989402552112105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=8796989402552112105&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8796989402552112105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8796989402552112105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/10/teknik-sederhana-tapi-akurat-dalam.html' title='Teknik sederhana tapi akurat dalam penentuan arah kiblat'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/TL_m0K5OL6I/AAAAAAAAAXo/l38Dlg-rBtE/s72-c/31148_1477365938733_1371280811_31255639_3140417_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-3871891512708104173</id><published>2010-08-31T09:14:00.002+07:00</published><updated>2010-08-31T09:22:55.123+07:00</updated><title type='text'>Berinteraksi dengan Al Qur'an</title><content type='html'>Penulis: Dr. Yusuf al Qaradhawi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya." ( Al Kahfi: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salawat serta salam bagi Nabi yang mu'jizatnya Al Qur'an, imamnya Al Qur'an, akhlaqnya Al Qur'an, dan penghias dadanya, cahaya hatinya juga penghilang kesedihannya adalah Al Qur'an: Nabi Muhammad bin Abdullah, dan keluarganya serta para sahabatnya, yang beriman dengannya, mendukung dan membantunya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan kepadaanya, mereka adalah orang-orang yang beruntung, dan seluruh orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;Amma ba'du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb kita telah memberikan kemuliaan kepada kita --sebagai kaum Muslimin-- dengan menganugerahkan kitab suci yang terbaik yang diturunkan kepada manusia. Rabb kita juga, telah memuliakan kita dengan mengutus nabi yang terbaik yang pernah diutus kepada manusia. Sesuai firman Allah SWT:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?" (Al Anbiyaa: 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitalah, kaum muslimin, satu-satunya umat yang memeliki manuskrip langit yang paling autentik, yang mengandung firman-firman Allah SWT yang terakhir, yang diberikan untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Dan anugerah itu terus terpelihara dari perubahan dan pemalsuan kata maupun makna. Karena Allah SWT. telah menjamin untuk memeliharanya, dan tidak dibebankan tugas itu kepada siapapun dari sekalian makhluk-Nya:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al Hijr: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an adalah kitab Ilahi seratus persen: "(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu." (Huud: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya Al Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." ( Fush-shilat: 41-42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada di dunia ini, suatu kitab, baik itu kitab agama atau kitab biasa, yang terjaga dari perubahan dan pemalsuan, kecuali Al Qur'an. Tidak ada seorangpun yang dapat menambah atau mengurangi satu hurup-pun darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayatnya dibaca, didengarkan, dihapal dan dijelaskan, sebagaimana bentuknya saat diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad Saw, dengan perantaraan ruh yang terpercaya (Jibril).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quran berisikan seratus empat belas surah. Seluruhnya dimulai dengan basmalah (bismillahirrahmanirrahim). Kecuali satu surah saja, yaitu surah at Taubah. Ia tidak dimulai dengan basmalah. Dan tidak ada seorang pun yang berani untuk menambahkan basmalah ini pada surah at Taubah, baik dengan tulisan atau bacaan. Karena, dalam masalah Al Qur'an ini, tidak ada tempat bagi akal untuk campur tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian kaum muslimin terhadap Al Quran sedemikian besarnya, hingga mereka juga menghitung ayat-ayatnya --bahkan kata-katanya, dan malah hurup-hurupnya--. Maka bagaimana mungkin seseorang dapat menambah atau mengurangi suatu kitab yang dihitung kata-kata dan hurup-hurupnya itu?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak ada di dunia ini suatu kitab yang dihapal oleh ribuan dan puluhan ribu orang, di dalam hati mereka, kecuali Al Qur'an ini, yang telah dimudahkan oleh Allah SWT untuk diingat dan dihapal. Maka tidak aneh jika kita menemukan banyak orang, baik itu lelaki maupun perempuan, yang menghapal Al Qur'an dalam mereka. Ia juga dihapal oleh anak-anak kecil kaum Muslimin, dan mereka tidak melewati satu hurup-pun dari Al Qur'an itu. Demikian juga dilakukan oleh banyak orang non Arab, namun mereka tidak melewati satu hurup-pun dari Al Qur'an itu. Dan salah seorang dari mereka, jika Anda tanya: "siapa namamu?" --dengan bahasa Arab-- niscaya ia tidak akan menjawab! (Karena tidak paham bahasa Arab!, penj.). Ia menghapal Kitab Suci Rabbnya semata untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, meskipun ia tidak memahami apa yang ia baca dan ia hapal, karena ia tertulis dengan bukan bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an tidak semata dijaga makna-makna, kalimat-kalimat serta lafazh-lafazhnya saja, namun juga cara membaca dan makhraj hurup-hurupnya. Seperti kata mana yang harus madd (panjang), mana yang harus ghunnah (dengung), izhhar (jelas), idgham (digabungkan), ikhfa (disamarkan) dan iqlab (dibalik). Atau seperti yang digarap oleh suatu ilmu khusus yang dikenal dengan "ilmu tajwid Al Qur'an".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga rasam (metode penulisan) Al Qur'an, masih tetap tertulis dan tercetak hingga saat ini, seperti tertulis pada era khalifah Utsman bin Affan r.a., meskipun metode dan kaidah penulisan telah berkembang jauh. Hingga saat ini, tidak ada suatu pemerintah muslim atau suatu organisasi ilmiah pun, yang berani merubah metode penulisan Al Qur'an itu, dan menerapkan kaidah-kaidah penulisan yang berlaku bagi seluruh buku, media cetak, koran dan lainnya yang ditulis dan dicetak, bagi Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menurunkan Al Qur'an untuk memberikan kepada manusia tujuan yang paling mulia, dan jalan yang paling lurus.&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (Al Israa: 9) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." ( Al Maaidah: 15-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an adalah "cahaya" yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, di samping cahaya fithrah dan akal: &lt;br /&gt;"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)." (An Nuur: 35). Dan Al Qur'an mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai cahaya, dalam banyak ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam firman Allah SWT:&lt;br /&gt;"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)." (An Nisaa: 174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an) yang telah Kami turunkan." (At Taghaabun: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berfirman kepada para sahabat Rasulullah Saw dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;"Dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an)." (Al A'raaf: 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara karakteristik cahaya adalah: Dirinya sendiri telah jelas, kemudian ia memperjelas yang lain. Ia membuka hal-hal yang samar, menjelaskan hakikat-hakikat, membongkar kebatilan-kebatilan, menolak syubhat (kesamaran), menunjukkan jalan bagi orang-orang yang sedang kebingungan saat mereka gamang dalam menapaki jalan atau tidak memiliki petunjuk jalan, serta menambah jelas dan menambah petunjuk bagi orang yang telah mendapatkan petunjuk. Dan jika Al Qur'an mendeskripsikan dirinya sebagai "cahaya", dan dia adalah "cahaya yang istimewa", ia juga mendeskripsikan Taurat dengan kata yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)."&lt;br /&gt;Seperti dalam firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)". (Al Maaidah: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga mendeskripsikan Injil seperti itu, seperti dalam firman Allah SWT tentang Nabi 'Isa:&lt;br /&gt;"Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) ." (Al Maidah: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan dalam dua pengungkapan itu menunjukkan perbedaan antara Al Qur'an dengan kitab-kitab suci lainnya. Seperti diungkapkan oleh Al Bushiry dalam Lamiah-nya:&lt;br /&gt;"Maha Besar Allah, sesungguhnya agama Muhammad Dan kitab sucinya adalah kitab suci yang paling lurus dan paling teguh Jangan sebut kitab-kitab suci lainnya di depannya Karena, saat mentari pagi telah bersinar, ia akan memadamkan pelita-pelita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu karena Al Qur'an ini datang untuk membenarkan kitab-kitab suci yang telah turun sebelumnya. Yaitu yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah dan akhlak, sebelum kitab-kitab itu dipalsukan dan diubah tangan manusia. Al Qur'an juga mengungguli kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dengan mengoreksi dan meluruskan tambahan-tambahan dan perubahan-perubahan yang telah disisipkan oleh manusia dalam kitab-kitab itu. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu." (Al Maaidah: 48) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an --sebagaimana ia diturunkan oleh Allah SWT-- mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibanding kitab suci lainnya. Ia adalah kitab Ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat, kitab yang memberikan penjelasan dan dimudahkan untuk dipahami, kitab suci yang dijamin pemeliharaan keautentikannya, kitab suci bagi agama seluruhnya, kitab bagi seluruh zaman, dan kitab suci bagi seluruh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an juga mempunyai maksud dan tujuan yang dibidiknya, di antaranya: meluruskan kepercayaan-kepercayaan dan pola pandang manusia tentang Tuhan, kenabian, dan balasan atas amal perbuatan, serta meluruskan pola pandangan tentang manusia, kemuliaannya dan menjaga hak-haknya, terutama bagi kalangan yang lemah dan tidak berpunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan Rabbnya, agar manusia hanya menyembah-Nya semata dan bertaqwa kepada-Nya dalam seluruh urusannya.&lt;br /&gt;Al Qur'an juga bertujuan untuk membersihakan jiwa manusia, yang jika jiwa itu telah bersih niscaya bersih dan baiklah seluruh masyarakat. Dan jika jiwa itu rusak, niscaya rusaklah masyarakat seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga berusaha membentuk keluarga yang kemudian menjadi pangkal kedirian suatu masyarakat. Juga mengajarkan sikap adil terhadap kalangan perempuan, yang merupakan pokok utama dalam bangunan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an juga membangun umat yang saleh, yang dianugerahkan amanah untuk menjadi saksi bagi manusia, yang diciptakan untuk memberikan manfaat bagi manusia dan memberikan petunjuk bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, mengajak untuk menciptakan dunia manusia yang saling kenal mengenal dan tidak saling mengisolasi diri, saling memberi maaf dan tidak saling membenci secara fanatik, serta untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berkewajiban untuk memperlakukan Al Qur'an ini secara baik: dengan menghapal dan mengingatnya, membaca dan mendengarkannya, serta mentadabburi dan merenungkannya.&lt;br /&gt;Kita juga berkewajiban untuk berlaku baik terhadapnya dengan memahami dan menafsirkannya. Tidak ada yang lebih baik dari usaha kita untuk mengetahui kehendak Allah SWT terhadap kita. Dan Allah SWT menurunkan kitab-Nya agar kita mentadabburinya, memahami rahasia-rahasianya, serta mengeksplorasi mutiara-mutiara terpendamnya. Dan setiap orang berusaha sesuai dengan kadar kemampuannya.&lt;br /&gt;Namun yang disayangkan, dalam bidang ini telah terjadi kerancuan yang berbahaya, yaitu dalam memahami dan menafsirkan Al Qur'an. Oleh karena itu harus dibuat rambu-rambu dan petunjuk yang mampu menjaga dari kekeliruan dalam usaha ini, serta perlu diberikan peringatan tentang ranjau-ranjau yang menghadang di jalan, yang dapat berakibat patal jika dilanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selayaknya umat Al Qur'an mengalami hal yang sama yang pernah terjadi dengan umat Taurat, yang diungkapkan oleh Al Qur'an dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (Al Jumu'ah: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus berlaku baik terhadap Al Qur'an dengan mengikuti petunjuknya, mengerjakan ajarannya, menghukum dengan syari'atnya serta mengajak manusia mengikuti petunjuknya. Ia adalah manhaj bagi kehidupan individu, undang-undang bagi aturan politik, serta petunjuk dalam berdakwah kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang berusaha dilakukan buku ini dalam empat bab utamanya, dengan bertumpu --terutama-- pada Al Qur'an itu sendiri, karena ia adalah objek kita, namun ia juga petunjuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat kita pada abad-abad pertama --yang merupakan abad-abad yang paling utama-- telah berinteraksi dengan baik terhadap Al Qur'an. Mereka berlaku baik dalam memahaminya, mengetahui tujuan-tujuannya, berlaku baik dalam mengimplementasikannya secara massive dalam kehidupan mereka, dalam bidang-bidang kehidupan yang beragam, serta berlaku baik pula dalam mendakwahkannya. Contoh terbaik hal itu adalah para sahabat. Kehidupan mereka telah diubah oleh Al Quran dengan amat drastis dan revolusioner. Al Qur'an telah merubah mereka dari perilaku-perilaku jahiliyah menuju kesucian Islam, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke dalam cahaya. Kemudian mereka diikuti oleh murid-murid mereka dengan baik, untuk selanjutnya murid-murid generasi berikutnya mengikuti murid-murid para sahabat itu dengan baik pula. Melalui mereka itulah Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia, membebaskan negeri-negeri, memberikan kedudukan bagi mereka di atas bumi, sehingga mereka kemudian mendirikan negara yang adil dan baik, serta peradaban ilmu dan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datang generasi-generasi berikutnya, yang menjadikan Al Qur'an terlupakan, mereka menghapal hurup-hurupnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al Qur'an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al Qur'an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al Qur'an. Di antara merek ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al Qur'an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al Qur'an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikut dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT:&lt;br /&gt;"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al An'aam: 155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jalan untuk membangkitkan umat dari kelemahan, ketertinggalan dan keterpecah-belahan mereka selain dari kembali kepada Al Qur'an ini. Dengan menjadikannya sebagai panutan dan imam yang diikuti. Dan cukuplah Al Qur'an sebagai petunjuk:&lt;br /&gt;"Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?." (An Nisaa: 122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berinteraksi dengan Al Qur'an &lt;br /&gt;Penulis: Dr. Yusuf al Qaradhawi &lt;br /&gt;Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani dan M. Yusuf Wijaya &lt;br /&gt;Penerbit: Gema Insani Press &lt;br /&gt;Tahun Terbit: Jakarta, 1999&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-3871891512708104173?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/3871891512708104173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=3871891512708104173&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3871891512708104173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3871891512708104173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/08/berinteraksi-dengan-al-quran.html' title='Berinteraksi dengan Al Qur&apos;an'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-4705727495842399666</id><published>2010-07-28T13:38:00.003+07:00</published><updated>2010-07-28T13:53:03.124+07:00</updated><title type='text'>Meninjau Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban</title><content type='html'>Meninjau Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: &lt;br /&gt;Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt; Hadits ‘Aisyah, ia berkata,&lt;br /&gt;“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam.” Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus sanadnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;br /&gt;Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah hadits yang dho’if]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: &lt;br /&gt;Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini bermasalah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di malam Nishfu Sya’ban,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni orang yang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia meninggalkan orang yang pendendam.” Al Baihaqi mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini pun dho’if].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam:&lt;br /&gt; Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al Madani. Ada yang menyebut namanya adalah ‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad. Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di antara maudhu’ dan dho’if]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan Ulama Mengenai Kelemahan Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban&lt;br /&gt;Ibnu Rajab di beberapa tempat dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif memberikan tanggapan tentang hadits-hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mengenai hadits ‘Ali tentang keutamaan shalat dan puasa Nishfu Sya’ban, Ibnu Rajab mengatakan bahwa hadits tersebut dho’if.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.”[3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tanggapan kami, “Ibnu Hibban adalah di antara ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang bergampang-gampangan dalam menshahihkan hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban perlu dicek kembali.”]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tanggapan bagus pula dari ulama belakangan, yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebagian ulama ada yang menshahihkan sebagian hadits yang telah dibahas oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menshahihkan hadits Abu Musa Al Asy’ari di atas. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut shahih karena diriwayatkan dari banyak sahabat dari berbagai jalan yang saling menguatkan, yaitu dari sahabat Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, ‘Abdullah bin ‘Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakr Ash Shifdiq, ‘Auf bin Malik dan ‘Aisyah. Lalu beliau rahimahullah perinci satu per satu masing-masing riwayat.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagaimana dijelaskan oleh Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, hadits Abu Musa Al Asy’ari adalah munqothi’ (terputus sanadnya). Hadits yang semisal itu pula tidak lepas dari kedho’ifan. Sehingga kami lebih cenderung pada pendapat yang dipegang oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi tersebut. Ini serasa lebih menenangkan karena dipegang oleh kebanyakan ulama. Itulah mengapa beliau, penulis Tuhfatul Ahwadzi memberi kesimpulan terakhir bahwa tidak ada hadits yang shahih yang membicarakan keutamaan bulan Sya’ban. Wallahu a’lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ulama Mengenai Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas fuqoha berpendapat dianjurkannya menghidupkan malam nishfu sya’ban. Dasar dari hal ini adalah hadits dho’if yang telah diterangkan di atas, yaitu dari Abu Musa Al Asy’ari, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Dan juga beberapa hadits dho’if lainnya jadi pegangan semacam hadits dari ‘Ali bin Abi Tholib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Ghozali menjelaskan tata cara tertentu dalam menghidupkan malam nishfu sya’ban dengan tata cara yang khusus. Namun ulama Syafi’iyah mengingkari tata cara yang dimaksudkan, ulama Syafi’iyah menganggapnya sebagai bid’ah qobihah (bid’ah yang jelek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Ats Tsauri mengatakan bahwa shalat Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang dibuat-buat yang qobihah (jelek) dan mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas fuqoha memakruhkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban secara berjama’ah. Ada pendapat yang tegas dari ulama Hanafiyah dan Malikiyah dalam hal ini, mereka menganggap menghidupkan malam Nishfu Sya’ban secara berjama’ah adalah bid’ah. Para ulama yang juga melarang hal ini adalah Atho’ ibnu Abi Robbah, dan Ibnu Abi Malikah.&lt;br /&gt;Adapun Al Auza’i, beliau berpendapat bahwa menghidupkan malam nishfu sya’ban secara berjama’ah dengan shalat jama’ah di masjid adalah suatu yang dimakruhkan. Alasannya, menghidupkan dengan berjama’ah semacam ini tidak dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari seorang sahabat pun.&lt;br /&gt;Sedangkan Kholid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir, Ishaq bin Rohuyah menyunnahkan menghidupkan malam nishfu sya’ban secara berjama’ah.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita melihat dari berbagai pendapat di atas, jika ulama tersebut menganggap dianjurkannya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka ada dua cara untuk menghidupkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dianjurkan menghidupkan secara berjama’ah di masjid dengan melaksanakan shalat, membaca kisah-kisah atau berdo’a. Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban semacam ini terlarang menurut mayoritas ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dianjurkan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, namun tidak secara berjama’ah, hanya seorang diri. Inilah pendapat salah seorang ulama negeri Syam, yaitu Al Auza’i. Pendapat ini dipilih pula oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Ma’arif.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nishfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nishfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai hujjah sehingga tidak perlu diingkari.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyebutkan perkataan Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pun lantas mengomentari pendapat Al Auza’i dan Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan, “Dalam perkataan Ibnu Rajab sendiri terdapat kata tegas bahwa tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang shahih tentang malam Nishfu Sya’ban. Adapun pendapat yang dipilih oleh Al Auza’i rahimahullah mengenai dianjurkannya ibadah sendirian (bukan berjama’ah) dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Rajab, maka ini adalah pendapat yang aneh dan lemah. Karena sesuatu yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakan suatu ibadah ketika itu, baik secara sendiri atau berjama’ah, baik pula secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Nishfu Sya’ban Sama Seperti Malam Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, jika memang kita memilih pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bolehnya menghidupkan malam nishfu sya’ban, maka sebaiknya tidak dilakukan secara berjama’ah baik dengan shalat ataupun dengan membaca secara berjama’ah do’a malam nishfu sya’ban. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.&lt;br /&gt;Sedangkan bagaimanakah menghidupkan malam tersebut secara sendiri-sendiri atau dengan jama’ah tersendiri? Jawabnya, sebagian ulama membolehkan hal ini. Namun yang lebih menenangkan hati kami, tidak perlu malam Nishfu Sya’ban diistimewakan dari malam-malam lainnya. Karena sekali lagi, dasar yang dibangun dalam masalah keutamaan malam nishfu Sya’ban dan shalatnya adalah dalil-dalil yang lemah atau hanya dari riwayat tabi’in saja, tidak ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar sahabat yang shahih yang menerangkan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi di sini bukan maksud kami adalah tidak perlu melaksanakan shalat di malam Nishfu Sya’ban. Bukan sama sekali. Maksud kami adalah jangan khususkan malam Nishfu Sya’ban lebih dari malam-malam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan yang amat bagus dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, beliau rahimahullah mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, sebenarnya keutamaan malam Nishfu Sya’ban sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.&lt;br /&gt;‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sajian ini bermanfaat untuk memperbaiki amal ibadah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi wa tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;2. Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Syaikh Sholih Al Munajjid, www.islamqa.com/ar.&lt;br /&gt;3. Lathoif Al Ma’arif fii Maa lii Mawaasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H.&lt;br /&gt;4. Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin.&lt;br /&gt;5. Majmu’ Al Fatawa, Ahmad Ibnu Taimiyah,Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.&lt;br /&gt;6. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Mawqi’ Al Ifta’.&lt;br /&gt;7. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-4705727495842399666?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/4705727495842399666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=4705727495842399666&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4705727495842399666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4705727495842399666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/07/meninjau-hadits-keutamaan-malam-nishfu.html' title='Meninjau Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-8750575157691052659</id><published>2010-07-28T13:03:00.001+07:00</published><updated>2010-07-28T13:16:45.469+07:00</updated><title type='text'>Setelah Shalat Witir, Bolehkah Shalat Sunnah Lagi?</title><content type='html'>Setelah Shalat Witir, Bolehkah Shalat Sunnah Lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai masalah ini, ada dua pendapat di antara para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengatakan bahwa boleh melakukan shalat sunnah lagi sesukanya, namun shalat witirnya tidak perlu diulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini adalah yang dipilih oleh mayoritas ulama seperti ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah dan pendapat ini juga menjadi pendapat An Nakho’i, Al Auza’i dan ‘Alqomah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari Abu Bakr, Sa’ad, Ammar, Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah. Dasar dari pendapat ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ‘Aisyah menceritakan mengenai shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim no. 738)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dari Ummu Salamah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat dua raka’at sambil duduk setelah melakukan witir (HR. Tirmidzi no. 471. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kalian yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka berwitirlah di awal malam lalu tidurlah, ...” (HR. Tirmidzi no. 1187. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipahami dari hadits ini bahwa jika orang tersebut bangun di malam hari –sebelumnya sudah berwitir sebelum tidur-, maka dia masih diperbolehkan untuk shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil yang mengatakan bahwa shalat witirnya tidak perlu diulangi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengatakan bahwa tidak boleh melakukan shalat sunnah lagi sesudah melakukan shalat witir kecuali membatalkan shalat witirnya yang pertama, kemudian dia shalat dan witir kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maksudnya di sini adalah jika sudah melakukan shalat witir kemudian punya keinginan untuk shalat sunnah lagi sesudah itu, maka shalat sunnah tersebut dibuka dengan mengerjakan shalat sunnah 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi. Kemudian setelah itu, dia boleh melakukan shalat sunnah (2 raka’at – 2 raka’at) sesuka dia, lalu dia berwitir kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat lainnya dari ulama-ulama Syafi’iyah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Utsman, ‘Ali, Usamah, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari pendapat ini adalah diharuskannya shalat witir sebagai penutup shalat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;“Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang Terkuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua pendapat di atas, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama dengan beberapa alasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah setelah beliau mengerjakan shalat witir. Perbuatan beliau ini menunjukkan bolehnya hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pendapat kedua yang membatalkan witir pertama dengan shalat 1 raka’at untuk menggenapkan raka’at, ini adalah pendapat yang lemah ditinjau dari dua sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Witir pertama sudah dianggap sah. Witir tersebut tidaklah perlu dibatalkan setelah melakukannya. Dan tidak perlu digenapkan untuk melaksanakan shalat genap setelahnya.&lt;br /&gt;2. Shalat sunnah dengan 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi tidaklah dikenal dalam syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua alasan inilah yang menunjukkan lemahnya pendapat kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembahasan kali ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil.&lt;br /&gt;Pertama, bolehnya melakukan shalat sunnah lagi sesudah shalat witir.&lt;br /&gt;Kedua, diperbolehkannya hal ini juga dengan alasan bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’at sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika kita telah melakukan shalat tarawih ditutup witir bersama imam masjid, maka di malam harinya kita masih bisa melaksanakan shalat sunnah lagi. Sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan imam masjid ketika imam baru melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at dengan niatan ingin melaksanakan shalat witir di rumah sebagai penutup ibadah atau shalat malam. Ini tidaklah tepat karena dia sudah merugi karena meninggalkan imam sebelum imam selesai shalat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Padahal pahala shalat bersama imam hingga imam selesai shalat malam disebutkan dalam hadits, “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adapun hadits Bukhari-Muslim yang mengatakan “Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir”, maka menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam di sini dihukumi sunnah (dianjurkan) dan bukanlah wajib karena terdapat dalil pemaling dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 395).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan kami dalam rangka menjawab pertanyaan seputar shalat tarawih yang kami bahas.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat dan menjadi ilmu yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah&lt;br /&gt;Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 386-395, Al Maktabah At Taufiqiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan pada hari Jum’at Al Mubarok, 7 Ramadhan 1430 H di Panggang, Gunung Kidul&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-8750575157691052659?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/8750575157691052659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=8750575157691052659&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8750575157691052659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8750575157691052659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/07/setelah-shalat-witir-bolehkah-shalat.html' title='Setelah Shalat Witir, Bolehkah Shalat Sunnah Lagi?'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-4759863966950381551</id><published>2010-07-23T08:42:00.002+07:00</published><updated>2010-07-23T09:03:14.255+07:00</updated><title type='text'>Manfaat Dzikir dan mengingat Allah</title><content type='html'>suatu perkara yang sangat besar serta dapat berfungsi melindungi hati manusia adalah zikir kepada Allah. barangsiapa yang membiasakan lisannya untuk mengingat Allah, niscaya Allah akan menjaga lisannya dari mengucapkan perkataan yang batil dan sia-sia. dan barangsiapa yang membiasakan lisannya untuk mengatakan perkataan yang batil, sia-sia serta kata-kata keji, niscaya dia tidak akan mampu mengucapkan zikir. tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di antara manfaat zikir ialah:Allah Ta'ala berfitman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...Bukankah dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;majelis zikir adalah majelis para malaikat, sedangkan majelis yang hanya berisikan perkataan sia-sia dan melalaikan adalah majelis setan.&lt;br /&gt;zikir kepada Allah dapat membuat wajah lebih berseri-seri di dunia dan akan bercahaya kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak mengucapkan zikir menjadikan diri selamat dari sifat-sifat orang munafik, karena orang munafik sangat sedikit mengingat Allah.&lt;br /&gt;zikir adalah makanan untuk hati dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memperbanyak zikir akan membuat jauh dari perbuatan menggunjing, mengadu domba, berbohong, serta berkata keji dan batil.&lt;br /&gt;orang yang mengucapkan zikir akan merasa senang dan menyenagkan teman duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zikir adalah sarana untuk memetik pohon surga.&lt;br /&gt;zikir adalah ibadah yang paling ringan, namun sangat agung dan mulia.&lt;br /&gt;sesungguhnya dalam zikir terdapat kenikmatan dan tidak ada amalan lain yang dapat menyerupainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zikir dapa mengusir, mengekang, dan mengalahkan setan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nabi bersabda, "barangsiapa yang mengucapkan 'subhanallah wa bihamdihi' dalam                 satu hari sebanyak seratus kali, maka dosa-dosanya akan dihapuskan walaupun                 sebanyak buih di lautan." (HR. Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  11.     zikir dapat menghapus dan menghilangkan dosa-dosa, karena zikir merupakan                     kebaikan yang paling besa, sedangkan kebaikan itu bisa menghapuskan             kejelekan-kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  12.     zikir dapat memperlancar rezeki.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.     zikir dapat menerangi wajah dan hati. &lt;br /&gt;14. zikir dapat menguatkan hati dan badan.   &lt;br /&gt;15. zikir dapat membuat Allah ridha.   &lt;br /&gt;16. zikir bisa menjadikan seorang hamba dekat dengan Allah.   &lt;br /&gt;17. zikir bisa membantu pintu yang sangat agung, yaitu pintu makrifat. setiap kali seorang             hamba memperbanyak zikir, maka dia akan semakin mengetahui makrifat.   &lt;br /&gt;18. zikir dapat membuat hamba tetap taap kepada Allah, yaitu dengan kembali kepadanya.   &lt;br /&gt;19. zikir dapat membuat hati lebih hidup.   &lt;br /&gt;20. zikir dapat menyelamatkan seorang hamba dari siksa Allah.   &lt;br /&gt;21. sesungguhnya jika seorang hamba mengingat Allah di waktu longgar, maka Allah akan             mengingat hamba tersebut tatkala dia berada dalam kesusahan.   &lt;br /&gt;22. zikir dapat menyebabkan hadirnya perasaan tenang dan diliputi rahmat Allah serta                 dinaungi malaikat.   &lt;br /&gt;23. zikir menjadi cahaya bagi orang yang mengucapkannya pada waktu di dunia dan dapat             menjadi penerang baginya di dalam kubur, serta menjadi penerang dihari kiamat                     tatkala orang tersebut menyeberang di atas jembatan sirath.    &lt;br /&gt;24. sesungguhnya hati itu memiliki sesuatu yang dibutuhkan dan tidak ada yang dapat                 memenuhinya sedikitpun, kecuali dengan mengingat Allah.   &lt;br /&gt;25. sesungguhnya zikir dapat membuat hati terjaga dari tidurnya serta membangkitkan                 dari rasa capek.   &lt;br /&gt;26. sesungguhnya pahala zikir dapat menyemai amalan memerdekakan budak dan                         menafkahkan semua hartanya di jalan Allah. pahala zikir juga menyemai pahala                     berperang di jalan Allah.    27. zikir merupakan bentuk syukur yang paling tinggi.   &lt;br /&gt;28. zikir merupakan penawar dan obat hati.   &lt;br /&gt;29. sesungguhnya malaikat memintakan ampunan bagi orang yang mengucapkannya                     sebagaimana para malaikat juga memintakan ampun bagi orang yang berobat.   &lt;br /&gt;30. zikir lebih utama daripada do'a.   &lt;br /&gt;31. terkadang hati manusia mengeras, tidak ada yang dapat membuatnya luluh kecuali             dengan mengucapkan zikir dan mengingat Allah.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; nabi bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam ahmaddan tirmidzi, hadis ini         adalah hadis hasan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaklah dia             memulai dengan bertahmid kepada Allah azza wa jalla dan menyanjungNya. kemudian         hendaklah orang tersebut membaca shalawat untuk nabi. kemudian berdoa kepada             Allah dengan apapun yang dia inginkan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. sesungguhnya mengingat Allah dapat memudahkan hal yang susah dan meringankan         kesukaran. dan juga bisa meringankan hal-hal yang memberatkan.   &lt;br /&gt;33. dengan zikir, Allah bisa menjadi percaya kepada hambaNya.   &lt;br /&gt;34. sesungguhnya rumah-rumah surga dibangun dengan zikir. jika seorang hamba berhenti         dari zikir, maka malaikat akan berhenti dari membangunkan rumah di surga untukNya.   &lt;br /&gt;35. sesungguhnya zikir dapat menjadi penghalang antara seorang hamba dengan neraka                 jahannam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari kitab al-wabil as-Shayyibkarya Ibnu Qayyimmanshur abdul aziz bin al-ijyan. 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara: ibnu Qayyim al-jauziyah. surakart: ziyad visi        media.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-4759863966950381551?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/4759863966950381551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=4759863966950381551&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4759863966950381551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4759863966950381551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/07/manfaat-dzikir-dan-mengingat-allah.html' title='Manfaat Dzikir dan mengingat Allah'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-1142371810764765110</id><published>2010-06-02T10:49:00.003+07:00</published><updated>2010-06-02T11:06:40.628+07:00</updated><title type='text'>Iman Anda Sedang Lemah</title><content type='html'>22 Tanda Iman Anda Sedang Lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Mochamad Bugi     dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedanglemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini.Tanda-tanda tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah!Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadikebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosaakan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan beranimelakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, "Setiap umatkumendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yangterang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-teranganjika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian diaberada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun diaberkata, `Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,'padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian diamenyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya."(Bukhari, 10/486)Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pezina yang di saat berzina dalamkeadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaanberiman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalamkeadaan beriman." (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampaimenyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati danmemperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit danmenguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk kedalam ayat ini, "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sepertibatu, bahkan lebih keras lagi." (Al-Baqarah:74)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalamshalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur'an. Melamun dalam doa.Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaansaja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh.Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, "Tidak akan diterima doa darihati yang lalai dan main-main." (Tirmidzi, hadits nomor 3479)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah.Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu.Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis.Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada.Menunda-nunda pergi shalat Jum'at dan lebih suka barisan shalat yangpaling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang palingbelakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw.bersabda, "Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nundamengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan merekadi dalam neraka." (Abu Daud, hadits nomor 679)Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orangmunafik. "Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiridengan malas."Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadahrawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera kemasjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalatdhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasaRamadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangaiberubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Sukamemperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullahsaw. berkata, "Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati."(As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur'an.Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takutdengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayatperintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat danneraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untukmendengarkan atau membaca Al-Qur'an. Jangan sampai Anda membukamushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.Ketahuilah, Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yangberiman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hatimereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (Al-Anfal:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoakepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yangpaling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pulaAnda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal initelah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orangmunafik dengan firman-Nya, "Dan, mereka tidak menyebut Allah kecualihanya sedikit sekali." (An-Nisa:142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah.Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukannahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila dosa dikerjakan dibumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadangbeliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidakmenyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridhaterhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orangyang menyaksikannya." (Abu Daud, hadits nomor 4345).Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, "Barangsiapa di antara kalianyang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itudengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidaksanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman."(Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebettampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab.Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untukmengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkanorang. Narsis banget!Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi denganangkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombonglagi membanggakan diri." (Luqman:18)Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memujiorang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, "Sungguh engkautelah membinasakan dia atau memenggal punggungnya." (Bukhari, haditsnomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, "Sesungguhnya kamu sekalianakan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikanpenyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama danalangkah buruknya yang terakhir." (Bukhari, nomor 6729)"Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentangkepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela,keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hatikiamat, kecuali orang yang adil." (Shahihul Jami, 1420).Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabdaRasulullah saw. yang berbunyi, "Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atauenam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan `Laa ilaahaillallah', dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yangmengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang darikeimanan." (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)"Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?" tanya Rasulullahsaw. Para sahabat menjawab, "Ya." Rasulullah saw. bersabda, "Yaitusetiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong." (Bukhari, hadits 4537,dan Muslim, hadits nomor 5092)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw.ini, "Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hambaselama-lamanya." (Shahihul Jami', 2678)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat,Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. "Hai orang-orang yangberiman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amatbesar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiadakamu perbuat." (Ash-Shaff:2-3)Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkandengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan.Jadi, harus konsisten.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesamamuslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yanglebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.Ingatlah! Kata Rasulullah saw, "Tidak ada iri yang dibenarkan kecualiterhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, iamenghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikanilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada oranglain." (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Orang Islam yang manakahyang paling baik?" Rasulullah saw. menjawab, "Orang yang muslimin lainselamat dari lisan dan tangannya." (Bukhari, hadits nomor 9 danMuslim, hadits nomor 57)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak maumelihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan entengmelakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah!Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Barangsiapa yang berada dalamsyubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yangmenggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapatbegitu mudah untuk merumput di dalamnya." (Muslim, hadits nomor 1599)Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, "Gak apa.Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar.Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!" Jika sudah seperti ini,suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukankemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengankebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., "Jangansekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkaumenuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendakmenimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkanwajahmu tampak berseri-seri kepadanya." (Silsilah Shahihah, nomor 1352)Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele!Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menyingkirkan gangguandari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya,dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akanmasuk surga." (Bukhari, hadits nomor 593)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidakmau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoabagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorangmukmin seperti hadits Rasulullah ini, "Sesungguhnya orang mukmin darisebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukankepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karenakeadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikutmenderita karena keadaan di kepala." (Silsilah Shahihah, nomor 1137)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda."Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean AllahAzza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan olehpermulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,"begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramaldemi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allahini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama.Padahal, Allah swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jadilahkalian penolong-penolong (agama) Allah." (Ash-Shaff:14)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapatproblem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhatitegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa inginlari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. "Apakahmanusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kamitelah beriman, sedang mereka belum diuji." (Al-Ankabut:2)Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil."Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruhperkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yangberiman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur danitu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia punbersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya." (Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal,perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. "Tidaklahsegolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang merekaberada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka sukaberbantah-bantahan." (Shahihul Jami', nomor 5633)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri denganurusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidaklagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita.Ingatlah, "Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalahsurga bagi orang kafir." (Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yangdigunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalamhatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisalitu dalam ucapan Anda.Bukankah Allah swt. telah berfirman, "Dan katakanlah kepadahamba-hamba-Ku: `Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebihbaik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimanusia'." (Al-Israa':53)Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. "Dan apabilamereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpalingdaripadanya dan mereka berkata: `Bagi kami amal-amal kami dan bagimuamal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergauldengan orang-orang jahil.'" (Al-Qashash:55)Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah berkata yang baik atau diam." (Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum,berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung padakemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang disekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, "Hai anak Adam, pakailahpakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah,dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukaiorang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf:31). &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Bahkan, Allah swt.menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karenaitu Allah memerintahkan kita untuk, "Dan berikanlah kepadakeluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin danorang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan(hartamu) secara boros." (Al-Isra':26)Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hambaAllah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah." (Al-SilsilahAl-Shahihah, nomor 353)&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2008/22-tanda-iman-anda-sedang-lemah/"&gt;http://www.dakwatuna.com/2008/22-tanda-iman-anda-sedang-lemah/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-1142371810764765110?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.dakwatuna.com/2008/22-tanda-iman-anda-sedang-lemah/' title='Iman Anda Sedang Lemah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/1142371810764765110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=1142371810764765110&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/1142371810764765110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/1142371810764765110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/06/iman-anda-sedang-lemah.html' title='Iman Anda Sedang Lemah'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-1181068261925844991</id><published>2010-05-25T10:50:00.002+07:00</published><updated>2010-05-25T11:08:35.877+07:00</updated><title type='text'>Dapatkah Ruqyah Memberantas Kemusyrikan?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dapatkah Ruqyah Memberantas Kemusyrikan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Senin, 24/05/2010 13:12 WIB&lt;br /&gt;oleh Saiful Islam Mubarak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Masalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa daerah telah terbukti ruqyah sangat bermanfaat untuk menyelamatkan masyarakat dari kemusyrikan. Bahkan dengan ruqyah mereka menjadi sadar hingga mau meninggalkan kebiasaan mereka yang berkaitan dengan perdukunan. Orang-orang yang memelihara benda-benda tertentu atas petunjuk dukun telah banyak yang sadar dan bertaubat setelah diruqyah. Hal itu membuktikan bahwa ruqyah sangat berguna bagi penyelamatan aqidah. Pertanyaannya adalah: jika praktik meruqyah yang sekarang sudah tersebar ini di pertanyakan kebenarannya, apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi gejala kemusyrikan yang terjadi akibat paranormal atau dukun itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberantas kemusyrikan adalah tugas utama para rasul dan para pewarisnya pada setiap zaman. Tidak diragukan lagi bahwa gejala kemusyrikan yang bermunculan pada masyarakat muslim merupakan lapangan jihad para pewaris nabi. Maka, sangat penting bagi setiap da’i untuk mencurahkan segala upaya demi menyelamatkan umat dari bahaya kemusyrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya ruqyah dapat digunakan untuk memberantas kemusyrikan, apakah Rasulullah saw. melawan kemusyrikan selama tiga belas tahun di Mekah dengan menggunakan ruqyah? Ternyata ruqyah digunakan sahabat setelah priode Mekah berlalu yaitu setelah masuk priode Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bila ada orang yang berkata: Nabi Isa berda’wah dengan melakukan pengobatan.&lt;br /&gt;Maka katakanlah kepadanya: Sekiranya Nabi Isa berda’wah dengan mu’jizatnya berupa pengobatan, apakah yang dia obati itu penyakit kemusyrikan dan kesurupan? Sungguh Al Quran telah menjelaskan bahwa Isa suka mengobati orang yang menderita penyakit sopak dan menyembuhkan orang buta dengan seizin Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memberantas kemusyrikan adalah tugas suci yang dilakukan oleh para rasul. Kita wajib mengikuti jejak langkah mereka dengan cara yang mereka contohkan yaitu melalui tabligh, ta’lim, tarbiyah dan seterusnya secara terperogram dan berkesinambungan. Karena itu, untuk memberantas kemusyrikan selama berada di Mekah, Rasululllah saw. memerlukan waktu hingga tiga belas tahun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah tingkatan da’i zaman sekarang dapat memberantas kemusyrikan hanya dengan ruqyah yang memakan waktu beberapa menit saja. Mungkinkah dalam jangka waktu yang sangat singkat ini kalimat tauhid tertanam dalam qalbu masyarakat dan mereka pahami secara mendalam? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena kalimat tauhid tidak cukup hanya untuk diucapkan, tetapi mesti menjadi pegangan hidup yang diawali dengan ilmu dan pemahaman. Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ(9)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemusyrikan adalah lambang kegelapan dan ketauhidan adalah cahaya. Kegelapan tidak memerluakan ilmu sedang cahaya memerlukan ilmu.&lt;br /&gt;Menghilangkan satu kemusyrikan tidak mungkin tercapai tanpa pengganti yaitu menanamkan ketauhidan. Ketauhidan tidak akan dapat terwujud tanpa ilmu. Karena ketahudian itu sangat luas kajiannya maka untuk mengetahui ilmu tauhid memerlukan waktu yang sangat luas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika gerakan pemberantasan kemusyrikan tidak disertai dengan pembinaan ketauhidan yang terprogram dan berkesinambungan, maka gerakan tersebut akan dihadapkan kepada berbagai kemungkinan, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Hilangnya satu bentuk kemusyrikan yang melahirkan kemusyrikan lain, yaitu banyaknya orang yang sadar hingga meninggalkan keyakinan kepada benda-benda mati karena mereka berpindah kepada keyakinan terhadap orang-orang tertentu yang dipandangnya sebagai orang suci atau luar biasa hingga pengkultusan pun tidak dapat dihindari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Hilangnya satu bentuk kemaksiatan yang memunculkan kemaksiatan lain, yaitu banyaknya orang sadar yang meninggalkan kemakisatan diganti dengan kesibukan ibadah yang bersumber kepada ajaran campuran atau yang sering disebut dengan bi’dah. Seperti melakukan ruqyah yang pada mulanya hanya dengan berdoa, setelah mengalami perkembangan maka ruqyah tersebut dilakukan sambil mengeluarkan tenaga pada gerakan tertentu untuk mengusir jin dari satu tempat atau dari seseorang padahal meruqyah adalah gambaran seorang yang sedang berdoa kepada Allah dengan penuh khusyu dan tunduk dengan merendahkan diri di hadapan-Nya. Sedangkan tenaga yang keluar dari gerakan tertentu menggambarkan kekuatan yang tidak diperluakan pada waktu berdoa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Hilangnya kemaksiatan dari orang-orang tertentu diikuti dengan menurunnya kualitas keislaman dari masyarakat luas akibat berkurangnya tenaga pembina karena kesempatan sebagian para pembina disibukkan oleh kegiatan meruqyah. Telah terbukti ada beberapa orang ustadz meninggalkan kewajiban rutin mengajar dan mengisi ta’lim yang terprogram karena waktu mereka tersita untuk meruqyah di berbagai tempat. Maka dapat dipahami jika ada yang beranggapan bahwa banyaknya kesurupan merupakan proyek setan untuk menambah kesibukan para ustadz agar mengurangi tugas utamanya untuk membina umat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika beberapa hal di atas itu terjadi, maka kesibukan seseorang dengan meruqyah di samping diakui ada manfaatnya namun mudaratnya pun sangat penting untuk diwaspadai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Langkah-langkah yang penting untuk dilakukan adalah mendalami makna dan menghayati ayat-ayat Al Quran yang juga merupakan bacaan yang utama dalam meruqyah antara lain surat al Falaq yang termasuk al mu’awwadzatain المعوذتين (dua surat yaitu: surat al Falaq dan surat an Nas yang digunakan untuk mohon perlindungan),&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ(1)مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ(2)وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ(3)وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ(4)وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ(5)&lt;br /&gt;Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pelajaran yang penting dari surat ini:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Surat ini menanamkan kesadaran kepada setiap manusia agar selalu menyadari bahwa di mana pun dia berada selalu dihadapkan kepada bahaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Bahaya tersebut muncul dari ciptaan Allah yang sebenarnya diciptakan untuk dimanfaatakan oleh manusia. Namun bila mereka tidak mampu menggunakannya maka manfaat tesebut akan berubah menjadi bahaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Karena rahmat-Nya yang tak terbatas, Allah menyediakan perlindungan bagi semua hamba-Nya dari berbagai bahaya dan menyuruh mereka agar berlindung di bawah naungan-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Tanpa diminta pun Allah Mahatahu siapa yang perlu perlindungan-Nya. Namun demikian, Dia memberi jalan kepada kita untuk selalu mendekati-Nya. Maka ditetapkanlah perintah untuk menyatakan diri sebagai seorang hamba yang selalu berlindung di bawah naungan-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  قُلْ Perintah “katakanlah” ditujukan kepada seorang manusia. Hal itu memberi arti bahwa perintah ini pada dasarnya mesti dilakukan oleh pribadi masing-masing bukan dengan bantuan orang lain atau melalui seorang ahli. Ketika seseorang mohon bantuan kepada orang lain maka bantuan tersebut tidak lebih utama daripada kerja dirinya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  أَعُوذُ Aku berlindung. Pernyataan yang menunjukkan bahwa seorang hamba yang menyadari akan kelemahan dirinya selalu berlindung di bawah naungan-Nya. Perlindungan tersebut tidak hanya diperlukan pada waktu tertentu tetapi diperlukan selamanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  بِرَبِّ الْفَلَقِ kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Allah Swt. Mahakuasa terhadap segala sesuatu. Namun demikian, di sini ditegaskan bahwa Dia Menguasai subuh. Hal itu memberi isyarat bahwa manusia banyak yang lalai terhadap nilai waktu yang diawali dengan subuh. Subuh yang merupakan permulaan siang telah Allah sediakan bagi manusia untuk mencari kehidupan. Dalam perjalanan mencari kehidupan banyak manusia yang lalai karena tergoda oleh berbagai peristiwa, temuan dan daya tarik alam di sekitarnya. Karena itu, Allah perintahkan kepada setiap hamba-Nya untuk selalu berlindung kepada-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ dari bahaya apa saja yang Dia ciptakan. Artinya segala sesuatu yang telah Allah ciptakan akan menimbulkan bahaya kecuali bagi orang yang mendapat perlindungan-Nya. Dengan perlindungan-Nya segala sesuatu akan bermanfaat baik bagi dirinya, keluarganya maupun umat pada umumnya. Umpamanya: sehat akan membawa manusia bebas berbuat maksiat kecuali mereka yang mendapat perlindungan, maka kesehatan akan menjadi bekal untuk banyak beramal yang berguna bagi kepentingan umat. Sakit telah banyak membuat manusia resah dan gelisah, namun dengan perlindungan-Nya sakit banyak membuat manusia menikmati kedekatan diri dengan Allah, bertambah khusyu’ dalam beribadah dan selalu ingat akan kehidupan akhirat. Ringkasnya, segala sesuatu akan menjadi bekal untuk beramal shaleh bagi orang yang mendapat bimbingan-Nya dan menjadi jalan maksiat bagi orang yang jauh dari Allah. - وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Allah telah menjadikan malam agar manusia mendapat ketenangan. Ketenangan dapat dicapai dengan keseimbangan. Malam adalah saatnya untuk menjaga keseimbangan antara terpenuhinya tuntutan jasmani dan rohani. Dengan adanya siang banyak manusia bekerja untuk memenuhi keperluan jasmani dan dengan adanya malam maka Allah sediakan bagi manusia untuk berusaha memenuhi tuntutan rohani. Siang dan malam dipisah dengan waktu fajar. Allah berfirman: فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ(96) Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dalam kehidupan nyata banyak manusia yang menggunakan malam hanya untuk tidur nyenyak atau begadang untuk bermain karena tidak ada pekerjaan. Kedua kondisi ini termasuk ancaman yang membawa kepada bahaya. Baik orang yang menggunakan waktu malam hanya untuk tidur atau mengisi waktu malam dengan begadang, keduanya akan dihisab atau dimintai tanggungjawab, karena Allah sediakan malam untuk meraih ketentraman, dan ketentaraman tidak akan dapat dicapai tanpa keseimbangan, yaitu terpenuhinya tuntutan fisik dengan tidur dan tuntutan rohani dengan taqarrub kepada Allah. Seorang mukmin akan berusaha menjadikan malam untuk meningkatkan taqarrub kepada Allah dan melakukan evaluasi tentang pekerjaan yang berlangsung pada waktu siang hari. Orang yang memahami arti malam akan selalu berusaha menjauh dari bahaya malam yang terkadang menimpa seseorang di luar kesadaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, bahaya yang menimpa manusia ada yang dibuat oleh dirinya sendiri ada pula yang dibuat oleh orang lain. Kejahatan ahli sihir telah terbukti menimpa orang yang tidak berdosa sejak dahulu. Dan semua peristiwa tidak pernah terjadi kecuali seizin Allah. Hanya saja tidak semua yang Allah izinkan disertai dengan keridhoan-Nya atas pelakunya. Kejahatan ahli sihir tidak menimpa seseorang kecuali dengan seizing-Nya. Kendatipun Dia mengizinkan, namun Dia tidak meridhoinya. Dengan terjadinya apa yang diinginkan tukang sihir menimpa pada diri seseorang maka kaum muslimin semakin merasa pentingnya perlindungan Allah sehinga tanpa disuruh pun mereka akan selalu berlindung kepada-Nya karena Dia-lah yang berada di atas segalanya dan Mahakuasa atas segala sesuatu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Dengki adalah salah satu sumber kejahatan. Dengki sering muncul karena melihat kebaikan pada orang lain. Karena dengki, seseorang tidak sanggup melihat kenikmatan pada orang lain hingga dia berjuang untuk menghapuskannya. Karena dengki, setan berupaya untuk menggoda manusia dan membawa mereka menuju kesesatan. Karena dengki, setan selalu melakukan tipu daya untuk menyesatkan manusia. Manusia yang dia sesatkan bukanlah mereka yang sudah sesat melainkan mereka yang suka beribadah kepada Allah, yaitu orang yang sedang menempuh perjalanan yang lurus menuju ridho-Nya. Setan merasa sakit jika melihat manusia yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena dia telah dikutuk tidak akan mendapat kesempatan untuk menyelamatkan dirinya dari siksa Allah. Karena itu setan terus mencurahkan segala kemampuannya untuk menggoda tokoh muslimin. Karena, jika berhasil meggoda seorang tokoh maka keberhasilan tersebut akan berdampak pada masyarakat pengikutnya. Salah satu langkah yang dilakukan setan untuk menggoda seorang tokoh adalah dengan membuat jebakan-jebakan yang menggiurkan. Dengan jebakan-jebakan tersebut telah banyak manusia yang terjerat yang kemudian terbawa arus menuju kesesatan tanpa disadari. Kedengkian adalah salah satu penyebab utama yang menimbulkan kerusakan. Baik kerusakan yang menimpa pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan yang menimpa satu negara. Setiap muslim meyakini bahwa Allah Mengetahui segala yang tersirat pada hati makhluk-Nya. Niat baik dan buruk yang tersirat pada hati seseorang tidak lepas dari pandangan-Nya. Karena itu semua niat jahat orang yang dengki sama sekali tidak akan berpengaruh jika Allah tidak mengizinkannya. Kedengkian seseorang sering mendapat dukungan dari setan untuk melakukan satu perbuatan yang merugikan orang lain. Orang yang beriman selalu menjadikan bisikan setan sebagai dorongan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu apapun yang terjadi didunia ini selalu positif bagi seorang mukmin. Itulah awal keselamatan yang merupakan jalan menuju keselamatan abadi diakhirat nanti. Surat Al Falaq mengantarkan setiap hamba tampil di hadapan semua makhluk unutk berikrar bahwa dia berlindung kepada Zat Yang Mengatur semua makhluk. Ikrar tidak akan bermakna tanpa disertai dengan keyakinan yang dijiwai dan dirasakan. Surat ini juga membina setiap hamba untuk selalu berlindung di bawah naungan Penguasa alam. Jika mereka berlindung di bawah naungan-Nya maka kedengkian para penjahat tidak berpengaruh selain hanya menambah penderitaan atas diri mereka sendiri. Tipu daya setan telah banyak menyesatkan manusia tanpa mereka sadari. Bahkan di antara mereka ada yang merasa lebih takwa daripada orang lain. Hal ini terjadi karena dia sering berbuat yang tidak dilakukan orang lain atau yang disebut luar biasa. Bagaiman dia dapat berbuat yang aneh kalau bukan karena mendapat bantuan setan dalam hal-hal yang di luar kemampuan orang lain. Sesuatu yang luar biasa tersebut sulit untuk dikatakan salah karena terkadang terbukti bermanfaat bagi kepentingan orang lain, bahkan kepentingan beragama. Mungkinkah hal tersebut adalah jebakan dari setan? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setan tidak berkeberatan untuk memberi umpan dan pancingan seperti dengan “insyaf”nya seorang penjahat, kalau dengan insyafnya seseorang setan mendapat peluang untuk menyesatkan orang banyak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada seorang praktisi ruqyah yang berbangga diri dengan pekerjaannya karena dia telah berhasil merubah seorang penjahat menjadi ahli masjid. Dan mantan penjahat tersebut sangat patuh kepadanya. Dengan kejadian ini banyak masyarakat yang tertarik untuk mengikuti langkah praktisi tadi. Yang akhirnya dari hari ke hari maka semakin banyaklah pengikutnya. Jika mantan penjahat tersebut tidak dibina dengan aqidah yang benar, menyelurauh dan mendalam serta tidak diberi pemahaman yang luas tentang Islam maka dia hanya mengalami perubahan dalam tampilan semata.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Sebenarnya dia hanya berpindah dari satu kehidupan jahiliyah menuju kehidupan jahiliyah baru. Semula dia tunduk kepada hawa nafsunya sendiri yang merugikan orang lain secara langsung lalu berubah menjadi tunduk kepada seorang praktisi ruqyah dan keinginannya yang merugikan orang lain secara tidak langsung. Semula dia suka berbuat jahat yang merugikan banyak masyarakat lalu berubah menjadi orang yang rajin ke masjid dengan menganggap kesucian sang guru (praktisi ruqyah) dan membuat orang lain mengkultuskan sang guru tersebut karena terlihat sebagai orang istimewa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Semula dia merugikan orang lain secara lahir lalu dia berubah langkah yang merugikan orang lain secara batin yaitu aqidah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini dari satu segi, dari segi lain perubahan tersebut dijadikan pembenaran bahwa apa yang dilakukan sang guru itu adalah ajaran yang benar karena telah membuat orang jahat menjadi insyaf. Memang orang yang terjebak dengan tipu dayanya dia akan merasa sebagai yang istimewa dan berada di atas orang lain. Padahal dia sedang menghadapi ancaman yang sangat berbahaya, karena sudah menjadi alat yang digunakan untuk menyesatkan manusia dengan cara lain. Demikian pula halnya dengan perubahan sebagian orang yang mempercayai adanya kekuatan pada benda-benda dan mengkultuskan benda-benda yang mereka karamatkan berubah menjadi orang yang mengkultuskan manusia yang sama-sama makhluk Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengkultusan kepada manusia dan kepada benda-benda mati tidak lepas dari akidah syirik yang dapat menghapus semua amal ibadah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masalah penting dalam bab ini adalah: betulkah praktik ruqyah merupakan langkah yang tepat untuk memberantas kemusyrikan?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Apakah Rasul saw. dan sahabatnya berda’wah memberantas kemusyrikan dengan ruqyah? Tidak ada seorang dari kalangan ulama Al Quran, Sunnah dan ulama sirah yang menyatakan hal itu. Sejak generasi pertama yang disebut dengan assabiquanal awwalun yaitu generasi afdhol hingga saat ini da’wah terus berjalan dengan menanamkan aqidah yang benar dan pembinaan yang berkesinambungan dengan mengajarkan ajaran secara menyeluruh dan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari berlandaskan kepada petunjuk Al Quran dan contoh Rasulullah saw. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekiranya praktik ruqyah merupakan langkah yang tepat untuk da’wah maka sesungguhnya Rasul saw. dengan sahabatnyalah yang lebih tepat untuk melakukannya. Karena mereka ahli ibadah dan doa mereka selalu diijabah. Karena itu sangat dikhawatirkan jika kesibukan meruqyah membauat seseorang meninggalkan kebiasaan mengajar, mangisi ta’lim, rutin atau mengisi dan hadir dalam halaqoh tarbawiyah, apappun alasannya, karena hal tersebut telah jalas-jelas mendukung program setan dan merugikan da’wah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bisikan dan rayuan setan tidak akan berpengaruh bagi orang yang senantiasa mengamalkan surat Annas. Mengamalkan surat annas tidak cukup dengan sekedar membacanya akan tetapi mesti disertai dengan tadabbur, menghayati dan menjiwai artinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk itu marilah kita berupaya untuk menghayatinya: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ(1)مَلِكِ النَّاسِ(2)إِلَهِ النَّاسِ(3)مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ(4)الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ(5)مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ(6) Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Beberapa pelajaran yang penting dari surat ini antara lain: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;قُلْ Katakanlah Perintah ditujukan kepada setiap hamba untuk menyatakan sikap yang jelas yang terdengar oleh makhluk lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; أَعُوذُ Aku berlindung. Pernyataan perorangan ini diungkapkan oleh setiap hamba yang membuktikan bahwa setiap hamba diperintah untuk menyatakan perlu akan perlindungan. Hal itu tidak menafikan adanya bantuan orang lain untuk memohon perlindungan bagi dirinya, akan tetapi membuktikan bahwa dirinyalah yang lebih tepat untuk berlindung kepada Zat Yang Mengetahui dan menyediakan perlindungan bagi setiap yang memerluannya. Akan tetapi, hal ini menafikan adanya pandangan bahwa di sana ada orang yang ahli mengusir jin atau setan, sebab orang yang dikatakan ahli juga harus selalu menyatakan bahwa dirinya perlu perlindungan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; بِرَبِّ النَّاسِ kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Dalam surat lain terulang beberapa kali bahwa Allah adalah rabbul’alamin yaitu Tuhan semesta alam. Namun demikian, di sini disebut sebagai Tuhan manusia. Hal itu memberi isyarat bahwa manusialah yang sangat memerlukan perlindungan dari berbagai godaan. terutama godaan batin yang tidak disadari datang dan perginya. Dengan disebut “manusia” maka memberi arti bahwa keperluan manusia terhadap perlindungan melebihi keperluan makhluk lainnya, sebab godaan yang datang kepada manusia datang dari berbagai arah dengan berbagai cara dan banyak sekali yang tidak diketahui baik sebelum maupun sesudah terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena itu sangat penting bagi setiap manusia untuk menyatakan kelemahan dirinya dan berlindung kepada yang Mahakuasa yaitu: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;مَلِكِ النَّاسِ Raja manusia. Dengan pengakuan bahwa Dialah Raja manusia, maka hilanglah keyakinan adanya kekuasaan selain kekuasaan-Nya. Siapa pun yang mengaku dirinya memiliki kekuasaan maka pengakuan tersebut hanya tipuan belaka yang dapat merugikan dirinya dan juga merugikan orang lain. Setiap hamba diperintah untuk menolak pengakuan tersebut. Jika seorang hamba telah membersihkan hatinya dari pengakuan adanya kekuasaan selain kekuasaan-Nya &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;maka tertanamlah keyakinan bahwa tiada yang patut disembah selain Yang Mahasatu, yaitu: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;إِلَهِ النَّاسِ Sembahan manusia. Yang menyembah Allah bukan hanya manusia melainkan semua makhluk yang beriman pasti menyembah-Nya. Namun demikian, ayat ini menyebutkan kata “manusia”, hal itu mememberi isyarat bahwa betapa pentingnya mansia untuk selalu diingatkan dalam urusan ibadah ini. Mereka banyak yang mengaku sudah sempurna dalam beribadah padahal tiada yang mengetahui hakikat ibadah mereka selain Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain waktu pernah belangsung dialog antar seorang hamba dengan saudaranya yang dikenal ahli mengusir jin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Isi dialog sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hamba: ustadz, mengapa bacaan ustadz sangat berpengaruh bagi orang yang kesurupan, sementara orang lain tidak, padahal yang dibacanya adalah sama yaitu ayat Alquran dan doa dari Rasulullah? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ahli jin: itu adalah urusan ketakwaan. Orang yang bertakwa selalu dikabulkan doanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hamba: ustadz, adakah orang yang bertakwa mengetahui ketakwaan dirinya. Yang saya ketahui semakin meningkat ketakwaan seseorang maka akan semakin merendah dan mengaku masih jauh dari derajat seorang yang takwa, karena tiada yang mengetahui ketakwaan seseorang selain Allah? Inilah salah satu hal yang senantiasa perlu diwaspadai, boleh jadi pengakuan tersebut adalah bisikan dari setan, karena itu betapa pentingnya bagi setiap insan untuk berlindung kepada Allah dari bisikannya setan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi. Jika manusia membisik maka bisikannya dapat diketahui apa, kapan dan bagaimana, berbeda dengan bisikan setan yang berlangsung dengan tersembunyi bahkan sulit diketahui walaupun terus menerus membisik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan tidak mustahil orang paling sering mendapat bisikan setan mengaku sebagai orang paling jauh dari setan karena seten membisikan demikian. Sehingga dia merasa tenang dan aman dari kejahatannya padahal sangat mungkin perasaan tersebut adalah hasil dari bisikannya juga. Dengan bisikan tersebut maka dia merasa sebagai orang yang luar biasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan perasaan tersebut didukung dengan berbagai keadian yang tidak dimiliki orang lain. Hal itu semakin membuat dirinya merasa sebagai orang yang istimewa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walaupu lisannya berkata: aku adalah orang biasa tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Dengan perkataan ini orang semakin kagum karena pernyataan tersebut juga memberi arti adanya tambahan keistimewaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memang bisikan setan sangat halus dan sulit diketahui. Kesulitan tersebut bukan saja menurut tingkatan kita sebagai hamba biasa akan tetap setingkat sahabat pun sangat sulit untuk mengetahui bisikan setan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Terbukti para sahabat sering diingatkan Rasullah saw agar selalu waspada akan bisikan setan dan godaannya. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak dikatakan sulit, dia membisik langsung kedalam dada manusia tanpa melalui telinga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba-tiba bisikannya masuk kedalam hati. Dan bila sudah sampai kedalam hati maka akan menjadi keyakinan yang sulit untuk dihindari bahkan tidak sedikit menghilangkan fungsi fikiran. Sungguh banyak orang yang dipandang cerdas tiba-tiba cara berpkikirnya berubah karena pengaruh keyakinan. Dan itulah langkah yang ditempuh setan yaitu menyampaikan bisikan yang langsung menjadi keyakinan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh banyak orang yang tersesat bukan karena tidak berilmu akan tetapi ilmu telah mereka terima tidak difungsikan sebagaimana mestinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ dari (golongan) jin dan manusia. Golongan jin disebut lebih dahulu karena kendatipun bisikan yang lebih dekat kepada manusia adalah bisikan yang datang dari jenis manusia itu sendiri, namun yang lebih penting untuk diwaspadai adalah justeru yang datang dari jenis golongan jin. Karena bisikan yang datang dari golongan jin lebih sering dan lebih berbahaya dan tidak dapat diketahui.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Termasuk bisikan jin tentang keadaan dan prilaku golongan jin itu sendiri yang ditujukan kepada sebagaian orang seperti yang pernah diungkapkan oleh Muahammad Isa Daud penulis buku “Dialog dengan Jin Muslim”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam bukunya dia mengungkap beberapa informasi dari jin yang dia anggap sebagai sahabatnya. Dia menyakini bahwa sahabatnya adalah jin muslim. Sahabat tersebut banyak berbicara tentang kehidupan jin dan tokoh-tokohnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Muhammad Isa Daud (MID) berkata: Tiba-tiba saja jin Muslim sahabat saya itu mengatakan, “Akan kusampaikan kepadamu yang sangat penting. Iblis punya kerajaan yang sangat besar: ada menteri-menteri, pemerintahan, dan kantor-kantor yang besar-besar. Iblis mempunyai wakil-wakil, lima diantaranya wajib kalian waspadai.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mari berhenti sejenak memerhatikan ungkapan jin sahabat MID diatas:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Tanpa diundang dia datang untuk menyampaikan berita yang tidak perlu. Bukankah yang demikian itu kebiasaan setan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Dia menyampaikan informasi yang tidak diminta. Yaitu kehidupan dan aktivitas makhluk gaib. Untuk apa dia menyampaikan masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan ajaran yang mesti dijadikan pegangan manusia? Tidakkah dia bermaksud untuk menyibukkan manusia dari kawajiban syar’ie? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Dia juga tidak ragu-ragu menyatakan: “wajib kalian waspadai”. Atas dasar apakah dia berani menetapkan satu kewajiban yang ditujukan kepada manusia. Padahal tiada yang berhak menetapkan kewajiban atas umat manusia selain Allah dan RasulNya. Bukankah hal itu merupakan intervevsi setan dalam menetapkan hukum? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Kalau yang dimaksud dengan kata wajib seperti halnya kewajiban yang biasa ditetapkan dalam aturan orgaisasi atau pemerintahan, maka tidak diragukan hal tersebut adalah berkaitan dengan aturan kerja yang dapat kita ketahui maslahatnya. Adapun yang berkaitan dengan masalah gaib, sama sekali tidak dapat diketahui kebenarannya. Karena itu apapun alasannya, ketetapan tersebut tidaklah berarti selain membawa kepada kesibukan yang sia-sia. Bukankah itu perbuatan setan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga MID dapat menghindar dari persahabatan dengan jin yang menyibukkannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Siapakah lima wakil Iblis itu? Sahabat MID menjelaskan, yaitu:&lt;br /&gt;1.    Tsabar.&lt;br /&gt;2.    Dasim.&lt;br /&gt;3.    Al A’war.&lt;br /&gt;4.    Maswath.&lt;br /&gt;5.    Zalnabur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agar terhindar dari program kelima nama tersebut jin sahabat MID juga mengajarkan doa dengan mengatakan: hendaknya kamu mengucapkan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;أعوذ بالله من الشيطان ثبر الرجيم وجنده وأبنائه&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan, Tsabar, yang terkutuk, beriktu pengikut-pengikut dan anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;أعوذ بالله من الشيطان داسم الرجيم وجنده وأبنائه&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan, Dasim, yang terkutuk, beriktu pengikut-pengikut dan anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jin sahabat MID mengemukan lima nama tokoh jin yang menjadi wakil-wakil Iblis. Betulkah lima nama itu ada? Jika ada, betulkah nama-nama itu milik wakil-wakil Iblis? Apakah tidak mungkin kalau kelima nama itu adalah nama-nama jin muslim yang sholeh. Dan dia mengharap agar kaum muslimin dari kalangan manusia untuk membenci hingga mengutuk mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Bagaimana cara mengutuk mereka, sahabat MID juga mengajarkan lafaznya secara jelas menyebut nama-nama tersebut dimasukkan kedalam kalimat isti’adzah. I&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;sti’adzah dengan redaksi yang disampaikannya merupakan ajaran baru yang tidak dikenal dalam ajaran Islam. Dengan memasukkan nama Tsabar dan Dasim di antara kata “setan” dan “terkutuk” maka kutukan yang semestinya diarahkan kepada semua jenis setan berubah menjadi hanya ditujukan kepada Tsabar dan Dasim berikut pengikut dan anak-anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Artinya, setan yang terkutuk itu hanyalah dua golongan, yaitu golongan Tsabar dan Dasim. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sungguh pintar jin sahabat MID dalam mengalihkan amal Islami menjadi amal yang tidak berarti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia mengajarkan doa agar terhindar dari sesuatu yang tidak terbukti dan tidak dapat dibuktikan eksistensinya, apalagi bahayanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ini dari satu segi, dari segi lain, dia telah berhasil melakukan beberapa hal, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Menambah-nambah ajaran Islam.&lt;br /&gt;§  Mengubah bacaan yang diajarkan Al Quran dan Sunnah.&lt;br /&gt;§  Mengalihkan perhatian dari hal yang pasti kepada yang tidak pasti.&lt;br /&gt;§  Membuat kesibukan untuk mengerjakan yang tidak berguna.&lt;br /&gt;§  Mengarahkan kutukan kepada yang tidak kita ketahui, boleh jadi yang dikutuk itu adalah jin yang muslim, atau sebenarnya nama tersebut tidak dimiliki siapapun.&lt;br /&gt;§  Menanamkan ajaran adanya seorang yang luar biasa memiliki keahlian di atas para sahabat Nabi, karena MID mendapat ilmu yang tidak dimiliki oleh para sahabat Nabi, yaitu ilmu masalah gaib. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk kita renungkan. Jika apa-apa yang diterima MID ini benar dan tidak menyimpang mengapa para sahabat Nabi yang lebih bersih dan ketakwaannya terjamin, mereka tidak pernah berdialog dengan jin Muslim dan mengapa jin itu tidak menerangkan bahayanya kepada para sahabat, agar lebih bermanfaat untuk seluruh umat?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Memberantas kemusyrikan adalah kewajiban seluruh umat Islam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Kemusyrikan memiliki cara dan bentuk yang beragam. Ada yang diketahui dan banyak sekali yang tidak diketahui. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Kemusyrikan harus dihapus dari diri seseorang atau dari satu kelompok masyarakat dengan melalui pembinaan yang terprogram dan berkesinambungan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Ruqyah adalah salah satu ajaran Islam yang mesti diamalkan dan sangat diperlukan bagi semua pengobatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Rasulullah saw. dan sahabatnya tidak biasa memberantas kemusyrikan dengan praktik ruqyah seperti yang kita kenal saat ini, meskipun doa mereka lebih terjamin untuk diijabah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;§  Memberantas kemusyrikan dengan ruqyah tanpa pembinaan terprogram dan berkesinambungan dihawatirkan hanya melakukan perubahan dari satu bentuk syirik menuju bentuk lainnya atau perubahan dari bentuk syirik jaliy (jelas) menuju syirik khafiy (tersembunyi). Sementara kemusyirikan masih tetap eksis tanpa mengalami kekurangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; والله أعلم &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-1181068261925844991?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/1181068261925844991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=1181068261925844991&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/1181068261925844991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/1181068261925844991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/05/dapatkah-ruqyah-memberantas-kemusyrikan.html' title='Dapatkah Ruqyah Memberantas Kemusyrikan?'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-3002745939447760165</id><published>2010-05-11T13:53:00.000+07:00</published><updated>2010-05-11T14:15:35.415+07:00</updated><title type='text'>Tazkiyah kepada Hati yang mati</title><content type='html'>Hati Sehat - Hati Sakit - Hati Mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Masjid Al Ikhlas, ba'da sholat subuh, seringkali Imam mengajak jama'ah Masjid untuk mendo'akan jama'ah yang sedang sakit agar diberi kesembuhan oleh Alloh SWT dan dapat kembali bersama-sama berjama'ah di Masjid....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jarang sekali (mungkin belum) Imam mengajak jama'ah untuk mendo'akan warga sekitar yang hatinya sakit. Agar diberi hidayah oleh Alloh SWT dan ikut bergabung dengan jama'ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering tazkiyah ke orang yang mati...&lt;br /&gt;tapi tidak pernah tazkiyah ke orang yang hatinya mati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta diatas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah pengendali dan sekaligus sebagai pemberi komando terdepan yang setiap anggota tubuh berada di bawah kekuasaannya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, baik dalam ketaatan atau penyimpangan. Organ-organ tubuh lainnya selalu mengikuti dan patuh dalam setiap keputusan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengelompokan Hati ManusiaHati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Qalbun Shahih (hati yang suci), Qalbun Mayyit (hati yang mati), dan Qalbun Maridl (hati yang sakit).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertama, Qalbun Shahih&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah. Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim kepada syari’at-Nya. ia mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam menjadikan Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam segala hal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS. Al-Hujurat:1]. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ciri-ciri Qalbun Shahih&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan berdomisili di alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia datang ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi saw kepada Abdullah bin Umar : “Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan.” [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu’adz berkata: “Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tentram dan puas dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Bila sedang melakukan sholat, maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan kaena urusan dunia. Sebab di dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah Idan berdzikir kepada-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti petunjuk syari’at rasulullah saw di samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedua, Qalbun Mayyit&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup hati mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ” Dan diantara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu‘.”[QS. Al-An'am:25].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “(Mereka berkata Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula.”[QS. Fushilat:5]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;.Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah kembali kepada jalan yang benar.” [Al-Baqarah:17-18]. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketiga, Qalbun MaridlQalbun&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maridl(hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud’izah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya.”[QS. Al-Hajj:53].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat. Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah merasuk kedalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.”[Al-Ahzab:60].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang-orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya.“[QS. Al-Ahzab:32].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ciri-ciri Qalbun Maridl&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Boleh jadi hati manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: “Fi Qulubihim Maradhun“[QS.Al-Baqarah:10]. artinya: “Dalam hati mereka terdapat penyakit.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ayat ini menunjukkan adanya keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.” Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendaknya. Kebenaran itu dilihat dari sisi lain yang terasa merugikan dirinya. sehingga dalam kondisi seperti ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Faktor-faktor penyebab sakitnya hati&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penyebab timbulnya penyakit di hati adalah dikarenakan banyaknya fitnah yang selalu dibidikkan pada hati. Fitnah-fitnah tersebut dapat berupa: fitnah syahwat, dimana reaksinya amat keras sampai dapat merancukan niat dan iradat (kehendak) seseorang. Dan yang lain adalah fitnah syubhat (keragu-raguan) yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Racun Hati&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap kemaksiatan adalah racun dan yang merupakan penyakit dan perusak kesucian hati. Dan racun-racun hati yang paling banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi kelangsungan hidup hati ada empat macam yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Berlebihan dalam berbicaraBanyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw :”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”[HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang membuat seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Umar bin Kahttab ra pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.” Hal ini ditegas juga dalam sebuah hadits , bahwa rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan ia tergelincir kedalam neraka lebih jauh antara timur dan barat.” [muttafaq ‘alaihi, dari Abu Hurairah t]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Berlebihan dalam memandang sesuatuAllah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga mereka akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda rasulullah saw : “Barangsiapa yang menahan pandangannya karena Allah, maka dia akan diberikan oleh Allah rasa manisnya iman yang ia rasakan dalam hatinya, sampai dimana ia manghadap kepada-Nya.” [HR. Ahmad]. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekarang bagaimana jika perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya. yaitu, rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh angan-angan dan keindahan semu yang dibisikkan setan, lupa terhadap hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia berbuat melampaui batas sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia menjadi pengabdi hawa nafsu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:”Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.”[QS. Al-Kahfi:28].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; 3. Berlebihan dalam makan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah. Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan berakibat sebaliknya.Dari Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar rasulullah saw bersabda: “Anak adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”[HR. Ahmad dan Tirmidzi].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada Sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibrahim bin Adham berkata:”Barangsiapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu pula mengendalikan agamanya, dan barang siapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak makan berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak-akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar (yang mampu syahwat perutnya).”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Berlebihan dalam bergaul&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Betapa tragis suatu pergaulan yang dapat merampas kenikmatan yang telah ada, karenanya timbul benih-benih permusuhan dan kebencian yang terpendam sehingga menyesakkan rongga-rongga dada. Namun rasa itu sulit dihindari terutama oleh hati yang sudah terluka. Demikian juga berlebih-lebihan dalam pergaulan dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Seyogyanya bagi seorang hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan. usahakanlah untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Dimana karakter-karakter tersebut ada empat golongan:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Terhadap orang yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya, laksana kebutuhan kita terhadap makanan, kita tidak dapat lepas darinya dalam sehari semalam. Mereka itu adalah Para Ulama yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu Agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit hati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya seperti kebutuhan kita akan obat, Kita mengharapkannya dikala kita sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat maka mereka tidak kita butuhkan lagi. mereka ini adalah dari orang yang kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya seperti penyakit. Golongan ini terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan, bergantung pada intesitasnya terhadap jiwa kita. Diantara mereka adalah yang bersifat individualis dan egoistis. Jika bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak dalam menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mau bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai diri kita terbawa oleh pengaruh kepribadiannya, karena akan merugikan kita dalam hal agama dan dunia. oleh karena itu sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah dujauhi jika ingin selamat agama dan dunia kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Terhadap orang yang bila kita bergaul dengannya akan membawa kefatalan, sebab ia laksana ular berbisa. Andaikan kita sampai terkena patuknya, kemudian kita berhasil menemukan penawarnya maka selamatlah kita, tetapi jika tidak, inilah bencana bagi kita. Golongan ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka adalah Ahli bid’ah yang sesat dan menyesatkan, menyimpang dari sunnah rasulullah saw. Mereka pandai membolak-balikkan fakta, sunnah mereka jadikan bid’ah dan bid’ah mereka jadikan sunnah. Bagi orang yang berakal tidak layak untuk bergaul ataupun duduk-duduk bersama mereka. Jika itu tetap dilakukan maka akan sakitlah hati bahkan bisa menyebabkan hatinya menjadi mati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketahuilah, bahwa hati yang hidup (hati yang sehat) hanya akan diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar (usaha). Adapun usaha tersebut yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap hidup adalah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Dzikrullah dan Tilawatil Qur’an.Dengan senantiasa dzikrullah (menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar. Sebagaimana Dia berfirman: “Ingatlah, bahwa hanya dengan selalu mengingat Allah, hati menjadi tentram.”[QS. Ar-Ra'du:28].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Al-Imam Syamsuddin Ibnul Qoyyim berkata: ”Sesungguhnya dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh, apabila hamba Allah gersang dari siraman dzikir, maka jadilah ia bagaikan tubuh yang terhalang untuk memperoleh makanan pokoknya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan Imam Hasan Al-Bashri berkata:”Lunakkanlah hatimu itu dengan berdzikir”.Kendatipun dzikrullah adalah salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Sesungguhnya mengingat-ingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadat yang lain).”[Qs. Al-Ankabut:45].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengandung berbagai khasiat penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman; “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”[QS. Yunus:57].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Beristighfar&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari dosa-dosa. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan. Firman-Nya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[QS. An-Nisa’:110].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hendaklah seseorang itu memperbanyak istighfar kepada-Nya dimanapun berada, sebab seseorang itu tidak tahu dimana tempat maghfirah Tuhannya turun. sebagaimana rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku selalu mohon ampunan kepada Allah sehari semalam lebih dari tuju puluh kali.” [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aisyah � berkata: “Beruntunglah orang yang mendapat dalam buku catatan amal perbuatannya memuat istighfar yang banyak.” Qatadah berkata:”Sesunggunhya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya. Adapun penyakitmu adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Do’aAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu. “[QS. Al-mukmin:60].Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita agar berdo’a kepada-Nya dan Dia akan memenuhi permohonan hamba-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;berkenaan dengan ini rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang Muslim pun berdo’a dengan do’a yang di dalamnya tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahmi melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya itu (diperoleh di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat kelak, atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan do’anya itu.”[HR. Ahmad, hadits shahih].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam ayat yang sama Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan terhina.”[QS. Al-mukmin:60].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang-orang yang tidak mau berdo’a kepada-Nya maka mereka yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah termasuk orang yang sombong, dan mereka mendapatkan murka dari-Nya. sebagaimana rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang tidak mau meminta (memohon kepada Allah), maka Allah murka terhadap-Nya.” [HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Bershalawat kepada Nabi saw&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala bershalawat (menyebut dan memuji di hadapan para malaikat) sepuluh kali, bagi orang bershalawat kepada rasul-Nya (sekali). Sebagaimana sabda beliau saw : ”Barang siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan bershalawat sepuluh kali lipat.”[HR. Muslim]. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena yang demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipat gandakan sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw termasuk kebaikan yang tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Qiyamullail&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika seseorang tetap melakukan shalat malam, maka wajahnya akan bercahaya dan dia juga akan merasakan kenikmatan beribadah dalam hatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh para Ulama Salaf berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang sering beribadat di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan bagi mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa malam aku tak suka hidup di dunia ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnul Mukandir: ”Bagiku kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, qiyamullail, bersilaturahmi dengan ikhwan dan shalat berjama’ah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Tazkiyatun Nufus oleh Dr. Ahmad Farid&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Amraadlul Qulub wa Sifaauha oleh Ibnu Thaimiyah&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-3002745939447760165?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/3002745939447760165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=3002745939447760165&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3002745939447760165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3002745939447760165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/05/tazkiyah-kepada-hati-yang-mati.html' title='Tazkiyah kepada Hati yang mati'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-3805634541279780667</id><published>2010-05-05T09:23:00.002+07:00</published><updated>2010-05-05T09:41:35.678+07:00</updated><title type='text'>Mencintai Allah Dan Rasul-Nya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mencintai Allah Dan Rasul-Nya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rokhmat S. Labib&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;20/04/2005   hyataulislam.net &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Qs. Ali-Imran [3]: 31-32).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sabab NuzulHasan bin Abi al-Hasan dan Ibnu al-Juraij menuturkan, ada beberapa kaum berkata kepada Nabi Saw, “Wahai Muhammad, sungguh kami mencintai Tuhan kami.” Kemudian turun ayat ini memerintahkan mereka untuk mengikuti Muhammad Saw sebagai bukti kecintaan mereka kepada Allah.*1)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair, ayat ini turun terkait dengan delegasi Nasrani Najran. Mereka datang kepada Nabi Saw dan menyatakan bahwa klaim mereka tentang Isa adalah karena kecintaan mereka kepada Allah.*2)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut sebagian lain, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku mencintai dan dicintai Allah, seperti yang diberitakan Allah SWT: Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 18).*3)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tafsir Ayat&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Al-Mahabbah (cinta) berarti kecenderungan jiwa pada sesuatu.*4)  Cinta itu muncul pada diri manusia karena ia meyakini kesempurnaan sesuatu yang dia cintai. Kesempurnaan hakiki hanya milik Allah SWT dan semua kesempurnaan yang ada pada makhluk juga berasal dari Allah. Ketika seorang hamba meyakini hal itu, maka tiada rasa cinta pada dirinya kecuali kepada Allah dan karena Allah. Keyakinan itu akan menuntunnya untuk menaati-Nya dan senang melakukan apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.*5) Karena itu, para ulama menafsirkan al-mahabbah li Allâh (cinta kepada Allah) sebagai kesediaan untuk menaati-Nya.*6)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ungkapan ayat ini bersifat umum mencakup siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah.*7)Siapa yang mengaku mencintai Allah harus membuktikannya dengan mengikuti Rasul-Nya, Muhammad Saw. Tugas beliau adalah menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh manusia. Melalui beliau, manusia dapat beribadah kepada Allah SWT secara benar, membedakan yang haq dan yang batil, yang diridhai dan yang dimurkai Allah, yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Semua yang beliau sampaikan adalah wahyu (Qs. an-Najm [53]: 4-5). Jadi, menaati Rasulullah Saw pada hakikatnya adalah menaati Allah SWT (Qs. an-Nisâ’ [4]: 80).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Ayat ini menegaskan wajibnya seluruh manusia mengikuti agama yang beliau bawa, Islam. Beliau diutus mengemban risalah untuk seluruh manusia. Sejak beliau diutus, semua agama selain Islam dinyatakan tidak sah dan tidak boleh diikuti dan harus ditinggalkan. Umar ra. menuturkan, Rasulullah Saw pernah bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa as. berada di tengah-tengah kalian, kamudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, maka sungguh kalian telah tersesat. Sesungguhnya kalian adalah bagianku dari umat-umat (yang ada) dan aku adalah bagianmu dari nabi-nabi (yang ada). [HR. Ahmad].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Katsir menjelaskan, “Ayat ini menegaskan, setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah, namun tidak berada di atas tharîqah (jalan atau sunnah) Mahammad Saw, sungguh dia telah berdusta dalam pengakuaannya itu, hingga dia mau mengikuti syariah dan agama Muhammad Saw dalam ucapan dan tindakannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Siapa saja yang melakukan suatu amal di luar syariah kami, maka amalnya tertolak. [HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah].*8)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perintah untuk mengikuti Rasulullah Saw tersebut juga menjadi dalil wajibnya mengambil as-Sunnah sebagai sumber hukum. Selanjutnya Allah SWT berfirman: yuhbibkumullâh wa yaghfirlakum dzunûbakum (niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu). Frasa ini merupakan jawaban atas perintah sebelumnya, sekaligus menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah SWT. Mereka yang dapat membuktikan cintanya kepada Allah, Allah akan membalas dengan mencintai mereka dan memberikan ampunan atas dosa-dosa mereka. Bagi orang yang berakal, janji itu sangat menggiurkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mahabbatullah (kecintaan Allah) adalah ridha dan pujian Allah terhadap perbuatan mereka,*9) dan pemberian pahala kepada mereka.*10) Manusia juga amat membutuhkan ampunan Allah WT. Sebab, hanya nabi dan rasul saja yang bebas dari dosa dan kesalahan. Keridhaan, rahmat, pahala, dan ampunan dari Allah SWT akan mengantarkan seseorang ke surga yang penuh kenikmatan. Siapapun harus bersemangat dan sungguh-sungguh membuktikan cinta kepada Allah karena Wallâh Ghafûr Rahîm (Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Allah kembali menegaskan kewajiban taat kepada Allah dan Rasul Saw, Qul athî’ûllâh wa al-rasûl (Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul.”). Ini membantah anggapan bahwa yang wajib diikuti hanya al-Qur’an saja. Ayat ini hanya menyatakan perintah untuk taat tanpa menjelaskan apa yang harus ditaati. Artinya, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya itu bersifat umum, meliputi semua perintah dan larangan.*11)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selanjutnya Allah SWT mengingatkan, Fa in tawallaw (jika kalian berpaling), yakni jika kalian menolak dan mengingkari kewajiban taat itu, fa inna Allâh lâ yuhibb al-kafirîn. Hal menunjukkan, tindakan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan kekufuran.*12) Mereka tidak dicintai Allah, tidak diridhai dan tidak diampuni dosa-dosanya.*13)Malah mereka layak mendapat celaan, laknat dan azab.*14)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa Faedah Dari Ayat Ini&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertama, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;cinta kepada Allah dan Rasul Saw adalah wajib; bukan sekadar cinta, namun kecintaan tertinggi. Allah dan Rasul Saw wajib dicintai melebihi segala yang ada, termasuk diri sendiri. Allah mengancam siapa saja yang lebih mencintai yang lain dibanding Allah. Rasul dan jihad di jalan-Nya. (Qs. at-Taubah [9]: 24). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anas juga menuturkan, Rasulullah Saw pernah bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah bin Hisyam bercerita:Suatu ketika Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi Saw berkata, “Tidak bisa. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Umar berkata, “Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi Saw bersabda, “Sekarang (baru benar), wahai Umar.” [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kecintaan itu tampak nyata ketika terjadi benturan antara ketetapan Allah dan Rasul-Nya, yakni ketetapan syariat, dengan hawa nafsu, kepentingan pribadi, keluarga, kerabat, dan segenap manusia. Jika ia benar-benar meletakkan cinta kepada Allah dan Rasulullah Saw di atas segalanya, ia akan mengikuti ketetapan syariat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedua,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; kecintaan kepada Allah dan Rasul Saw itu harus dibuktikan dalam sikap dan perbuatan. Seorang hamba akan mencintai semua yang dicintai Allah dan Rasul-Nya dan membenci semua yang dibenci oleh keduanya. Sebaliknya, jika ia menyukai apa yang dibenci dan membenci apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, itu adalah bukti kedustaan klaim cintanya. Bukti cinta seorang hamba adalah menaati syariat Islam secara total. Atas dasar cinta itu, ketaatan akan terasa ringan dan menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketiga, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;mengikuti Rasul Saw adalah wajib. Itulah satu bukti cinta kepada Allah. Orang yang melakukannya akan dicintai Allah dan mendapat ampunannya. Ini adalah qarînah (indikasi) yang menunjukkan perintah itu bersifat tegas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengikuti Rasul adalah mengambil semua yang diperintahkannya dan menjauhi semua yang dilarangnya (Qs. al-Hasyr [59]: 7) serta meneladani beliau (Qs. al-Ahzab [33]: 21).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keempat, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Allah SWT pasti membalas hamba yang benar-benar mencintai-Nya yang dia buktikan dengan menaati syariat-Nya yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Allah akan membalas dengan mencintai hamba-Nya itu dan memberikan ampunan atas dosa-dosanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kiat mendapat kecintaan Allah adalah dengan menunaikan semua yang diwajibkan dan menjauhi semua yang diharamkan. Agar lebih utama, ditambah dengan senantiasa menunaikan yang sunnah, meninggalkan yang makruh, dan mempersedikit yang mubah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam hadis qudsi, Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah SWT berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintai-Nya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar; menjadi matanya yang dengannya dia melihat; menjadi tangannya yang dengannya dia memegang; dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya; jika meminta perlindungan-Ku, niscaya Aku beri perlindungan.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; [HR. Bukhari].&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kelima, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw itu hanya akan dimiliki oleh orang yang beriman. Memang begitulah, karena mereka telah benar-benar beriman, yakni membenarkan secara pasti, sesuai dengan fakta dan berdasarkan dalil. Allah SWT berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (Qs. al-Baqarah [2]: 165).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sudahkah kita termasuk di dalamnya? Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [majalah al-wa’ie, Edisi 56]&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Catatan Kaki:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. As-Suyuthi, al-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr, ii/30, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1997; ath-Thabari, Jamî’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân,iii, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut.1992&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, ii/40, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut.1993&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. al-Khazin, Lubâ al-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, i/238, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995; Abd al-Haq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, i/422, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993 &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. asy-Syawkani, Fath al-Qadîr, i/333, Dar al-Fikr, Beirut. tt&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. al-Baydhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl, i/155-156, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;6. asy-Syawkani, Fath al-Qadîr, 1/333&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; 7. Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, ii/44&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;8, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 19938. Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîim, i/326, Dar al-Fikr, Beirut. 2000. Pernyataan yang dikemukakan oleh Burhanuddin al-Baqa’i, Nadzm al-Durar fî Tanâsub al-Ayât wa as-Suwar, ii/63, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;9. al-Zamahsyari, al-Kasyâf, i/519, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;10. Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, iv/17, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1990; Abu Ali al-Fadhl, Majmû’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, i/347, Dar al-Ma’rifah, Beirut&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;11. Abu Thayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, ii/219, Idarat Ihya’ al-Turats al-Islami, Qathar. 1989&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;12. al-Baydhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta’wîl,1/156&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;13. Abu Thayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân, v/154; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâ al-Qur’ân, ii/40&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;14. Nizham ad-Din al-Naysaburi, Tafsî Ghârâ‘ib al-Qur’ân, ii/142, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-3805634541279780667?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/3805634541279780667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=3805634541279780667&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3805634541279780667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3805634541279780667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/05/mencintai-allah-dan-rasul-nya.html' title='Mencintai Allah Dan Rasul-Nya'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-4701657805106807701</id><published>2010-03-19T10:28:00.004+07:00</published><updated>2010-03-19T10:35:06.546+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Bangsa Jepang</title><content type='html'>Budaya Pelayanan Jepang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penulis: M. Salahuddien - detikinet&lt;br /&gt;&lt;a href="http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=ad79472d&amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE" target="'_blank'"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kolom - Ketika saya kuliah S2 Jurusan Manajemen -- dalam pembahasan Etika Bisnis, Manajemen Internasional dan Pemasaran Internasional -- selalu ada bab khusus tentang perusahaan Jepang dan budaya bangsanya yang sangat spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab khusus ini membahas kemampuan penelitian dan pengembangan Jepang yang memang sangat maju dan unggul. Teknologi produksi yang canggih, efisien dan manajemen yang kuat. Namun pada puncaknya pembahasan akan sampai pada masalah pengaruh budaya yang sangat kuat yang melatarbelakangi praktek bisnis di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu budaya di Jepang dan telah kita pelajari sejak SD adalah praktik bisnis "dumping", yaitu menjual barang produk sendiri dengan harga lebih mahal di dalam negeri dibanding harga ketika barang yang sama dijual di luar negeri. Dumping adalah wujud nasionalisme konkret dan sekaligus strategi bisnis memenangkan persaingan di pasar internasional bangsa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti, selama berpuluh tahun, praktek dumping mampu meningkatkan kemakmuran bangsa Jepang, karena warganya sangat mencintai produk dalam negeri.Raksasa elektronik asal Korea yaitu Samsung, mengakui tidak sukses menaklukkan pasar di Jepang walaupun mereka sudah memberikan harga netto. Masalahnya adalah karena pasar di Jepang secara budaya telah terdidik untuk mencintai produk lokal dan memahami bahwa semurah apapun harga produk asing maka sebagian besar uangnya akan mengalir ke luar negeri, memperkaya bangsa lain. Artinya bangsa Jepang rugi. Sebaliknya, semahal apapun harga produk lokal sejenis, namun 100% uangnya akan kembali ke bangsa Jepang sendiri.Semua itu berlaku untuk produk apapun bukan hanya elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Produk China yang sangat murah dan berusaha masuk ke pasar konsumer kelas bawah pun kesulitan memenangkan pasar di Jepang. Misalnya, walaupun harga produk pakaian di Jepang sangat mahal, tetapi di toko-toko tradisional yang melayani masyarakat bawah sekalipun, produk pakaian China yang sangat murah tetap kurang laku. Selain karena nasionalisme tadi juga karena alasan kualitas. Bangsa Jepang memang sudah terbiasa menggunakan produk berkualitas yang akan mereka gunakan selama bertahun-tahun dengan setia -- loyalitas.Karena loyalitas pasar yang demikian tinggi, maka semua perusahaan di Jepang menjadi punya ikatan dan tanggung jawab moral serta penghormatan yang luar biasa kepada para konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga terbentuklah budaya pelayanan yang tidak tertandingi oleh bangsa lainnya di dunia ini. Bahkan sedemikian tertanamnya budaya ini sehingga menjadikan isu pelayanan sebagai urusan pribadi para eksekutif perusahaan Jepang yang menyangkut harga diri dan integritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang top eksekutif perusahaan Jepang mengundurkan diri karena gagal memberikan pelayanan terbaiknya kepada konsumen atau cedera janji dan sejenisnya.Salah satu kasus terbaru adalah permintaan maaf eksekutif tertinggi sekaligus pemilik brand Toyota kepada masyarakat China akibat kegagalan produknya mobil RAV4 yang mengalami gangguan pada pedal gas -- ini juga mengakibatkan kecelakaan tragis beberapa waktu lalu di Jakarta. Tidak cukup hanya menarik produk, sang pemilik sampai memerlukan datang dan memberikan pernyataan terbuka di China, membungkuk berkali-kali di depan media serta tidak berhenti meminta maaf dan menyatakan, "dalam setiap produk Toyota terdapat nama keluarga saya". Artinya walau itu masalah bisnis, namun bagi mereka itu menjadi tanggung jawab moral dan harga diri (integritas) sebagai pribadi mewakili keluarga besar klan Toyota.Kegagalan memberikan pelayanan terbaik adalah cacat, dosa yang tidak tertanggungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Januari yang lalu, kebetulan saya dan sejumlah rekan kerja mengikuti training di AOTS Tokyo, Jepang, selama dua minggu. Ada satu pengalaman berkesan ketika berbelanja di OIOI yaitu salah satu jaringan department store terbesar di Jepang. Ketika itu rekan kami membeli sejumlah barang, sepasang setelan blazer untuk acara penutupan, koper tambahan karena  "pembengkakan" barang bawaan, beberapa CD untuk merekam foto kenangan dan sasaran yang terakhir sepasang sepatu boots. Maklum winter sale hingga 70% membuat rekan kami jadi susah tidur kalau belum belanja. Yang tidak kami sadari adalah, pada saat kami sibuk memilih dan mencoba aneka barang di mal tersebut, ternyata waktu telah menjelang pukul 22.00 waktu setempat. Sementara mal itu seharusnya tutup pukul 20.30. Anehnya, walaupun seluruh lantai dimana kami masih sibuk berbelanja sudah sepi pengunjung, namun ternyata petugas sales di semua counter -- bukan hanya di counter tempat kami belanja -- tetap siap sedia melayani. Tak ada satupun petugas yang menegur kami untuk sekedar mengingatkan bahwa mal telah tutup dan kami bahkan telah melewatkan injury time dan perpanjangan waktu sekaligus. Mereka tetap tersenyum menunggu kami selesai bahkan membawakan barang belanjaan sembari mengantarkan, menunjukkan arah kemana harus keluar karena semua pintu telah ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih berkesan lagi, justru sepanjang jalan si sales tidak berhenti meminta maaf dan berterima kasih, termasuk kasirnya, sales lain sepanjang koridor yang kita lewati dan bahkan satpamnya.Luar biasa. Belum pernah seumur hidup kami mendapatkan pelayanan semacam itu. Tanpa diminta, karena mengetahui kami adalah orang asing, mereka juga menunjukkan pintu dan arah yang terdekat untuk menuju stasiun Metro Subway dan Bus-Taxi stop -- padahal kami sebenarnya cuma jalan kaki saja. Suatu pertunjukan dedikasi penuh yang kalau dipikirkan barangkali "ulah" kami tersebut bakal menimbulkan kesulitan bagi semua karyawan yang tadi melayani kami. Sales, kasir, satpam, semuanya kebanyakan adalah kaum urban yang tinggal jauh di pinggiran Tokyo. Mereka harus menumpang Metro Subway selama sedikitnya dua jam dalam cuaca dingin menggigit yang malam itu saya cek mencapai minus 4 derajat celcius.Saya jadi membandingkan dengan budaya pelayanan kita. Seandainya kita berbelanja lewat waktu di salah satu mal termewah di Jakarta sekalipun, pasti kita akan berhadapan dengan situasi yang sebaliknya, tidak menyenangkan. Jangankan dilayani, bahkan mungkin kita akan diperingatkan setengah diusir. Sudah pasti kalau belanja lewat waktu, tidak akan ada sales yang mau melayani bahkan saya pernah ditolak kasir saat akan membayar karena mesinnya telah dimatikan sehingga harus berputar jauh ke kasir yang masih on. Lebih parah lagi tidak jarang lampu telah dipadamkan sehingga harus kesulitan dan kebingungan berjalan dalam gelap. Ketika ingin keluar, semua pintu telah ditutup, tidak ada yang mau menunjukkan ke mana jalan yang harus dilalui sehingga akhirnya terpaksa ikut rombongan karyawan yang pulang melewati lorong darurat. Penderitaan belum berakhir, dengan barang bawaan yang cukup banyak terpaksa masih harus berjalan jauh melewati "jalur tikus" lainnya menuju ke tempat parkir. Masih untung kalau lokasi parkirnya juga belum digembok oleh satpam.Ketika kami berkunjung ke sebuah lokasi wisata Kamakura -- dua jam dari Tokyo, beberapa kesan pelayanan juga kami alami. Di sebuah toko kelontong, pemiliknya sepasang suami isteri yang sudah sangat berumur terlihat masih bersemangat dan dengan tekun melayani pengunjung.Tanpa diminta mau menjelaskan berbagai macam benda "aneh" yang dijual di tokonya, seperti jam pasir kayu ukuran mini yang betul-betul berfungsi (durasi 1 menit). Penjelasan dengan bahasa inggris terbata-bata tetap mereka berikan dengan senyuman.Kemudian pada saat makan malam kami memilih sebuah rumah makan sederhana di dekat stasiun. Ternyata seluruh awaknya adalah pemuda-pemuda yang dengan sigap bersemangat dan ramah melayani pengunjung. Jenis makanan yang kami pesan adalah sejenis martabak telor, namun harus dimasak sendiri. Karena kami kebingungan bagaimana cara masaknya, para pemuda yang melayani itu tidak segan membantu kami memberikan contoh bagaimana cara memasaknya bahkan memberikan beberapa trik. Dia bahkan menunggui kami sampai berhasil membuat masakan itu dan mau menyediakan tambahan telur yang kami minta.Ilustrasi di atas adalah contoh nyata bagaimana budaya pelayanan sudah sedemikian dalam dihayati dan diamalkan oleh bangsa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya department store besar tetapi juga toko kelontong. Sikap ini ternyata diturunkan dari warga senior hingga ke generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika minggu lalu Sony AK, sahabat saya, menyampaikan keluhan karena mendapat somasi dari Sony Corp salah satu ikon raksasa elektronik asal Jepang, saya merasa kaget. Bukan karena masalah substansi kasusnya -- karena sebenarnya sengketa domain itu biasa -- namun saya kaget mengingat "ancaman" tindakan hukum bukanlah budaya bisnis Jepang. Bahkan sangat bertentangan dengan etika yang mereka anut. Mereka memilih pendekatan kekeluargaan dan lebih baik memberikan kompensasi daripada cari ribut. Terutama para manajemen senior, umumnya tidak menyukai kontroversi apalagi sampai di ranah publik. Mereka lebih khawatir cedera kehormatan dan mendapat malu daripada kerugian.Karena itu, permasalahan hukum sengketa bisnis sangat jarang terjadi di Jepang. Apalagi kepada pihak konsumen atau individu yang dianggap merugikan. Tindakan hukum jelas bukan pilihan.Dunia bisnis Jepang selalu mengingat pengalaman buruk di masa lalu dan mengambil suatu sikap yang tegas dan antisipatif untuk mencegah hal sama terulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Aji No Moto yang diduga mengandung lemak babi menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sony Corp sendiri punya pengalaman buruk ketika produknya sempat diboikot beberapa tahun yang lalu saat menutup pabriknya di Indonesia. Apalagi secara emosional, seringkali pada akhirnya produk Jepang akan dikaitkan dengan praktek imperialisme di masa lalu yaitu ketika Perang Dunia II dan sebelumnya. Perusahaan Jepang sepenuhnya menyadari sentimen psikologis ini di semua negara kawasan Asia Pasifik. Hal ini akan selalu menjadi pertimbangan serius apalagi Indonesia adalah salah satu pasar utama dan terpenting ditengah persaingan dengan China.Secara spesifik, dalam kasus sengketa domain, walaupun Sony Corp dalam beberapa tahun belakangan telah menghadapi 19 kasus hukum sejenis, namun mereka tetap memperhatikan dampak yang diakibatkan oleh kasus Nissan vs Nissan di Amerika. Kemerosotan penjualan produk Nissan di Amerika tidaklah sebanding dengan kepentingan atas domain dan merek tersebut.Fakta bahwa Nissan tidak sepenuhnya diakui sebagai brand Jepang tidaklah serta merta menghilangkan dampak sentimen psikologis beban sejarah masa lalu bangsa Jepang.Artinya dalam kasus Sony vs Sony ini, bisa jadi Sony Corp tidak ingin mengulang blunder yang dilakukan Nissan apalagi secara hukum kemungkinan menang sangat kecil. Potensi risiko yang akan dialami seperti kemungkinan mendapat somasi perlawanan, boikot produk hingga tekanan internal dari pebisnis Jepang lainnya seandainya kasus ini meluas menjadi gerakan anti produk Jepang, akan jauh lebih besar dan tidak sebanding dengan nilai nama domain itu sendiri, apalagi Sony Corp sudah memiliki domain resmi sendiri. Beda situasi dengan Nissan yang belum memiliki domain resmi dan terlanjur digunakan oleh pihak lain.Maka tindakan Sony Corp yang langsung meminta maaf kepada Sony AK dan menghentikan kuasa hukumnya sesungguhnya adalah sikap yang sejati, sesuai dengan budaya bisnis yang dianut oleh bangsa Jepang. Walau seharusnya tindakan itu dapat dilakukan lebih cepat yaitu akhir pekan lalu sebelum kerusakan serius benar-benar terjadi. Saat ini, ketika lebih dari 15 ribu dukungan terhadap Sony AK telah diperoleh di Facebook dan internet, juga diberitakan luas oleh semua media nasional, maka sebenarnya untuk memulihkan kredibilitas Sony Corp sudah sepantasnya apabila disampaikan permintaan maaf yang lebih terbuka kepada publik.Pelajaran terpenting dari kasus ini adalah sudah sepatutnya kita meniru budaya malu serta integritas bangsa Jepang dalam memberikan pelayanan dan penghormatan terhadap pasar. Termasuk penghargaannya terhadap karya bangsa sendiri dan kecintaannya menggunakan produk lokal, betapapun mahalnya. Sebab dengan cara itulah bangsa Jepang mampu untuk bangkit dari keterpurukan masa lalu. Karena loyalitas konsumennya maka semua produsen Jepang bisa melakukan improvement terhadap produknya yang semula berkualitas rendah menjadi terpacu semakin baik hingga tak tertandingi. Karena kepercayaan segenap bangsa.Semoga kasus Sony Corp vs Sony AK ini membuka mata kita semua dan mendorong semangat baru untuk bekerja dengan etika dan dedikasi yang tinggi sebagai penghormatan kepada semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah praktisi internet dan multimedia. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak berkaitan dengan jabatannya sebagai Wakil Ketua Tim Pengawas Keamanan Internet ID-SIRTII.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-4701657805106807701?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/4701657805106807701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=4701657805106807701&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4701657805106807701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4701657805106807701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/03/belajar-dari-bangsa-jepang.html' title='Belajar dari Bangsa Jepang'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-7957498887324095690</id><published>2010-03-10T10:33:00.002+07:00</published><updated>2010-03-10T10:37:02.072+07:00</updated><title type='text'>MENYIKAPI KEGUNDAHAN HATI</title><content type='html'>MENYIKAPI KEGUNDAHAN HATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dustur Ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai jiwa yang muthmainnah (tenang),&lt;br /&gt;kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya&lt;br /&gt;Qs. Al-fajr [ 89 ]:27-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukaddimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah. Kepada-Nyalah bermuara segala pujian, sebab Dialah yang memang pantas mendapat pujian, karena segala sesuatu di dunia ini adalah milik-Nya. Sholawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, dialah Nabi akhir zaman yang kehadirannya ketengah-tengah ummat membawa kesejukan dan perginya meninggalkan kesan kebaikan. Bahkan terutusnya beliau mampu merubah keraguan menjadi keyakinan dan kegelisahan menjadi ketenangan, sehingga jelasnya arah kehidupan yang sebelumnya diselimuti awan kejahiliyahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita selalu memahami bahwa hidup tidak selamanya diselimuti kebahagiaan. Ada saat kebahagian itu begitu indah kita rasakan, tetapi pada saat yang lain kesedihanpun datang menghampiri. Ada saat hati kita di selimuti kesenangan yang dalam, tetapi pada saat lain kesedihanpun datang mengunjungi diri. Itulah dua keadaan hidup yang datang silih berganti.&lt;br /&gt;Sahabat, gelisah terkadang datang menyelimuti hati, betapapun kita berusaha menepisnya. Tetapi semakin kita tepis justru semakin berat kegelisahan. Sesungguhnya tidak ada obat yang paling mujarab ketika penyakit itu datang. Kecuali kita harus terus mencari apa yang menyebabkan kita gelisah. Karena hadirnya setiap perasaan yang gelisah tidaklah mungkin datang dengan sendirinya kecuali ada sesuatu sebab yang mengawalinya. Gelisah adalah satu bentuk dari persoalan bahtin yang pasti akan datang. Dan tidak bisa tidak, siapapun pasti merasakannya.&lt;br /&gt;Kenapa kita gelisah, dan bagaimana meredam gelisah hati, ikuti terus goresan pena sederhana ini. Mudah-mudahan dapat menemukan jawab dari pertanyaan bathin. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kita Gelisah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara yang muliakan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelisah kerap hadir melanda hati, dan bila perasaaan ini datang hari-hari dicekam perasaan sepi, kekhawatiran terus datang menemani kesunyian diri, dan terkadang hidup merasa tidak berarti. Bila gelisah bertambah resah, terasa hidup semakin susah, beraktivitaspun selalu serba salah, terkadang bingung kemana harus melangkah.&lt;br /&gt;Itulah kenyataan hidup yang sering kita temui pada sebagian orang, atau mungkin kita sendirilah orangnya. Sering kali jika kegelisahan datang, ia harus dibayar dengan harga yang mahal, karena ia sangat menyita banyak waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Hasilnya; wajah terlihat menjadi kusut dan hidup menjadi semraut.&lt;br /&gt;Memang sulit di mengerti, kenapa gelisah terkadang datang menyelimuti hati. Betapapun kita berusaha menepisnya, tetapi semakin kita tepis justru semakin berat kegelisahan.&lt;br /&gt;Tidak ada obat yang paling mujarab ketika penyakit itu datang. Kecuali kita harus terus mencari apa yang menyebabkan kita gelisah. Karena hadirnya setiap perasaan tidaklah mungkin datang dengan sendirinya kecuali ada sesuatu sebab yang mengawalinya.&lt;br /&gt;Beberapa psikolog mengatakan: gelisah dan cemas adalah wajar dan di miliki setiap orang. Bukankah setiap hari kita selalu dihadapkan pada masalah-masalah hidup?. Memang, hidup tak bisa lari dari permasalahan. Karena semakin lari dari masalah, hidup semakin bermasalah.&lt;br /&gt;Cara terbaik menyelesaikan masalah adalah dengan jalan mencari tahu akar masalah. Sehingga kegelisahan tidak mendatangkan banyak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua:&lt;br /&gt;Penyebab Kegelisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang menyebabkan hadirnya kegelisahan. Ada gelisah karena hadirnya kesadaran yang dalam tentang prilaku diri, sadar banyak melakukan kesalahan. Dan kegelisahan seperti ini menandai sedang menguatnya keimanan. Hasilnya, perasaan khawatir datang saat ia merasakan begitu banyak melalaikan kewajiban. Dan kekhawatiran ini adalah kekhawatiran yang positif.&lt;br /&gt;Ada juga gelisah karena faktor kekhawatiran yang berlebihan tentang kehidupan, yang di tandai dengan adanya ketakutan dalam beberapa hal. Seperti takut miskin, takut kehilangan harta, takut di tinggal oleh orang yang di cinta, takut kerjanya di PHK, takut tidak dapat jodoh atau takut tiba-tiba kematian datang menjemputnya.&lt;br /&gt;Gelisah yang kedua ini biasanya disebabkan karena keyakinan yang lemah tentang kebenaran yang datang dari Allah. Dan ini menandakan sedang melemahnya keimanan. Dan yang ketiga ada gelisah karena di kejar rasa bersalah, entah salah kepada diri sendiri, kepada orang lain, lebih-lebih kepada Allah. Hal ini disebabkan karena kita pernah melakukan dosa dan kemaksiatan atau prilaku yang kurang pantas, sehingga menyebabkan jiwa tidak tentram, hidup tidak nyaman karena di kejar rasa bersalah yang terus menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Gelisah Karena Menguatnya Keimanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan yang seperti ini bisa disebut kegelisahan yang positif, karena itu didorong oleh keinginan untuk selalu menyempurnakan kebaikan. Beberapa hal yang menandakan gelisah karena menguatnya keimanan, yaitu: hadirnya rasa takut kepada Allah. Kegelisahan jenis ini hadir karena kita menyadari begitu sering melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;Kesalahan itulah yang meyebabkan hati kita bertambah resah. Perasaan takut (khauf) dan harap (Rajaâ€™) bercampur menjadi satu. Takut jika kesalahan (dosa) tidak terampuni dan harap agar dosa dan kesalahannya dapat terampuni.&lt;br /&gt;Bagi pribadi muslim perasaan khauf (takut) adalah ungkapan derita hati dan kegundahan terhadap apa yang dihadapinya. Dan khauf (takut) inilah yang mencegah diri dari perbuatan maksiat dan mengikatnya dengan bentuk-bentuk ketaatan.&lt;br /&gt;Semakin ia mengetahui aib dirinya dan mengetahui keagungan Allah, kemahamulyaan-Nya dan hadirnya kesadaran bahwa setiap perbuatannya kelak akan dipertanggungjawabkan, maka kegelisahannya akan semakin kuat, rasa takutnya akan semakin meningkat.&lt;br /&gt;Buah dari perasaan khauf ini adalah, ia akan mampu menguasai segala kegundahan dan tahu bahayanya. Hasilnya; Tiada lagi kesibukannya selain usaha untuk mendekatkan diri, muhasabah, mujahadah. Bahkan ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah dan kalimat yang keluar dari dirinya.&lt;br /&gt;â€œSesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Rabb mereka. Dan orang-orang beriman kepada Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka (dengan sesuatupun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegara berbuat kebaikan, dan merekalah orang-orang yang pertama-tama memperolehnya.â€&lt;br /&gt;Yahya bin Muazd berkata: â€œjika seorang mukmin melakukan kemaksiatan, ia pasti menindaklanjutinya dengan salah satu dari dua hal yang akan menghantarkannya kesurga; takut akan siksa dan harapan akan ampunanâ€.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Gelisah Karena Lemahnya Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kegelisahan jenis ini, ada dua motif yang menghadirkannya. Pertama, motif yang keluar dari dorongan syahwat seksual, kedua motif karena dorongan cinta yang berlebihan pada harta, atau yang selalu terkait dengan keduniaan.&lt;br /&gt;Kegelisahan yang disebabkan dua hal ini cenderung menguat, dan ketika tidak mampu meraih apa yang di inginkan nafsunya, gelisah akan semakin bertambah resah. Kegelisahan yang seperti ini menandai lemahnya daya tahan keimanan,&lt;br /&gt;Dalam pandangan psikologi, dua hal yang melatar belakangi hadirnya kegelisahan adalah karena lemahnya rasa percaya diri. Tetapi jika rasa percaya diri kita kuat tidak akan menimbulkan kegelisahan. Selain itu, kegelisahan hadir karena angan-angan yang tidak realistis, atau terlalu berlebihan mengharapkan sesuatu tetapi tidak di imbangi dengan kemampuan. Tetapi yang lebih pasti adalah kegelisahan hadir karena keyakinannya akan taqdir tidak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Kegelisahan yang hadir karena menyadari&lt;br /&gt;betapa banyak dosa dan kesalahan,&lt;br /&gt;adalah wujud dari kesadaran iman.&lt;br /&gt;Sebab orang orang-orang yang beriman&lt;br /&gt;akan senantiasa resah jika ketaatannya berkurang.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;br /&gt;Kegelisahan orang beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah diungkapkan diatas, bahwa kegelisahan orang-orang beriman hadir manakala dia merasa begitu banyak dosa dan kesalahan atau merasa bahwa ibadahnya belum sempurna.&lt;br /&gt;Dan kesadaran itu membuat ia terus berusaha untuk menyempurnakannya. Sebab baginya hidup adalah untuk mempersembahkan yang terbaik untuk kehidupan yang kekal (akhirat). Dunia bukanlah tujuannya, tetapi hanya perantara untuk menggapai keridhoan. Mereka selalu menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian.&lt;br /&gt;Kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman adalah ketika dapat melakukan ketaatan, dan kegelisahan mereka adalah ketika semakin berkurangnya kebaikan. Ketika mereka menghadapi musibah, selalu di sikapi dengan tabah. Ketika kesulitan datang menghampiri, ia tidak berkecil hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hadirnya sikap seperti itu tidak lain karena ia mampu menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan. Sebab dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya inspirasi dalam kehidupan, akan menghadirkan sikap optimisme dan kebesaran jiwa yang mantap.&lt;br /&gt;Imam Syafiâ€™I rahimahullah bertutur: :Gelisah, berkeluh kesah, tidak sabar adalah tanda jiwa yang fakir. Kemiskinan lebih baik dari kekayaan yang berlaku aniaya pada si fakir. Sungguh jiwa yang selalu puas, itulah jiwa yang kaya, walaupun melelahkan, karena segala yang ada di alam raya ini tak pernah memberikan kepuasanâ€&lt;br /&gt;Itulah kekuatan iman, yang selalu menyadari bahwa jika Allah menghendaki segala sesuatu, maka tidak ada kemampuan bagi kita untuk mengelaknya. Dengan kesadaran dan keyakinan ini, seorang mukmin akan terbebas dari ketakutan, kelemahan dan keresahan disamping terhiasi dirinya dengan kesabaran, kekuatan dan keberanian.&lt;br /&gt;â€œKatakanlah: â€œsekali-kali tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami.ialah pelindung kami, dan hanya Allah-lah orang-orang beriman harus bertawakkalâ€.&lt;br /&gt;(Qs. At-Taubah [9]:51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang budiman&lt;br /&gt;Bila kita serahkan hidup ini dengan berbagai persoalannya kepada Allah yang didasarkan atas keyakinan yang mutlak kepada-Nya., akan membuat hati dan jiwa tegar dan teguh dalam menghadapi berbagai problem dan tantangan kehidupan. Karena itu, mengimani Allah dengan berbagai atribut-Nya, baik sifat maupun perbuatan-Nya, adalah suatu keharusan mutlak. Sebab itulah kunci membuka tirai kebahagiaan.&lt;br /&gt;Allah, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki -Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besarâ€ (Qs. Al-Baqarah [2]:255)&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada rumah sakit yang teduh untuk bernaung kecuali berlindung di bawah kekuasan-Nya.Karena hanya Dialah tempat kita berlindung&lt;br /&gt;dari semua keadaan diri kita.&lt;br /&gt;Kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman adalah;ketika dapat melakukan ketaatan, dan kegelisahan mereka adalah; ketika semakin berkurangnya kebaikan.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;br /&gt;Meredam Gelisah Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara yang budiman&lt;br /&gt;Sahabat, Sejak dulu hingga hari ini, berbagai pergulatan dan hidup terus kita lakukan demi sebuah kebahagiaan, bila perlu nyawapun kita pertaruhan. padahal, sejauh apapun kita melangkah untuk mengejar kebahagiaan tak akan pernah kita dapatkan, kalau tolak ukurnya adalah keduniaan. Sebab sifat dunia tak pernah memberi kepuasaan.&lt;br /&gt;Dan ketidak puasan itulah faktor utama penyebab ketidak bahagiaan, dan akhirnya perasaan gelisah selalu datang. Selain ketidakpuasan menerima kenyataan, ketidaksabaran juga merupakan pintu masuk kegelisahan. Sebab orang yang tidak sabar menantikan sesuatu hidupnya selalu gelisah.&lt;br /&gt;Akhirnya, hanya satu kiat yang dapat meredam gelisah hati dan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu hadirkan sifat qonaâ€™ah (menerima) apa yang telah Allah berikan. Sebab orang yang qonaâ€™ah terhadap apapun yang diberikan jiwanya akan tenang. Hatinya tidak menuntut mencapai sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya dan tidak melirik kepada orang yang berada diatasnya. Tentu saja sifat ini tidaklah hadir dengan sendirinya tanpa faktor utama yang mendorongnya. Dan faktor itu adalah keimanan yang benar dan amal sholeh yang ikhlas.&lt;br /&gt;Ketenangan bathin (muthmainnah qalbu) selalu menghiasi orang-orang yang selalu qonaah. Ekspresi dan perbuatan lahirnya senantiasa terkendali. Maka yang nampak dari luar adalah pribadi yang benar-benar tenang, mantap dan penuh wibawa. Rasulullah menasehati kita agar dalam menjalani hidup jangan tergesa-gesa, sebab sikap itulah yang menyebabkan kegelisahan selalu datang. Beliau bersabda: â€œWahai manusia, bersikap tenanglah kalian, karena kebaikan itu tak pernah ada dalam ketergesa-gesaan1â€ (Hr. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Orang yang qonaah selain memiliki ketenangan juga memilki pendirian yang kuat, ia sadar akan segala kelemahan yang ada padanya dan beersandar hanya kepada Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima ;&lt;br /&gt;Kunci Agar Tidak Gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, apa yang menyebabkan orang-orang beriman tetap bertahan dalam gelombang cobaan dan ujian, sehingga ia tidak gelisah, khawatir bahkan tidak di hantui rasa takut yang berkepanjangan. Beberap faktor yang tetap memperkuatnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mempercayakan urusan hanya kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dan prilaku kita dalam hidup keseharian merupakan cerminan dari akidah yang ada dalam hati kita. apabila aqidah yang tersimpan dalam hati kita baik, maka jalan yang di tempuhpun akan baik lagi lurus. Tetapi bila aqidah telah rusak, jalanpun menjadi bengkok. Hidup akan semakin gelisah, di liputi kebimbangan, sempit dan penuh kejenuhan. Tetapi tidak akan terputus karunia jika kita memohon kepada Tuhan, dan akan muncul persoalan yang menyusahkan jika kamu meminta kepada dirimu sendiriâ€.&lt;br /&gt;Itulah ungkapan ahli hikmah yang sarat makna. Betul, bahwa mempercayakan segala sesuatu hanya kepada Allah adalah sikap bijak seorang hamba. Allah, Dialah yang maha tahu segala apapun yang kita inginkan, sebab karena Dialah yang menciptakan kita. Percaya sepenuhnya tanpa keraguan sedikitpun adalah unsur positif yang akan melahirkan tindakan yang positif. Karena sifat ragu terhadap kebenaran adalah cerminan dari seorang yang lemah, hilang harapan dan rapuhnya keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ikhlas berbuat hanya karena Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub hanya kepada Allah semata. Dan sikap ini hanya akan datang dari seseorang yang mencintai Allah dan menggantungkan seluruh harapannya kepada Allah. Ketika ikhlas telah menyelimuti diri kita maka akan lahir sifat rela terhadap semua yang Allah berikan, hatta itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;Biasanya kegelisahan yang datang kepada kita, karena kecenderungan kita kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Maka resep untuk menghadirkan ikhlas adalah dengan memupus kesenangan-kesenangan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia dan mengusahakan hati agar selalu terfokus kepada kepentingan akhirat.&lt;br /&gt;Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan: bahwa ikhlas mampu melahirkan ketenangan jiwa dan ketentraman hati. Dan ikhlas juga mampu membebaskan manusia dari segala bentuk ketidakstabilan dan kegoncangan jiwa karena orientasi dan keinginan manusia yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Berhias diri dengan sifat ikhlas dan jujur akan mengantarkan setiap individu mencapai keselamatan dan keberhasilan. Keikhlasan merupakan senjata penyelamat yang paling ampuh bagi seseorang dalam menghadapi setiap cobaan, sehingga tidak timbul kegelisahan yang membebani. Orang yang ikhlas karena Allah, selalu memahami bahwa hidup dan kehidupan tidaklah ada tanpa Allah yang menghidupkan. Maka ketenangan selalu menghiasi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tidak menyandarkan diri kepada kekuatan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa manusia yang miskin meminta kepada sesama manusia yang juga miskin serupa dirinya?. Mengapa manusia yang lemah meminta pertolongan kepada sesamanya yang juga lemah?. Apa alasan kita mengharap dari seseorang , sementara ia sendiri tidak bisa menepis lalat yang menerjangnya?. Bakteri yang lebih kecil dari lalat, mampu merenggut kesehatan orang-orang yang â€œgagahâ€ dan iapun kelabakan mengembalikan kesehatannya akibat serangan bakteri-bakteri itu.&lt;br /&gt;â€œWahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walau mereka bersatu untuk menciptakannya, dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang meyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.â€. (Qs. al-Hajj [22]:73)&lt;br /&gt;Betapa banyak diantara kita yang dihempaskan dan dihinakan oleh ketamakan dan harapan-harapannya kepada makhluk sesamanya. Tidak sedikit hak-hak yang terbengkalai, kemaslahatan yang terabaikan, dan keadaan-keadaan menjadi tidak lurus karena ketamakan jiwa. Sehingga kegelisahanpun tidak bisa di redam.&lt;br /&gt;Kemudian, solusi terbaik agar jiwa tidak cepat rapuh dan gelisah adalah; sandarkan hidup kita kepada Dia yang maha hidup. Lalu cukupkan diri dengan selalu mengharap karunia-Nya. Jangan berharap berlebihan kepada manusia, melebihi harapan kita kepada Allah. Sebab terkadang hanya kekecewaan yang kita dapatkan. Tetapi ketika setiap harap hanya tertuju kepada Allah, akan kita dapatkan Dialah sebaik-sebaik pemberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Selalu mengakui kekurangan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang lemah percaya dirinya, tetapi besar gengsinya. Ia akan berusaha menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Rasa takut dan malu jika kekurangannya diketahui orang akan menambah kegelisahannya semakin dalam. Dan sering kali ketidak percayaan diri ini bukan saja mendatangkan gelisah, tetapi juga stress. Semuanya ini akibat ketidak mampuan menerima kenyataan hidup.&lt;br /&gt;Allah, Dialah yang menciptakan kita dari tidak ada menjadi ada. Kesempurnaan hanya milik Allah. Menyadari bahwa kita hanya sebagai hamba, mengharuskan kita untuk menerima segala takdir yang telah ditetapkan-Nya. Oleh karenanya, seorang muslim sangat menyadari tentang segala kekurangan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Selalu Berhati-hati terhadap nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Muhammad Saw memasukan hawa nafsu kedalam hal yang dapat membinasakan, beliau bersabda: â€œAda tiga hal yang dapat membinasakan; kekikiran di yang patuhi, hawa nafsu yang ikuti dan kesombongan seseorang terhadap dirinya sendiriâ€.&lt;br /&gt;Muhammad bin Abdul Qawi Al-Mardawi dalam Mandhumatul Adab mengatakan; â€œKala hawa nafshu itu di tekan, akan lahir kemuliaan; dan saat keinginannya di penuhi disitulah ada kehinaan yang abadiâ€.&lt;br /&gt;Pernah disebutkan; Hawa nafsu itu pembohong yang tidak bisa di percaya, melepasnya akan mendorong untuk mencari kenikmatan berikutnya tanpa memikirkan dampak negatifnya. Ia pun memotivasi untuk mendapatkan syahwat yang lebih cepat. Maka berhati-hati terhadap dorongan nafsu, karena tidak ada seorangpun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah memenangkan pertarungan atasnya. Nafsu itu selalu menyeru kepada sikap durhaka dan mendahulukan kehidupan dunia. Sedangkan Allah menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari hawa nafsunya.&lt;br /&gt;â€œDan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang beri rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyayangâ€.&lt;br /&gt;(Qs. Yusuf [12]:53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Selalu berbaik sangka kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sifat yang selalu mendatangkan ketenangan adalah berbaik sangka kepada Allah. Sifat ini akan membentengi kita dari rasa takut dari apapun yang terjadi. Terutama terkait dengan hal-hal yang terasa memberatkan diri, seperti saat menyikapi setiap kegagalan misalnya.&lt;br /&gt;Orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah tidak langsung memponis keburukan ketika ia datang kepadanya. Tetapai selalu meyakini bahwa ada hikmah dibalik semuanya, karena tidaklah Allah ketika memberikan ujian, kecuali Allah mengetahui bahwa kita mampu untuk menyelesaikannya.&lt;br /&gt;â€œâ€¦Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui (segala akibatnya secara pasti)â€. (Qs. Al-Baqarah [2]:216)&lt;br /&gt;Ketahuilah, segala sesuatu yang kita lakukan adalah reaksi langsung dari apa yang ada dalam pikiran kita. jika pikiran kita selalu diselimuti baik sangka terhadap sesuatu, niscaya kehidupan kita pun anak selalu nampak baik.&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah â€“ seorang mujtahid besar- ketika dalam tekanan yang menyakitkan, beliau berkata:&lt;br /&gt;â€œApa yang di lakukan musuh-musuhku?, tamanku dan surgaku berada dalam dadaku. Membunuhku sama dengan mati syahid, mengasingkanku sama halnya dengan bertamasya, memenjarakanku sama halnya dengan berkhalwat (menyendiri dari keramaian).&lt;br /&gt;Itulah sikap dari seorang alim yang dalam keadaan apapun selalu berbaik sangka. Sehingga hidupnya selalu diselimuti kebahagiaan, dan tidak ada kegelisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;â€œKala hawa nafshu itu di tekan, akan lahir kemuliaan;&lt;br /&gt;dan saat keinginannya di penuhi disitulah ada kehinaan&lt;br /&gt;yang abadiâ€.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh&lt;br /&gt;Sejumput Renungan&lt;br /&gt;Iman, kunci ketenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang beriman diibaratkan sebuah gunung yang tegar. Sekalipun dunia disekeliling gocang, angin topan menerjang, petir bergemuruh, sungai meluap banjir, dan gelombang lauatan menggunung, tetepi ia tetap tegar tidak bergeming, kokoh tidak tergoyahkan. Ia menancapkan kakinya dihamparan pintu kekuasaan Allah, meletakkan tangannya dalam naungan kasih sayang Allah, serta mempertautkan kehidupannya dengan Allah.&lt;br /&gt;Dan selogan yang selalu di pegang oleh orang beriman adalah apa yang telah di firmankan Allah kepada Rasul-Nya:&lt;br /&gt;â€œKatakanlah: â€œsekali-kali tiak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allaha orang-orang yang beriman harus bertawakkalâ€. (Qs. At-Taubah [ 9 ]:51).&lt;br /&gt;Orang yang tidak mempunyai keimanan yang benar akan selalu menderita kehampaan rohani dan selalu merasakan kesempitan diri. Tetapi orang yang beriman dengan benar hidupnya selalu diselimuti rasa aman dan kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;Apabila hati di penuhi oleh iman, maka seluruh indra, perasaan dan anggota tubuh tergerak untuk melakukan kebaikan dan amal sholeh. Dan setiap iman bertambah dalam hati, maka kekuatan kebaikanpun akan bertambah, lalu hati seorang mukminpun akan terasa lapang. Kelapangan dada adalah buah sifat qonaâ€™ah. Lebih dari iti, iman merupakan kekuatan yang mampu menanamkan ketenangan dalam jiwa , rasa aman dan damai dalam hati.&lt;br /&gt;â€œDialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanana mereka ( yang telah adaâ€.&lt;br /&gt;Qs. al-fath [48 ]:4).&lt;br /&gt;Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan, Iman adalah kekuatan pendorong yang memberikan stimulus kepada manusia untuk memberi dan membangun, mengerjakan kebajikan serta berlomba-lomba menuju kebaikan. Ibnu Khaldun menambahkan; bahwa bahagia dan tidaknya seseorang berangkat dari mampu dan tidaknya seseorang memenuhi kebutuhan keinginannya ( dalam bentuk positif).&lt;br /&gt;Dan orang bahagia adalah mereka yang bisa menerima (qonaah) kenyataan hidupnya, bisa menerima segala yang ada pada dirinya. Akan tetapi percaya bahwa di balik kepahitan pasti ada kesejahteraan yang lebih lama. Seperti orang yang minum obat, pahit dikala meminumnya, tetapi setelah di minum hadir kesehatan yang lebih lama dari pahitnya rasa. Hidup dalam kesadaran akan betapa dekatnya Tuhan terhadap diri kita, bisa menghalau awan kegelisahan dan akan menghadirkan semangat hidup yang menggelora. Kita tidak dapat hidup dalam kesadaran akan dekatnya Allah dan pergi kemana-mana dalam kemurungan dan kegelisahan. Bila kita yakin bahwa Allah selalu bersama kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-7957498887324095690?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/7957498887324095690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=7957498887324095690&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7957498887324095690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7957498887324095690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2010/03/menyikapi-kegundahan-hati.html' title='MENYIKAPI KEGUNDAHAN HATI'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-7800424147270981113</id><published>2009-05-16T12:54:00.001+07:00</published><updated>2009-05-16T13:13:06.701+07:00</updated><title type='text'>Foto Masjid Al Ikhlas sebelum renovasi 2</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1Q5ed-I/AAAAAAAAAWo/QHQ5Uu4oKPc/s1600-h/P5160227.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336300280572966882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1Q5ed-I/AAAAAAAAAWo/QHQ5Uu4oKPc/s400/P5160227.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336300283531454882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1b61aaI/AAAAAAAAAWg/svezngC39IM/s400/P5160218.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1P3Ts3I/AAAAAAAAAWQ/hOlrWihQtLU/s1600-h/P5160254.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336300280295437170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1P3Ts3I/AAAAAAAAAWQ/hOlrWihQtLU/s400/P5160254.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1AnxT7I/AAAAAAAAAWY/lNdpuxeudbA/s1600-h/P5160267.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336300276203737010" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1AnxT7I/AAAAAAAAAWY/lNdpuxeudbA/s400/P5160267.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y05-QOdI/AAAAAAAAAWI/tUphUVXe_eU/s1600-h/P5160248.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336300274418989522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y05-QOdI/AAAAAAAAAWI/tUphUVXe_eU/s400/P5160248.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-7800424147270981113?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/7800424147270981113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=7800424147270981113&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7800424147270981113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7800424147270981113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2009/05/foto-masjid-al-ikhlas-sebelum-renovasi_16.html' title='Foto Masjid Al Ikhlas sebelum renovasi 2'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5Y1Q5ed-I/AAAAAAAAAWo/QHQ5Uu4oKPc/s72-c/P5160227.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-7915895952725513929</id><published>2009-05-16T12:20:00.004+07:00</published><updated>2009-05-16T12:52:46.298+07:00</updated><title type='text'>Foto Masjid Al Ikhlas sebelum renovasi</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336289499800244258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5PBvY9kCI/AAAAAAAAAVY/JrwEP6iiNJQ/s400/P5140081.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336293152693351218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5SWXei8zI/AAAAAAAAAVg/ybO5W0dvkMA/s400/P5140064.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336293162916731538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5SW9j_WpI/AAAAAAAAAV4/iObnt1fM7Kg/s400/P5140135.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336293155091992290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5SWgabTuI/AAAAAAAAAVo/SX0sz4k3Ai0/s400/P5140095.JPG" border="0" /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5SW0Ev-GI/AAAAAAAAAWA/9RsIbWgUcGQ/s1600-h/P5150166.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336293160369780834" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5SW0Ev-GI/AAAAAAAAAWA/9RsIbWgUcGQ/s400/P5150166.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336293155741169026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5SWi1M9YI/AAAAAAAAAVw/xhFKSyUNW9w/s400/P5140123.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-7915895952725513929?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/7915895952725513929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=7915895952725513929&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7915895952725513929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7915895952725513929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2009/05/foto-masjid-al-ikhlas-sebelum-renovasi.html' title='Foto Masjid Al Ikhlas sebelum renovasi'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5PBvY9kCI/AAAAAAAAAVY/JrwEP6iiNJQ/s72-c/P5140081.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-8099849132984368493</id><published>2009-05-16T12:04:00.003+07:00</published><updated>2009-05-16T12:12:17.367+07:00</updated><title type='text'>Renovasi Total Masjid Al Ikhlas</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;Masjid Al Ikhlas - Masjid yang ke 999 yang dibangun Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila. Berikut ini adalah SK penunjukkan dari Yayasan tentang penunjukan pembangunan Masjid YAMP AL Ikhlas&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336284783152491890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 284px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5KvMggbXI/AAAAAAAAAVI/ywAim-RGeTA/s400/Yayasan+Amal+Bakti+Muslim+Pancasila+(1).jpg" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336284780548334290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 328px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5KvCzoItI/AAAAAAAAAVQ/hhVWjOe8D74/s400/Yayasan+Amal+Bakti+Muslim+Pancasila+(2).jpg" border="0" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-8099849132984368493?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/8099849132984368493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=8099849132984368493&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8099849132984368493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8099849132984368493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2009/05/renovasi-total-masjid-al-ikhlas.html' title='Renovasi Total Masjid Al Ikhlas'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sgvfkw38ytQ/Sg5KvMggbXI/AAAAAAAAAVI/ywAim-RGeTA/s72-c/Yayasan+Amal+Bakti+Muslim+Pancasila+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-2556680676848718142</id><published>2009-04-29T14:01:00.001+07:00</published><updated>2009-04-29T14:05:59.489+07:00</updated><title type='text'>Mencermati Kondisi Batin: Ketika Melakukan Dosa Besar</title><content type='html'>Mencermati Kondisi Batin: Ketika Melakukan Dosa Besar&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;By Republika NewsroomSelasa, 31 Maret 2009 pukul 11:16:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tergelincir ke dosa besar seringkali melenting ke atas melampaui posisi sebelumnya. Dengan kata lain, dosa dan maksiat seringkali menjadi momentum untuk lebih dekat dengan Tuhan, mengapa?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;• Bagaimana menjadikan dosa sebagai sebagai anak tangga menuju Tuhan?Dosa dan maksiat bukan saja perbuatan tercela dan terlarang, melainkan juga membutakan mata hati, memadamkannurani. Lebih dari itu, dosa dan maksiat juga membawa kegelisahan sehingga ketenangan hidup terganggu. Jelasnya, dosa dan maksiat merendahkan derajat dan kualitas kemanusiaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua yang dilarang Tuhan adalah musuh kemanusiaan dan semua yang diperintahkan dan dianjurkan Tuhan demi untuk martabat kemanusiaan. Tuhan tidak butuh untuk disembah tetapi manusialah yang membutuhkan penyembahan itu, karena di balik penyembahan dan ketaatan itu tersimpan hikmah dan berbagai kemaslahatan untuk manusia dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;Seandainya semua manusia mogok untuk menyembah kepada-Nya maka tidak sedikit pun mengurangi kapasitas dan eksistensi-Nya sebagai Tuhan. Sebaliknya seandainya semua manusia taat kepada-Nya bagaikan malaikat sekalipun maka tidak akan berpengaruh terhadap Dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perintah dan larangan Tuhan adalah bukti kemaha-pengasih dan penyayang-Nya terhadap hamba-Nya, khususnya kepada manusia, yang diberikan spesifikasi khusus sebagai khalifah, representatif Tuhan di jangat raya ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun diberi kekhususan sebagai khalifah, manusia tetap sebagai hamba (’abid) yang harus menyembah kepada Tuhan, sebagaimana halnya makhluk-makhluk lainnya. Konsekwensi tugas kekhalifahan yang diemban manusia, Allah menundukkan seluruh alam semesta kepadanya, bahkan di dalam penciptaan awal manusia (Adam), para makhluk diperintahkan hormat dan sujud kepadanya sebagai bukti kehebatan dan keutamaan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang ada yang membangkang dan keberatan untuk sujud, yaitu Iblis bersama komunitasnya, makanya itu mereka dikutuk. Untuk mencari parner di neraka maka mereka diberi kesempatan untuk menggoda manusia sampai akhir zaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konsep penundukan alam semesta (taskhir) tidak bisa diartikan semacam ”SIM” untuk mengeksploitasi alam raya melampaui daya dukungnya. Alam raya tidak akan tunduk dan tidak lagi akan bersahabat kepada manusia manakala melampaui batas-batas yang telah digariskan Tuhan. Allah SWT bukan hanya Tuhan manusia sebagai makhlukmikrokosmos tetapi juga Tuhan alam raya sebagai makhluk makrokosmos. Realasi makhluk mikrokosmos dan makhlukmakrokosmos adalah relasi kekahlifahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan relasi mikrokosmos-makrokosmos dan Tuhan adalah relasi penghambaan. Karena itu, dosa tidak boleh dimaknai hanya sebagai masalah relasi vertikal antara makhluk dengan Sang Khaliq, tetapi dosa juga terkait dengan masalah relasi horizontal antara sesama makhluk. Dan makhluk di sini bukan hanya sesama manusia, apa lagi hanyasebatas sesama muslim, tetapi juga sesama makhluk, baik makhluk hidup maupun makhluk benda mati. Bukankah kata ”benda mati” itu hanya ada dalam kamus manusia?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi Tuhan dan para malaikatnya, tidak ada istilah benda mati. Semunya itu bertasbih dan menyembah Tuhan, hanya kita yang tidak memahami tasbih dan bentuk ibadah mereka.&lt;br /&gt;Demikian kesimpulan di dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Dosa dan maksiat memang mejatuhkan dan menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan tetapi kalau itu disadari dalam bentuk kesadaran puncak (taubat nashuha) maka tidak mustahil itu melentingkan kembali yang bersangkutan ke atas, bahkan mungkin lebih tinggi dari pada posisinya semula.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dosa dan maksiat sangat berpotensi dan dapat dijadikan titik masuk seseorang untuk lebih dekat kepada Tuhannya. Tidak jarang para pendosa yang taubat justru lebih baik dari pada orang-orang biasa. Ini mungkin disebabkan karenaia sudah mampu membandingkan betapa jauh jaraknya antara suasana batin yang taat dan yang durhaka kepada-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun ini tidak berarti sebuah ajakan kepada kita untuk mencicipi dosa guna meningkatkan kesadaran dan keimanan, sebab betapa banyak bahkan jauh lebih banyak para pendosa jatuh dan tidak melenting ke atas, melainkanbagaikan bola yang jatuh di dalam lumpur, tidak lagi melenting ke atas, malah justru terbenam di dalam lumpur kehinaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para pendosa yang berpotensi melenting ke atas ialah mereka yang karena dosa dan maksiat yang dilakukannya betul-betul membuat dirinya terpukul dan kecewa, mengapa dirinya harus melakukan sesuatu yang amat bodoh di dalam hidupnya. Karena itu ia menyesal sejadi-jadinya seraya menjalani proses pembersihan diri dengan penuhketekunan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Gazali, dalam kitab Ihya’ `Ulum al-Din, seorang pendosa diminta untuk tidak sekedar istigfar (membaca lafaz istigfar) melainkan harus menjalani rangkaian proses taubat, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1) Memperbanyak mengucap istigfar,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2) dengan segera meninggalkan dosa dan maksiat itu,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3) menyesal sejadi-jadinya terhadap kekeliruanyang telah dilakukannya,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4) bertekad dan berikrar untuk tidak akan pernah mengulangi perbuatan tercela itu dalam hidupnya,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;5) mengganti dan menutupi perbuatan dosa dan maksiat itu dengan amal-amal kebajikan yang ikhlas,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;6) kalau dosa itu berupa mengambil hak orang lain maka harus segera mengembalikannya sesegera mungkin,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;7) menghancurkan daging yang bertumbuh di dalam dirinya yang berasal dari produk haram dengan cara melakukanriyadhah dan mujahadah, yakni menjalani latihan jasmani dan rohani dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;8) sesegera mungkin meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti atau dikecewakan itu. Jika ini semuanya dipenuhi maka seseorang berhak mendapatkan pengampunan Allah terhadap dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banyak pendosa yang telah melakukan tahapan pertobatan itu dengan baik dan tekun. Mereka selalu manangisi dosa masa lampaunya di dalam sujud tahajjudnya di tengah malam. Bahkan air matanya tak pernah bisa dibendung jika mengingat kembali berbagai dosa yang pernah dilakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penyerahan diri secara total seperti ini mendapatkan janji pengampunan Allah SWT. Ada ulama yang pernah  mengatakan bahwa: ”Air mata taubat itulah yang akan memadamkan api neraka. Bahkan Allah SWT mencintainya,sebagaimana hadis yang pernah dikutip Al-Gazali dalam kitabnya: ” Allah lebih senang mendengarkan jeritan taubatnmya para pendosa ketimbang gemuruh tasbihnya para ulama”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an juga ditegaskan bahwa ” Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah/2:222). Yang penting bagi yang bersangkutan tidak mempermainkan Tuhan dengan pembatalan-pembatalan taubat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seorang sufi, Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan: “Melakukan satu perbuatan dosa setelah taubat jauh lebih buruk dari pada melakukan 70 perbuatan dosa sebelum taubat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kata Dzun Nun: “Beristighfar dari dosa tanpa berusaha melepaskankan diri dari dosa itu adalah taubatnya para pendusta. Barangsiapa bertaubat, kemudian tidak membatalkan taubatnya, maka ia termasuk orang bahagia”. Subhanallah, alangkah beruntungnya orang yang demikian ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pendosa tidak sepantasnya putus asa terhadap dosa-dosanya. Sebesar apapun dosa seseorang pasti jauh lebih besar dosa pengampunan Tuhan. Tidak ada artinya dosa besar jika yang datang adalah wajah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang penting bagi kita adalah penyerahan diri secara total terhadapnya. Terserah Dia. Jika Dia akan memasukkan kita ke dalam neraka itu adalah hak-Nya, tetapi tidak ada yang bisa menghalangi-Nya jika Dia akan memaafkan hamba-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah Dia akan menyiksa hamba-Nya yang sudah rebah dan bersujud di hadapan kebesaran-Nya sambil menagis memohon ampun dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Bukankah Dia lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun ketimbang sebagai Tuhan Maha Pemarah dan Maha Penghukum.Tidak sedikit para pendosa mendapatkan pengampunan dan kasih sayang Tuhan./taq&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-2556680676848718142?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/2556680676848718142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=2556680676848718142&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/2556680676848718142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/2556680676848718142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2009/04/mencermati-kondisi-batin-ketika.html' title='Mencermati Kondisi Batin: Ketika Melakukan Dosa Besar'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-8209369228291965939</id><published>2008-10-11T06:25:00.000+07:00</published><updated>2008-10-11T06:43:56.226+07:00</updated><title type='text'>Krisis Subprime Mortgage di AS</title><content type='html'>Krisis Subprime di Amerika Serikat, Kalau Langit MasihKurang Tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Dahlan Iskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan'' secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Sepertijuga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski merekatahu saya bukan dokter.&lt;br /&gt;Saya coba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terusberkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuahperusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribuorang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaanmereka.Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalaupara pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebihtinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana denganbaik, terserah pada CEO-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerjapara CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak,hukum perburuhan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekandan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung,tapi kadang bisa rugi? Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpadisuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar diamendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari labadan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEOperusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji PresidenGeorge Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian sepertitumbu ketemu tutup: klop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, semua perusahaan dipaksa untukterus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harusdicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalanbaru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya oranglain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengancara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untukbikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapatjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan paradirekturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliarsetahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik.Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dankesejahteraan rakyatnya meningkat.&lt;br /&gt;Semua orang lantas mampu membelikebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya.Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidakbisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia ataunegara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apasaja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar didunia: USD 2 triliun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis.AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasadunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu belum cukup.Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggaptidak cukup lagi: harus computerized!Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terusmeningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudahsebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belumcukup.Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagiperusahaan yang jual rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, karena perusahaan harus terusmeningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukandalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harusdiciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian jugamobilnya.Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan belirumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebihbesar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanaperusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bank bisalebih besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana notaris bisa lebih besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perusahaanpenjual kloset bisa lebih besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, doktrinnya, semua perusahaanharus semakin besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada jalan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi KontrolMoneter''.&lt;br /&gt;Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakanbunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturanbaru itu berlaku dua tahun kemudian.Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang itulah yangdimanfaatkan perbankan secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacamundang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkanmemenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja sepertiKPR, meski tidak sama).Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambilmortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringankarena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yangterbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti diDubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkansyarat orang yang bisa mendapat mortgage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untukmenaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif.Juga para broker dan bisnis lain yang terkait. Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahunkemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni, tahun 1986.Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satuisinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu jugaberlaku bagi pembelian rumah satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, meski sudah punyarumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yangluar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti diSwedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis.Hari tua juga terjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastismenjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya.Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahunlangsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahunberikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700miliar setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis.Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah.Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumahitu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda bolehmenempatinya selama cicilan Anda belum lunas.Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet,rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwaitu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayarcicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsungpergi dari rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membelirumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank. Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untukmembeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah investment banking itu bank?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank. Ia lebih bebasdaripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang,meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham,menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberipinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan danmenjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepadasiapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking.Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah''personal banking''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yangmenawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitungangka lebih cepat dari kalkulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;kalau dulu hanyaorang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukanoleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang.Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atauturun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewatmortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa denganterus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematanpengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita,bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidakpernah dipikirkan jangka panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurangdari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yangdisita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyakorang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berartinilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Ituberarti kian banyak yang gagal bayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pulamenjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yanglain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itumenjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lainambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kira-kira mencapai 5 triliun &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;do&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;lar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik danaAPBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itutidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi?Lalu, USD 700 miliar lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum maumenyetujui rencana pemerintah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jumlah suntikansebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsadan negara Indonesia dijadikan satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan&lt;br /&gt;rakyat AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan danorang Indonesia yang ''menabung'' -kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu. Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok. Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadisalah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akansangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak&lt;br /&gt;bisa dikirim secara besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa&lt;br /&gt;menanam jagung.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jawa Pos - Minggu, 28 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-8209369228291965939?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/8209369228291965939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=8209369228291965939&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8209369228291965939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8209369228291965939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2008/10/krisis-subprime-mortgage-di-as.html' title='Krisis Subprime Mortgage di AS'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-192307723878254869</id><published>2008-08-02T06:07:00.000+07:00</published><updated>2008-08-02T06:27:01.355+07:00</updated><title type='text'>Persatuan dan Kemenangan</title><content type='html'>Persatuan dan Kemenangan&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Oleh : KH. Agus &lt;a href="mailto:Miftachagus_miftach@yahoo.co.id"&gt;Miftachagus_miftach@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Assalamuâ€™alaikum War. Wab.&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahiem,&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229693076281532882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/SJOaJRAUodI/AAAAAAAAAOU/BbiFkCI7sd4/s320/untitled50.bmp" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229693084320695426" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/SJOaJu9AhII/AAAAAAAAAOc/kxW-BEcGU-A/s320/untitled5.bmp" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayangâ€.(163) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah mati ( kering)-nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kamu yang memikirkan.(164).&lt;br /&gt;Kita akan membahas kedua ayat ini dengan pendekatan eklektik multiperspektif, baik dari perpspektif teologi, antropologi, historiografi maupun psikologi dll, secara holistis dan komprehensif, agar diperoleh pemahaman yang dalam dan hikmah yang setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;Jenderal (Purn) Agum Gumelar dan Ketua Umum FPN, K.H. Agus Miftach, tertawa cerah usai Dialog Kebangsaan ke I, 18 Januari 2007 y.l. di Jakarta dengan tajuk â€œPersatuan dan Kebangsaanâ€, yang diselenggarakan oleh Front Persatuan Nasional.&lt;br /&gt;Pokok Bahasan.&lt;br /&gt;Asbabun-nuzul ayat 163, adalah pertanyaan kaum paganis Mekah yang oleh para mufassir disebut sebagai orang-orang kafir, tentang sifat-sifat Tuhan, maka turunlah ayat ini, yang menerangkan prinsip-prinsip ideologis monoteis dengan prinsip-prinsip rahmaniyat dan rahimiyat (vide, Buku Spirit Islam ke I). Monoteisme Islam berporos pada peneguhan posisi Allah swt sebagai satu-satunya ilah, dengan menolak semua ilah yang lain.&lt;br /&gt;Penegasan ini tampak pada kalimat,â€Ilaahukum ilahun-wwahid(un)..â€:â€Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa..â€. Ini berbeda dengan monoteisme Yahudi yang mengakui adanya ilah yang lain, tetapi Yahweh-lah yang tertinggi. Tentang prinsip rahmaniyat dan rahimiyat mengandung sisi implementatif yang bersifat adil, egaliter, individual dalam keseluruhan yang sejahtera.&lt;br /&gt;Monoteisme Islam jauh berbeda dengan Trinitas Kristen yang secara antropologis merupakan sinkretisme proto ortodoks dengan paganisme Sol-Invectus (Dewa Matahari tak Tertandingi) rekayasa Constantine the Greath, Kaisar Romawi yang paganis, melalui Konsili Nicea th. 325 (vide, Buku Spirit Islam ke 5). Meskipun demikian Trinitas adalah system teologi yang sungguh berguna bagi para pemeluknya. Islam menghormati keragaman di dunia, dan memandangnya dari sudut ketauhidan yang rahmatan.&lt;br /&gt;Setelah menerima penjelasan tentang sifat-sifat ke Esa-an dan ke Suci-an Tuhan, kamu paganis Mekah masih meminta bukti-bukti lainnya, seperti sikap paganis Yahudi terhadap Musa a.s. abad ke 13 SM. Said bin Mansur dalam Sunan-nya dan Faryabi dalam Tafsirnya serta Baihaqi dalam Syuâ€™abul Iman dari Abu Dhuha, dikatakan,â€Tatkala turun ayat ke 163 yang menerangkan ke Esa-an Tuhan, kaum paganis Mekah heran, â€Benarkah Tuhan Yang Satu untuk seluruh manusia ? Datangkanlah satu bukti kepada kami !â€ Maka turunlah ayat 164 yang menegaskan prinsip penciptaan dan mekanisme ekosistem yang di klaim oleh Islam sebagai bukti kekuasaan Allah Yang Maha Esa. Sebagian percaya dan sebagian yang lain tidak percaya. Tentang penciptaan alam, paganisme memiliki prinsip agnostic yang menjadi dasar ilmu fisika. Ini hal wajar, paganisme sudah berusia ribuan tahun, telah membentuk budaya dan peradaban yang menjadi habit dan custom yang menjadi disposisi psikologis masyarakat Arabia waktu itu. Sebuah perubahan nilai-nilai ideologis konsep ketauhidan yang dikemukakan Rasulullah saw adalah hal baru yang memerlukan waktu memahaminya. Dari posisi inilah titik konflik yang menandai lahirnya sebuah peradaban baru. Oposisi kebudayaan melahirkan pertikaian politik dan perang, menandai bergeraknya pendulum kearah perubahan sosial di Arabia dan di dunia pada abad-abad berikutnya. Seperti sudah banyak kita bahas, ideology ketauhidan dengan semua akulturasinya, ternyata mampu melahirkan perubahan-perubahan besar di jazirah Arabia dan dunia, melahirkan mainstream peradaban baru dengan lompatan kemajuan bertahun-tahun cahaya kedepan. Membelah kegelapan Eropa dan dunia, mengatasi mite-mite purba kedalam proses religi dan rasional membentuk sublimasi badaya baru umat manusia yang menjadi landasan peradaban modern dengan kreativitas yang tak terbatas dan menembus rahasia semesta alam seperti visi ayat 164.&lt;br /&gt;Pada periode awal, dua sumber peradaban Semit yang lain, yaitu Yahudi dan Nasrani menerima baik kepemimpinan Islam di dunia, seperti kepemimpinan dunia Cordova atau al-Andalus dan Utsmaniyyah yang berkedudukan di Eropa. Namun perkembangan berikutnya, ketika terjadi kemunduran di dunia Islam, orang-orang Kristen Eropa Barat (kaum Frankia) mulai menyerang Islam, yang kemudian melahirkan Perang Salib I yang menandai awal kekuasaan Barat di Timur, yaitu penguasaan atas Yerusalem dan sekitarnya (vide,Pengajian ke 142). Tetapi tidak berlangsung lama, pada abad ke 12, panglima besar Islam Shalahuddin al Ayyubi berhasil membebaskan kembali Yerusalem.&lt;br /&gt;Perang Salib II.&lt;br /&gt;Setelah wafatnya Khalifah Fathimiyah al-Muntashir di Iskandarsyah, Mesir dan wafatnya Khalifah Abbasiyah al-Muqtadhi di Baghdad, Parsi, pada th. 1094, disusul pertikaian sektarian yang berlarut-larut di dunia Islam, kedudukan kaum Muslimin melemah. Setahun kemudian, tgl. 17 Nopember 1095 di Clermnont, Paus Urbanus II yang tengah terancam kedudukannya secara internal mengeluarkan maklumat kontroversial yang menyerukan agar umat Kristen angkat senjata membebaskan kota suci Yerusalem dari kaum Muslimin yang di disinformasikan sebagai penyembah berhala. Padahal tahta Vatikan adalah hasil sinkretisme dengan kaum penyembah berhala Sol Invectus (Dewa Matahari Tak Tertandingi). Seperti dalam Pengajian ke 142, agama kebencian yang mengobarkan konflik sektarianisme telah menimbulkan perpecahan dan melemahkan dunia Islam, Hal ini menjadi penyebab utama kekalahan kaum Muslimin pada Perang Salib I (1095-1109) ditandai jatuhnya Yerusalem ketangan Pasukan Salib I, tgl. 15 Juli 1099. &lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229693081134085890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/SJOaJjFQtwI/AAAAAAAAAOk/sSPqRcx66Us/s320/untitled.bmp" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Yerusalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan ini menyadarkan dunia Islam, bahwa ancaman Barat bisa melanda dunia Islam setiap saat, bila kaum Muslimin lemah. Namun demikian pengkhianatan masih berlangsung. Pada th 1115 pasukan gabungan dukungan Sultan Saljuk (Utsmaniyah) Muhammad yang menuju medan perang Danith di Syria justru dikalahkan oleh gabungan pasukan Tenara Salib dengan Tentara penguasa Muslim di Aleppo dan Damaskus. Ini sangat memalukan.&lt;br /&gt;Namun upaya untuk merebut kembali kemenangan dan kepemimpinan tidak berhenti. Pada th. 1144 secara mengejutkan panglima Muslim Zengi berhasil merebut negara Tentara Salib Edessa. Ini merupakan tonggak awal kebangkitan kembali Muslimin di Timur Dekat. Namun pada th. 1146 Zengi mati terbunuh secara misterius. Sumber Barat menyebutkan Zengi dibunuh seorang budak. Zengi digantikan oleh putranya Nuruddin yang menggabungkan politik militer yang kuat dengan dakwah keagamaan untuk merebut hati kaum Muslimin. Nuruddin berhasil menyatukan Mesir dan Syria, kemudian mulai bergerak mengepung negara Tentara Salib Antiokhia. Pada saat itulah Vatikan mengeluarkan komando Perang Salib ke II (1147-1148) dengan panglima Conrad III, kaisar Jerman, dan Louis VII, raja Perancis. Tetapi mereka gagal merebut Edessa dan gagal mencegah meluasnya wilayah kekuasaan Sultan Nuruddin. Pada th.1154 Nuruddin menaklukkan Damaskus dan mengangkat dirinya sebagai penguasa tertinggi kaum Muslimin (Khalifah). Pada th. 1168-1169 Khalif Nuruddin mengirimkan pasukan jenderal Kurdi, Syirkuh, ke Mesir dan berhasil mengalahkan Tentara Salib di medan Mesir.&lt;br /&gt;Pada bulan Maret 1169 jenderal Syirkuh meninggal dan digantikan oleh keponakannya panglima muda terpelajar Shalahuddin al Ayyubi. Dengan langkah-langkah politiknya yang kuat dan brilyan Shalahuddin mengakhiri kekuasaan Dinasti Fathimiyyah di Mesir th. 1171. Dengan ini Khalif Nuruddin berhasil meletakkan kembali fondasi penyatuan Muslimin dan menegaskan &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229693085019782978" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/SJOaJxjrv0I/AAAAAAAAAOs/mipBjktIpVc/s320/untitled2.bmp" border="0" /&gt;kembali legitimiasi satu-satunya khalifah Abbasiyah yang bermadzhab Sunni. Bahaya perpecahan antara Khalif Nuruddin dan Panglima Shalahuddin terselamatkan dengan wafatnya Nuruddin pada th. 1174. Tak dapat dibendung sebagai pemimpin politik dan militer yang terkuat Shalahuddin al Ayyudi yang&lt;br /&gt;Panglima Besar Islam Shalahuddin al-Ayyubi (Saladin).(Dari film Kingdom of Heaven),&lt;br /&gt;kemudian terkenal dengan Saladin menggantikan Khalif Nuruddin. Mulailah era Saladin. Sepanjang 1174-1178 Sultan Saladin berusaha keras mempersatukan kekuatan Islam di Timur Dekat dan berhasil menciptakan front bersama di Mesir dan Syria untuk melawan Tentara Salib. Saladin-lah yang pertama menggagas peringatan Maulid Rasulullah saw dalam rangka menggalang kekuatan kaum Muslimin untuk melawan Tentara Salib. Dengan kecakapan politik, dakwah dan militer akhirnya Saladin benar-benar berhasil mempersatukan kaum Muslimin dan menggalang kekuatan terbesar yang utuh bersatu, sebuah prestasi yang menyamai Khalif Umar ibn Khaththab ketika membebaskan Yerusalem pada pertengahan abad ke 7. Pada th. 1187 panglima besar Muslim, Shalahuddin al Ayyubi menyerbu Tentara Salib yang dipimpin&lt;br /&gt;Raja Guy dari Lusignan.&lt;br /&gt;Raja Guy dari Lusignan di medan perang terbesar, Hattin yang legendaris itu. Pada tgl. 4 Juli 1187 Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukannya berhasil memenangkan peperangan terbesar itu dengan gemilang. Dalam perjalanan pasukannya dari Hattin ke Yerusalem Saladin menerima penyerahan wilayah-wilayah negara Tentara Salib tanpa pertempuran. Pada tgl. 2 Oktober 1187 &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229693092003837922" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/SJOaKLkz9-I/AAAAAAAAAO0/lU7diaMZFKo/s320/untitled4.bmp" border="0" /&gt;Shalahuddin al Ayyubi berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem setelah memenangkan pertempuran terakhir melawan penguasa Kristen Godfrey of Boullion Jr. Setelah itu seluruh Palestina dan wilayah seputar Timur Dekat menyatakan takluk dibawah pemerintahan Saladin. Hanya Tirus yang sengaja dibiarkan oleh Saladin menjadi sisa wilayah yang masih di huni Tentara Salib. Ini adalah bagian dari penghormatan Saladin yang terkenal berahlak mulia itu kepada musuh, disamping itu Tirus dinilai tidak begitu strategis. Godfrey de Bouillon Jr, penguasa Tentara Salib di Yerusalem yang terakhir beserta seluruh keluarga dan umat Kristen yang menyerah, seluruhnya tanpa kecuali diberi&lt;br /&gt;Pasukan Saladin mengepung dan menggempur benteng Yerusalem dengan tembakan meriam (Kingdom of Heaven). Berakhir dengan penyerahan damai Yerusalem, pada tgl. 2 Oktober 1187.&lt;br /&gt;kebebasan oleh Saladin untuk meninggalkan Yerusalem dengan damai dengan jaminan diri dan keluarganya. Saladin menyertakan putrinya dalam rombongan Godfrey hingga diluar kota, untuk menjamin pembebasan itu. Inilah akhlak Saladin, kemenangan Tauhid yang gemilang. Shalahuddin seperti namanya adalah seorang yang tafaqquh fiddien (religius). Ia berhasil mengembalikan kehormatan dan kejayaan Islam pada tempat yang semestinya. Inilah akhir gemilang dari Perang Salib ke II. Kaum Muslimin dan kaum Yahudi di seluruh dunia menyambut kemenangan ini dengan suka cita yang besar. Saladin memanggil kembali Bani Israil di seluruh dunia ke Yerusalem untuk hidup berdampingan secara damai dengan kaum Muslimin seperti yang biasa terjadi di pusat-pusat kekuasan Islam seperti di Cordova dan Istambul. Saladin juga memberikan kebebasan bagi kaum Nasrani untuk menjalankan peribadatan di Yerusalem. Bani Israil menyamakan Saladin sebagai Cyrus Agung, kaisar Parsi akhir abad ke 6 SM yang mensponsori pembangunan kembali Baitul Maqdis setelah dihancurkan kaisar Babilonia Nebukadnezar pada awal abad ke 6 SM.&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;Republik Indonesia adalah negara modern berpenduduk Muslim terbesar. Namun seperti halnya Turki modern, Indonesia menganut system sekuler. Pancasila yang berbentuk sublimasi budaya nasional ditetapkan sebagai ideology negara yang menjamin kebebasan, kesetaraan dan keadilan sosial, yang pelaksanaannya compang camping. State-System ditentukan dalam UUD yang dibuat oleh Partai-partai Politik yang menang Pemilu. Sekilas system politik Indonesia cukup ideal. Tetapi kalau kita masuk semakin dalam akan terasa, betapa rentannya negara besar ini. Hampir seluruh system dikontrol asing. Mulai dari ekonomi, politik hingga hal-hal yang lebih teknis tidak sepi dari campur tangan asing. Yang lebih parah lagi merebaknya budaya kleptokrasi disemua level birokrasi, baik pemerintah maupun swasta. Moralitas elite dan masyarakat sangat rendah, menjadikan tidak jelasnya semua ukuran. Ajaran agama yang berkembang bercorak sektarian tradisional dan ortodoks yang dangkal dengan intelektualitas dan puritanisme yang tidak tentu arah. Melemahnya pertumbuhan ekonomi (5,5 %), dan meningkatkannya kemiskinan hingga mendekati angka 50 %, dengan jumlah pengangguran mendekati 20 % dan peningkatan jumlah penduduk juga mendekati angka 2 %, telah menempatkan negara ini ditepi kekacauan sosial. Pemerintah yang lemah, autis, dengan moral dan kemampuan yang rendah, rasanya negara ini diujung malapetaka oleh karena kebodohannya sendiri. Kita pernah memiliki pemimpin pemimpin yang punya kualitas tinggi, tetapi kini kita tidak memiliki seorangpun yang pantas memimpin bangsa Muslim terbesar di dunia ini. Banyak orang-orang yang ada di pucuk pemerintahan sekarang ini menderita penyakit Schizophrenia, yang tidak mampu melihat kebenaran obyektif, tetapi hanya kebenaran autistis yang neurosis. Kita memerlukan pemimpin dengan kepribadian, moral dan komitmen seperti Shalahuddin al Ayyubi dari Yerusalem. Sekian, terima kasih.&lt;br /&gt;Birrahmatillahi wabiâ€™aunihi fi Sabilih.Wassalamuâ€™alaikum War. Wab.&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Juli 2007.Pengasuh,&lt;br /&gt;KH. AGUS MIFTACHKetua Umum Front Persatuan Nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-192307723878254869?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/192307723878254869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=192307723878254869&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/192307723878254869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/192307723878254869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2008/08/persatuan-dan-kemenangan.html' title='Persatuan dan Kemenangan'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/SJOaJRAUodI/AAAAAAAAAOU/BbiFkCI7sd4/s72-c/untitled50.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-4859817299209192899</id><published>2008-05-07T15:10:00.000+07:00</published><updated>2008-05-07T15:17:27.056+07:00</updated><title type='text'>Kajian Kitab Al-Hikam</title><content type='html'>oleh Syaikh Luqman pada tanggal 23 Juni 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita ditanya oleh Ibnu Athaillah tentang empat kaifa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[kaifa yasyruqu qolbun shuwarul akwaani munthobi’atun fii mir atihi – bagaimana hati dapat bersinar sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya ?,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;am kaifa yarhulu ilallahi wa huwa mukabbalun bi syahwatihi – atau bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah kalau ia masih terbelenggu oleh syahwatnya ?,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;am kaifa yathma’u an yadkhula hadhratallahi wa huwa lam yatathahhar min janaabati ghafalatihi – atau bagaimana hati akan antusias menghadap ke hadirat Allah bila ia belum suci dari janabah kelalaiannya ?,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;am kaifa yarjuu an yafhama daqaaiqal asraari wa huwa lam yatub min hafawaatihi – atau bagaimana hati mampu memahami kedalaman misteri gaib padahal ia belum bertobat dari kesalahannya ?],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini ada shock therapy yang luar biasa dari Ibnu Athaaillah, karena kalau tidak dipahami hati kita ketika kita menelusuri empat kaifa tersebut mengenai hudur hati kita sampai kita ini bisa terus menerus bersama Allah, maka orang bisa kaget, bisa terkejut melihat dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ada seorang ulama mengalami stroke karena kaget, ketika menelusuri proses ruhaniah ibarat dari satu tahap ke tahap lain, dari satu langit ke langit lain, kalau digambarkan begitu seperti orang sedang menengadah melihat langit yang penuh keindahan bukan keindahan bintang-bintang, melainkan dibukakan tentang keindahan manifestasi asma’-asma’ Allah yang tersembunyi dibalik satu langit ke langit yang lain. Tiba-tiba kembali lagi ke dunia, langsung kaget, stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Beliau mengingatkan supaya kita tidak kaget dengan kalimat [14] : al kaunu kulluhu zhulmah - kehidupan dunia ini semuanya sesungguhnya gelap.&lt;br /&gt;Disebut gelap untuk menggambarkan ketiadaan, tidak ada atau tidak wujud karena itu disebut zhulmah. Wa innama anaa rahuzhuhuurul haqqi fiihi – bahwa Allah itu mencahayai semesta ini, karena itu apakah kita ini di dalam nuansa limpahan cahaya atau tidak ? dilanjutkan oleh Beliau faman ra-al kauna – siapa yang melihat semesta dunia yang ada ini (makhluk Allah), wa lam yasyhadhu fiihi – tapi tidak musyahadah, digunakan kalimat wa lam yasyhadhu fiihi ini mengingatkan bahwa proses pandang memandang antara kita dengan gusti Allah itu melalui musyahadah. Di sinilah para sufi membangun istilah yang disebut dengan wahdatusy syuhud dan bukan wahdatul wujud, sebab wahdatul wujud itu berarti patheisme yaitu menyatunya alam dengan tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam ini fisiknya dan ruhnya adalah tuhan, itulah yang disebut pantheisme dalam filsafat Yunani. Nah disinilah dunia Islam yang dieksplorasi oleh tasawuf menolak apa yang disebut wahdatul wujud, yang benar adalah wahdatusy syuhud karena yang menyatu bukan wujudnya melainkan musyahadahnya yaitu kesaksian hatinya yang menyatu. Bagimana wujud bisa bersatu padahal wujud itu ya hanya satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada wahdatul wujud berarti banyak wujud yang kemudian bersatu wujud itu, sedangkan yang berhak mempunyai sifat wujud itu hanya Allah karena itu Beliau mengatakan awalnya dengan wa lam yasyhadhu – tidak menyaksikan Allah, fiihi – di balik semesta ini, au indahu – atau di sisi semesta ini, au qablahu – atau sebelum adanya semesta ini, au ba’dahu – atau sesudah digulungnya semesta ini, faqad a’wazahu wujuudul anwaar – orangitu telah kehilangan wujud cahaya, wa hujibat ‘anhu syumuusul ma’aarifi bi suhubil atsar – dan orang itu tertutup dari cahaya matahari makrifat oleh mendung-mendung kemakhlukan semesta dunia ini. Dari sinilah kenapa disebut dunia itu suatu pesona yang memperdayai kita karena itu sebenarnya tidak ada hanya bayangan saja seperti orang melamun membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hanya seakan-akan ada saja. Kalau orang masuk di dalam lamunan itu, maka dia akan kehilangan cahaya lalu orang hidup dalam ghurur tadi. Jadi kehidupan dunia itu bisa memperdayai karena orang bisa kehilangan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau orang bisa yasyhadhu fiihi bisa musyahdah di balik dunia, di sisi dunia, sebelum adanya dunia dan setelah dunia ini tidak ada maka orang tidak akan pernah kehilangan nur – yang digambarkan sebagai cahaya matahari makrifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini penting sekali karena Allahu nuurus samaawaati wal ardh – Allah itu cahaya langit dan bumi [Q.S. 24:35], maksudnya bahwa Allah itu mencahayai, nur itu adalah asma’ dan sifat. Sifat nurNya itu adalah ada di langit dan di bumi, karena itu apa saja – kalau kita ingin mendengar tasbihny alam semesta ini maka musyahadah dulu di balik apa saja yang tampak. Bahwa di balik itu Allah. Seperti misalnya bisa digambarkan soal hubungan interaksi kita dengan Allah melalui apa yang kita pandang – man ra-a nafsahu faqad ra-a rabbahu, siapa yang melihat dirinya maka ia akan melihat tuhannya. Kita itu melihat diri kita apa ? Oh… aku melihat diriku sebagai abd / hamba. Dia melihat tuhannya pada tingkat abd ini berarti ada ubudiyah maka dia melihat tuhannya sebagai rab yang rububiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksinya : siapa yang melihat dirinya dengan taubat, contohnya seseorang yang melihat dirinya bersalah dan melakukan taubat maka dia akan melihat tuhannya dengan sifat maghfirah. Siapa yang mengenal dirinya dengan doa, misalnya seseorang yang berkesadaran untuk full dengan doa karena di al qur’an disebutkan yaa ayyuhaannaasu antumul fuqaraa-u ilallah – hai manusia kamu sangat butuh banget sama Allah [Q.S. 35:15], oleh karena itu aku harus mohon – kalau aku mohon aku harus kenal tuhan. Begitu tuhan kenal dengan si pendoa maka dia akan kenal Allah dengan ijabahNya. Proses itu berlangsung terus menerus tidak habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah Anda mengenal pohon, air, hawa panas, itu semua tentang diri kita sebenarnya, pelajaran dari Allah tentang profile dan prototype diri kita sendiri. Lalu apa ? Oh.. iya Allah sedang menggerakkan apa – sifat apa di situ ? Itulah awal musyahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya ada kawan di Jakarta, ceritanya lagi jadzab yang membawa hikmah tetapi jangan ikut-ikut lho ya… Perusahaan kalau di Jakarta kalau ada kantor gede bikin listing sumbangan mau bikin musholla, kebanyakan yang memberikan sumbangan ditulis hamba Allah seratus ribu misalnya, nah kawan saya lagi agak gendeng ditulis saja Allah seratus ribu – geger sekantor itu. Karena kawan saya agak kontroversial, maka dipanggil oleh direkturnya, “Rosyid, sini !, Kenapa mengaku tuhan ? Ini ada bukti-buktinya”, “Ini tanda tangan siapa ?”. Si Rosyid menjawab, “Ini tanda tangan saya memang, tapi sebenarnya begini Pak tujuan saya agar temen-temen kantor nanti ketika membangun musholla merasa bahwa yang membangun itu gusti Allah juga bukan cuman diklaim oleh temen-temen sekantor ini”. “Lho maksudmu gimana kok kamu tulis Allah begini ?”. “Lha iya sekarang saya minta Bapak menulis di kertas tulisan apa saja”. Kemudian ditulis misalnya : rencana pembangunan musholla. “Siapa Pak yang nulis tadi ?”. “Saya”. “Apa bukan pulpen yang nulis ? Sama seperti saya, saya ini cuman pulpennya gusti Allah, jadi engga berhak mengaku tadi tulisan saya, tulisannya gusti Allah juga”. Jadi semua itu tadi merupakan gambaran saja bahwa itu cermin. Dulu Syekh Jalaluddin ar Rumi yang punya tarekat Maulawiyah, pernah mengadakan lomba lukis, ada orang yangmengikuti tanpa membawa kertas tetapi membawa cermin. Saat lukisan dikumpulkan, ditanya orangtersebut tentanglukisannya dan dia menjawab, “Bapak minta lukisan apa ? Mau lukisan gunung ? Ini dia” sambil menghadapkan cermin ke arah gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hal ini sebenarnya Syekh Jalaluddin ar Rumi ingin mengingatkan bedanya seorang sufi dengan intelektual atau cendekiawan. Kalau intelektual/ilmuwan/cendekiawan ya seperti pelukis itu kerjanya menggambar, mengukur, menghitung tetapi tidak bisa 3 dimensi seperti dalam cermin itu. Nah si sufi ini hanya ingin memotret saja yang pas. Qolbul mu’minin baitullah – qolbunya orang beriman itu rumah Allah, cermin Allah. Cermin itu kecil, tetapi kenapa bisa mewadahi seluruh gambar bukit yang ada di hadapannya ? Itu untuk menjawab pertanyaan bahwa Allah itu tak terhingga tetapi kok dalam hadis Qudsi berfirman bahwa yang bisa memuat Allah cuma hati orang yang beriman. Lha hati itu seperti cermin tadi, karena itu hati kita ini tiap hari harus digosok terus supaya ada pancaran nur tadi, nurnya Allah biar bisa persis terpantul dalam hati kita. Kalau tidak bisa persis ya karena salah kita saja, soal yaqin kita kepada Allah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memandang alam semesta kita tidak boleh memandang wujudnya saja, karena perintah Allah itu kita disuruh memnadang yang tersembunyi di balik yang wujud dalam rangka musyahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah ada af’al, asma’ dan sifat Allah, sehingga akhirnya seseorang hisa memahami kalau Allah menyebutkan bahwa seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih.&lt;br /&gt;Daun akan menyucikan Allah karena dia tidak akan mengklaim dirinya tumbuh karena dirinya, kalau dia mengklaim dia tumbuh dengan sendirinya berate dia mengotori, mengurangi af’al, asma’ dan sifat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilanjutkan dengan [15] : mimmaa yadulluka ‘ala wujuudi qahrihi subhaanahu an hajabaka ‘anhu bimaa laisa bimaujuudin ma’ahu. Salah satu sifat Qahar-nya Allah yaitu memaksanya Allah, antara lain adalah menutup diri kita ini dengan sesuatu tutup yang sebenarnya tutup itu tidak pernah ada. Manusia sering kali tertutup antara dirinya dan tuhanya dengan sesuatu, bisa dunia, bisa hawa nafsu, bisa khayalan, bisa akhirat, padahala hakikatnya tutup itu tidak ada. Kalau ada sesuatuyang bisa menutupi Allah berarti sesuatu itu akbaru minhu - lebih besar dibandingkan Allah. Kita harus mulai belajar merasakan bahwa kita sholat, bergerak kesana kemari, Rasulullah mengajari terus menerus mengucapkan bismillahirrohmanirrohim. Sebenarnya untuk apa ? Hal itu adalah minimal agar kita sadar bahwa di balik itu semua ada asmanya Allah sehingga hubungan kita dengan Allah tidak mudah tertutup oleh sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu tidak ada. Yang ada itu Allah saja. Kita ini kan hanya cermin. Tetapi manusia menjadi salah manakala bercermin dan mengaku bahwa yang di cermin itu adalah dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi musyahadah adalah dalam wilayah ruh menjelang wilayah sirr. Jangan diturunkan di wilayah akal, nanti akan menjadi seperti orang membawa cermin tadi yang kemana-mana pengumuman bahwa cermin itulah dirinya. Bias dari ruh adalah qalbu kita ini.&lt;br /&gt;Dilanjutkan dengan sepuluh kaifa [16] : kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwalladzi zhahara bikulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah menyertai segalanya [menyertai itu ya apa saja ada Allah di situ, tetapi sesuatu tidak bisa menyertai Allah, Allah yang menyertai sesuatu], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwalladzi zhahara fii kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah tampak dibalik segala sesuatu, kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwalladzi zhahara likulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah tampak bagi segala sesuatu [Maksudnya kalau Allah tampak bagi segala sesuatu berarti yang lain tidak tampak, lalu jangan yang lain itu kita jadikan tutup wong tidak tampak], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwazh zhahiru qabla wujuudi kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah sudah tampak sebelum segala sesuatu yang ada ini tampak dan ada, kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwa azh-haru min kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah itu lebih jelas dari segalanya yang ada [Lebih jelas, bahkan saking jelasnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita dan hanya bisa dipandang oleh mata hati kita. Mata hati kita ini produk akhirat yang ada di dunia sehingga bisa memandang Allah.], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwal wahidulladzi laysa ma’ahu syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah itu satu-satunya tidak ada yang menyertainya [Satu-satunya itu adalah pernyataan seseorang ketika sudah menafikan semuanya, lalu orang akan mengatakan Kaulah satu-satunya. Hal ini beda dengan Kaulah Maha Esa, beda ! Al wahid itu artinya satu-satunya.], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwa aqrabu ilayka min kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah maha dekat dibanding apa pun yang dekat dengan kita [Karena maha dekat janganlah membayangkan bahwa kedekatan dengan Allah itu berdasarkan dekatnya jarak, ruang, waktu dan zaman. Hal tersebut tidak bisa untuk mengukur dekatnya Allah.], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun walaulaa hu maa kaana wujuudu kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, kalau tanpa Allah segalanya tidak pernah ada, yaa ‘ajaban kaifa yazh-harul wujuudu fiil ‘adam – sungguh mengagumkan/mengherankan bagaimana engkau bayangkan ada sesuatu yang ada padahal itu ada dalam ketiadaan [Orang itu terhijab karena dia memproduksi sesuatu yang disebut menurut dia ada padahal dalam ketiadaan], kaifa yatsbutul haaditsu ma’a man lahu washfil qidam – bagaimana sesuatu yang baru kita sandingkan dengan sesuatu yang maha dahulu [Itu tidak akan terjadi.].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sepuluh hal tersebut silahkan Anda tulis, ditempel di kamar Anda, di tempat Anda merenung agar suasana musyahadah dengan Allah dapat terus. “Engkau semua Allah” dan di situlah awal interaktif, awal Anda on line terus dengan Allah lalu Anda akan menyadari bahwa hijab itu ternyata tidak ada. “Kok gusti Allah semua ya?” jadi nanti akan begitu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-4859817299209192899?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/4859817299209192899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=4859817299209192899&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4859817299209192899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/4859817299209192899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2008/05/kajian-kitab-al-hikam.html' title='Kajian Kitab Al-Hikam'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-2635303066500315938</id><published>2008-05-06T09:30:00.001+07:00</published><updated>2008-05-06T09:55:17.876+07:00</updated><title type='text'>Ahmadiyah Itu Bagian dari Kolonialis Inggris</title><content type='html'>Oleh Arifin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bermunculannya orang-orang yang mengaku sebagai nabi palsu sudah ada sejak dahulu kala. Di jaman Nabi saw. masih hidup saja sudah ada orang yang berani mengaku-ngaku sebagai nabi. Yakni Aswad al-’Ansiy dan Musailamah al-Kadzdzab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aswad al-’Ansiy sebenarnya adalah Abhalah bin Ka’ab al-’Ansiy. Dia adalah kepala Bani Madzhij di daerah Yaman. Dia seorang tukang tenung (santet), tukang sihir, dan seorang yang kaya raya di Shan’a. Dia sangat berpengaruh di kalangan kaumnya dan banyak yang terpikat kepadanya karena kelebihannya. Banyak orang yang kagum kepadanya karena menyaksikan sihirnya yang menakjubkan. Pada akhir tahun ke-10 Hijriyah, Aswad telah memproklamirkan diri sebagai nabi yang ditunjuk oleh Allah. Menurut pengakuannya dia didampingi oleh dua malaikat yang memberitahukan kepadanya apa saja yang telah dan akan terjadi. Kedua malaikat itu bernama Suhaiq dan Syuqaiq. Sebenarnyalah kedua makhluk yang mendampingi Aswad adalah setan yang biasa mendampingi tukang sihir dan tukang tenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan Aswad al-’Ansiy akhirnya dapat dihancurkan oleh kaum muslimin. Ia sendiri mati di tangan Fairuz ad-Daylamiy dengan cara dipenggal lehernya dalam keadaan mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Musailamah adalah Harun bin Habib al-Hanafiy. Dia adalah kepala suku Yamamah. Pada tahun ke-10 Hijriyah, dia bersama rombongannya sebagai utusan dari Bani Hanifah datang menghadap Nabi saw. di Madinah dan memeluk Islam. Namun sekembalinya dari Madinah dia berbalik menjadi kafir, murtad. Dia mendakwakan diri sebagai nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, selain punya motif keagamaan, Musailamah juga ingin kekuasaan. Lewat dua orang utusannya ia mengirim surat kepada Nabi saw. Isi suratnya sebagai berikut, “Dari Musailamah utusan Allah kepada Muhammad utusan Allah. Kesejahteraan semoga dilimpahkan atasmu. Aku telah bersekutu dalam urusan kenabian ini denganmu dan bagi kami separuh tanah dan bagi Quraisy separuh tanah, tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan Musailamah baru terhenti di masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Untuk mengatasi kekuatan pasukan Musailamah, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid ra. melalui peperangan yang dahsyat akhirnya kekuatan Musailamah dapat dimusnahkan. Ia sendiri mati ditombak oleh Wahsyi hingga tembus ke tubuh bagian belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata kemunculan nabi-nabi palsu tidak berhenti sampai di situ. Salah satu nabi palsu yang paling ‘ngetop’ adalah Mirza Ghulam Ahmad. Dengan bantuan pemerintah kolonial Inggris, Mirza Ghulam Ahmad mendirikan ajaran Ahmadiyah Qadiyani. Dia sendiri menyatakan sebagai nabi setelah Rasulullah saw. Dia pun memperkenalkan kitab suci selain al-Quran, yakni kitab Tadzkirah. Karena dibantu oleh negara imperialis Inggris maka Ahmadiyah sampai sekarang masih bertahan. Bahkan pusat pergerakan agama itu berada di London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaat Ahmadiyah jelas bukan bagian dari umat Islam Indonesia alias non-Muslim. Jika mereka tetap ngotot minta dianggap Muslim, maka mereka harus membuang Mirza Ghulam Ahmad dan Kitab Tadzkirahnya. Ini harga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum Umat Islam (FUI) merupakan salah satu ormas garda depan yang berupaya memberi pencerahan pada umat Islam Indonesia dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, guna mengelaborasi masalah Ahmadiyah ini maka eramuslim mewawancarai Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa ustadz jelaskan di mana letak kesesatan Ahmadiyah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang pertama membuat pengakuan adalah Mirza Ghulam Ahmad, ia membuat pengakuan bahwa dirinya adalah seorang nabi. Dalam pandangan Islam jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nah itu yang menimbulkan kekesalan di India, daerah asal Mirza Ghulam Ahmad. Pada waktu dalam penjajahan Inggris, Pakistan berusaha untuk memerdekakan negeri Islam di India. Sebenarnya di India itu negara Islam karena yang berkuasa kaum muslimin, meskipun penduduk aslinya beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris masuk ke India, kekuasaan diambil-alih Inggris. Kemudian dari ajaran Mirza, yang membuat kita menduga kuat bahwa ajaran Ahmadiyah itu buatan Inggris, karena para pengikutnya dilarang untuk berjihad melawan pemerintahan Inggris. Dari sini kita bisa melihat, bahwa mereka adalah bagian dari kolonialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Ahmadiyah di Pakistan ditentang rakyatnya sendiri sehingga mereka memindahkan markas besarnya ke London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangannya seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tampak jelas sekali, tidak benar kalau ada yang mengatakan ini khilafiyah. Karena urusan nabi palsu ini adalah hal yang pokok, mendasar, dan sudah ada sejak dulu.&lt;br /&gt;Dari segi ajaran Islam, mereka sudah melanggar sesuatu yang sudah ada dalam Al- Quran Surat Al-Ahzab ayat 40 yang artinya, ‘tidaklah Muhammad itu bapak dari salah seorang laki-laki di antara kalian, tapi tiadalah dia merupakan rasulullah dan penutup para nabi’.&lt;br /&gt;Ahmadiyah itu mengarang-karang bahwa khatamuun nabiyiin di situ bukan penutup para nabi, tapi sebagai stempel kenabian atau cap kenabian, ini karangan mereka. Padahal dalam hadis sudah jelas, hadis Imam Ahmad At-Tawuud, Imam Turmudzi, maupun Imam Bukhori, menyebutkan ‘aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi sesudahku’. Jelas dalam hadis Bukhori, yang mengatakan, tidak ada nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Rasul bagaimana cara mengatasi persoalan nabi palsu. supaya saat ini umat Islam mempunyai refensi yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengaku dirinya sebagai nabi adalah kesesatan, dan apabila dia menyampaikan kepada orang lain, statusnya menjadi penyesatan. Karena pada zaman Rasulullah itu sudah ada contohnya orang yang bernama Musailamah menulis surat kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat berbunyi, ’surat dari Musailamah rasulullah, kepada Muhammad rasulullah’, kemudian Muhammad SAW membalas dengan ‘Surat dari Rasulullah ditujukan kepada Musailamah sang pembohong’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hadis lain menyatakan, ‘kalau sekiranya Muhammad memberikan pangkat kenabian padaku sesudahnya, maka aku akan mengikuti dia’. Artinya apa kalau Muhammad SAW tidak memberikan pangkat kenabian itu kepadanya, dia tidak akan mengikuti Nabi Muhammad berarti dia murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW pun berkata,&lt;br /&gt;‘Andaikan kau meminta pelepah kurma ini aku tidak akan berikan’. Ya pelepah kurma saja tidak diberikan, apalagi pangkat kenabian, ‘karena pangkat kenabian itu tidak bisa diberikan atau diwariskan, tapi itu adalah kehendak Allah SWT’. Kemudian ada dua pengikut Musailamah dari daerah yang letaknya sangat jauh Madinah menyampaikan surat kepada Rasul, lalu Rasul bertanya,&lt;br /&gt;‘Apakah kalian bersaksi aku adalah Rasulullah, lalu keduanya menjawab kami bersaksi Musailamahlah Rasulullah’ jadi mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, baik Musailamah dan pengikutnya yang berjumlah 41 ribu dari kalangan suku bani Hanifah, mereka murtad, padahal sebelumnya mereka muslim. Karena mereka murtad, maka Rasulullah mengatakan lagi kepada utusan itu ‘kalau seandainya aku adalah kepala negera yang membunuh utusan, pasti kalian berdua akan aku bunuh’, tapi ada kesepakatan saat yang mengatakan utusan tidak boleh dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist ini dipahami oleh para oleh sahabat bahwa hukuman untuk para pengikut Musailamah dan termasuk dua utusan tidak pada posisi sebagai utusan adalah mereka dihukum mati. Ketika khalifah Abu Bakar, ketika kelompok Musailamah Al-Khalzab bersatu dengan kelompok murtadin, lalu kelompok murtadin ini bahu membahu untuk membangkang pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq, kemudian Abu Bakar mengangkat panglima untuk menyampaikan ultimatum dari khalifah kepada mereka, agar segera kembali kepada Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keluar ayat terjemahan berbunyi “Tidaklah Muhammad itu melainkan hanya sekedar seorang rasul, telah berlalu rasul-rasul sebelum beliau, kalau sekiranya Muhammad itu wafat, maka kalian berpaling ke belakang (murtad).” Ayat ini yang dipakai khalifah Abu Bakar untuk mengembalikan kaum murtadin ke pangkuan Islam dan menjalankan syariat Islam yang diyakini sebelumnya, apabila mereka menolak bertobat tidak mau kembali kepada Islam maka hukumannya adalah hukuman mati, tanpa pandang bulu. Tapi bagi mereka bertobat, dan diterima kembali sebagai pemeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pemerintah harus melakukan seperti contoh para sahabat zaman Rasulullah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskinya pemerintah muslim menangani dengan cara-cara seperti itu, contoh di atas memberikan gambaran bahwa nabi palsu bukan baru kemarin, bukan baru Mirza Ghulam Ahmad, di zaman Nabi Muhammad SAW sudah ada, di zaman khulafaurasyiddin sudah ada.&lt;br /&gt;Jangan dibiarkan ada, sebab kalau dibiarkan ada, mereka sangat membahayakan bagi umat Islam, karena mereka melakukan pemurtadan. Jadi contoh di atas, merupakan landasan syari’i yang harus diambil terhadap orang Ahmadiyah. Itu sudah jelas, itu sudah nyata jangan diplintir-plintir ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau penyelesaian melalui jalan pengadilan seperti yang disarankan oleh Mahkamah Konstitusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau pengadilan ya pengadilan yang merujuk pada syariat, tapi yang mau diadili apanya. Kalau yang mau diadili sesat atau tidak sesat, mereka jelas sudah sesat, menurut syariat Islam, orang yang sesat harus diminta bertobat, mereka sudah murtad.&lt;br /&gt;Mereka diajak kembali kepada Islam, gampangnya itu saja. &lt;br /&gt;Kalau diadili, tapi tetap dalam kemurtadanya buat apa diadili,&lt;br /&gt;Apanya yang diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mereka diajak kembali masuk kepada Islam, kalau diajak tidak mau, ya menurut syariat Islam hukumnya dihukum mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau diadili harus ada Mahkamah Syariah seperti ini, baru bisa. Kalau pengadilannya tidak bisa menilai benar dan tidak sesuai syariah Islam ya susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah merusak ajaran Islam dengan ketidakjelasan. Kita sudah pengalaman dalam kasus Playboy, dibawa ke pengadilan tapi keputusannya tidak jelas. Yang mengatakan tuntutan tidak bisa diterima karena KUHP tidak berlaku, harus mengikuti UU Pers, ya bagaimana kalau terulang seperti tidak akan ada penyelesaiannya.(novel)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-2635303066500315938?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/2635303066500315938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=2635303066500315938&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/2635303066500315938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/2635303066500315938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2008/05/ahmadiyah-itu-bagian-dari-kolonialis_06.html' title='Ahmadiyah Itu Bagian dari Kolonialis Inggris'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-8683430471309250627</id><published>2008-05-06T09:04:00.000+07:00</published><updated>2008-05-06T09:12:50.542+07:00</updated><title type='text'>Ada Beribu Hikmah dalam Ujian</title><content type='html'>Orang yang ditahan adalah orang yang ditahan (jauh) dari Tuhannya. Dan orang yang ditawan adalah mereka yang ditawan oleh hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini, kebahagiaan selalu berpasangan dengan kesedihan. Keduanya silih berganti menghiasi hidup kita. Adalah sebuah keniscayaan bahwa satu masa dalam hidup kita, Allah memberikan ribuan karunianya, dan dimasa yang lain, Allah memberi musibah-musibah yang harus kita hadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah itu kesenangan ataupun kesedihan, semuanya itu bisa menjadi ujian buat kita. Namun ketahuilah wahai orang-orang yang beriman, yang sedang diuji hidupnya, bahwa anda sangat beruntung. Yaitu Orang-orang yang sabar dalam ujiannya. Karena tidaklah Allah memberikan ujian, kecuali Allah mencintaimu. Ingat sabda Nabi dalam hadist shahihnya, “Barangsiapa yang menghendaki kebaikan, ia akan dikenakan musibah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian juga dalam firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah : 155 – 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”(Al-Baqarah : 214)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah sahabat, Allah mengujimu untuk meninggikan derajatmu di surga, karena Ia mencintaimu. Ia mengujimu agar kamu sadar dari kelalaian jiwamu dan agar kamu tidak terlena dengan dosa-dosamu, karena Ia mencintaimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengujimu untuk menghapus kesalahanmu, karena Allah ingin mengharamkan nerakaNya darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengujimu agar kamu menyadari nikmat-nikmat Nya sehingga kamu dapat mensyukurinya, karena Ia mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menguji kamu agar kamu mengetahui nilai dunia dan hakikatnya, sehingga kamu menyadari betapa bernilainya akhirat, ini juga karena Ia mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengujimu supaya kamu ridha kepadaNya, sehingga kamu berhak mendapatkan ridha dari-Nya, karena Ia mencintaimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengujimu agar kamu merasa rendah di hadapan-Nya, sehingga kamu senantiasa berdoa di malam hari dan berharap Allah segera mengabulkan doamu, serta mengganti satu nikmat yang telah hilang dengan nikmat lain yang berlimpah, karena Allah mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengujimu agar kamu masuk surga dengan jalan yang sangat mudah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia mengujimu untuk mendidikmu agar dapat bersikap proporsional terhadap apa yang Allah karuniakan ataupun apa yang Allah ambil kembali darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendidikmu dan itupun karena Ia mencintaimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti FirmanNya dalam Al-Qur’an : &lt;br /&gt;“Setiap bencana yang menimpa di Bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.(Al-Hadid : 22 – 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sahabat, ada beribu hikmah dalam ujianNya. Kita tidak boleh meminta ujian tersebut, dan hendaklah bersabar saat kita harus menghadapinya. Kita harus senantiasa mencari hikmahnya dan berprasangka positif kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui, telah mentakdirkan yang terbaik untuk hambaNya yang beriman dan berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat kisah nabi Musa dan Khidir? Ketika itu, Musa tidak bisa bersabar terhadap ketiga hal yang dilakukan oleh Khidir. Ketidaksabaran Musa ini lantaran Musa melihat hal tersebut sebagai suatu kedzaliman, padahal sesungguhnya tidak demikian. Karena Khidir melakukannya atas dasar petunjuk dari Tuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak mendzalimi karena kita kurang berpengetahuan terhadap hal-hal tersebut. Bahwa hal-hal yang tampaknya mendzalimi itu, sebenarnya merupakan jalan menuju rahmat dan kasihsayang Allah untuk hamba-hambaNya yang sholeh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“….Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu , padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-baqarah : 216)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sahabat, jika kita menyerahkan sepenuhnya segala masalah yang kita hadapi kepada Allah Ta’ala. Kemudian, menyadari diri kita dan segala apa yang kita cintai adalah milik Allah yang hanya dipinjamkan olehNya kepada Kita, maka hati kita akan terasa lapang dan tentram saat menghadapi ujianNya. Hati kita akan ikhlas ketika Allah mengambil kembali apa yang memang menjadi kepunyaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut dan tidak bersedih hati.” (Al-Baqarah : 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Ketangguhan Para Nabi dan Salafussholeh dalam Menghadapi Ujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa dinul Islam, yang kita yakini sekarang, juga dibangun oleh perjuangan para Nabi dan salafussholeh. Perjuangan yang diwarnai dengan cobaan dan penderitaan yang sangat berat. Dan tentu saja ujian ini jauh lebih berat dari ujian yang kita rasakan sekarang. &lt;br /&gt;Ingat, cobaan Nabi Muhammad SAW saat berdakwah di tanah Thaif. Ketika itu, terjadi Penolakan bani Abdu Yalil terhadap dakwah beliau. saat itu, Nabi dituduh sebagai pembohong besar. Dan bukan hanya itu, orang-orang bani Abdu yalil juga melempari beliau dengan batu secara bertubi-tubi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya beliau terjatuh ke tanah. Lalu dengan susah payah beliau berusaha bangkit kedati lemparan batu itu masih terus menghujani beliau. Sementara itu, anak-anak kecil berlari-lari dibelakang beliau, sembari mengolok-olok beliau dengan cercaan,” dungu” dan “gila”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah gelombang ujian dan cobaan berat itu, terucaplah sebuah doa yang lahir dari kejujuran hati beliau, yaitu doa penuh pengharapan akan segala rahmat dan ridha-Nya. Berikut doa yang beliau ucapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, aku mengadukan kepada Engkau akan segala kelemahanku, sedikitnya kemampuanku dan kehinaanku dimata manusia. Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan daku, apakah kepada kaum yang tak berkenan menerimaku dengan sikap yang tidak menunjukkan keramahan (menyakiti), ataukah Engkau menyerahkan aku kepada para musuh? Jika bukan karena kemurkaan-Mu, aku tidak akan pernah peduli. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menerangi semua kegelapan dan membuat urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari turunnya kemurkaan dan marah-Mu atasku. Peringatkanlah aku hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya selain dariMu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah pun segera mengabulkan doa yang tulus tersebut dan segera mendatangkan bantuan. &lt;br /&gt;Contoh dari ketangguhan orang-orang sholeh terdahulu dalam menghadapi ujian dapat kita lihat dari Ibnu Taimiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat bahwa ketika Ibnu Taimiyah dimasukkan ke dalam penjara di Qal’ah (benteng), beliau berkata,”Apa gerangan yang akan diperbuat musuh-musuhku! Surga dan kebunku berada didadaku, kemana saja aku pergi ia senantiasa bersamaku. Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya bersamaku. Jika mereka membunuhku, maka kematianku adalah syahid. Jika mereka mengasingkanku, maka pengasingan bagiku merupakan kesempatan untuk santai. Jika mereka memenjarakanku, maka penjara bagiku laksana tempat khalwat-ku. Orang yang ditahan adalah orang yang ditahan (jauh) dari Tuhannya. Dan orang yang ditawan adalah mereka yang ditawan oleh hawa nafsunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid Ibnu Taimiyah yang cerdas, Ibnul Qayyim al-jauziyah mengatakan, “demi Allah, aku tidak melihat seorang pun yang lebih enak dan santai hidupnya dari beliau. Walaupun hidupnya serba sulit tetapi ia tetap orang yang paling lapang dadanya, paling kuat hatinya dan paling gembira jiwanya. Dari wajahnya memancar cahaya penuh kedamaian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan apa yang telah penulis tuliskan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan hanya dengan pertolongan Allah sajalah kita dapat menghadapi ujian tersebut dengan hati yang ridho. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, jangan pernah bosan untuk berdoa agar Allah mengkaruniakan hati yang senantiasa bersyukur atas segala NikmatNya, ridho dengan apa yang dikehendakiNya dan mohon juga padaNya agar Allah senantiasa memberkahi apa-apa yang telah Ia takdirkan untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jadilah orang yang paling berbahagia, karena sesungguhNya Allah telah menyediakan tempat kesudahan yang baik bagi orang-orang yang sabar, seperti dalam firmanNya :&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang sabar karena mengharapkan keridho-an Tuhannya, melaksanakan sholat, menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang –orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. Yaitu surga ‘adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang sholeh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.(sambil mengucapkan) “selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (Ar-ra’d : 22 - 24)&lt;br /&gt;(Auyisa/euis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Terinspirasi oleh buku “Ketika Allah Berbahagia”, Dr. Khalid Abu Syadi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-8683430471309250627?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/8683430471309250627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=8683430471309250627&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8683430471309250627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/8683430471309250627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2008/05/ada-beribu-hikmah-dalam-ujian.html' title='Ada Beribu Hikmah dalam Ujian'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-3925665882277449646</id><published>2008-02-20T10:02:00.000+07:00</published><updated>2008-05-06T09:14:36.344+07:00</updated><title type='text'>Majelis Dzikir Al Ikhlas</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6uyYF8I/AAAAAAAAAHI/F36MeJF6uJE/s1600-h/114.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057939214714804162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6uyYF8I/AAAAAAAAAHI/F36MeJF6uJE/s320/114.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6-yYF9I/AAAAAAAAAHQ/eI989lz-JV4/s1600-h/11.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057939219009771474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6-yYF9I/AAAAAAAAAHQ/eI989lz-JV4/s320/11.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6-yYF-I/AAAAAAAAAHY/lEC7uUh1nSo/s1600-h/111.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057939219009771490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6-yYF-I/AAAAAAAAAHY/lEC7uUh1nSo/s320/111.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6-yYF_I/AAAAAAAAAHg/1icrlYJNK38/s1600-h/112.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057939219009771506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6-yYF_I/AAAAAAAAAHg/1icrlYJNK38/s320/112.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat Allah SWT dengan senantiasa berdzikir kepadaNya. Majelis Dzikir Al Ikhlas menggelar acara Dzikir yang dipimpin oleh Ustadz Syifullah yang merupakan murid dari Ustadz Arifin Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al Ikhlas Malam itu bergetar, digetarkan oleh hati-hati yang bergetar karena ikhlas menyebut AsmaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah….Alhamdulillah….walaillaha ilallah…Allahu Akbar…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmata berderai……………&lt;br /&gt;Bibir basah oleh Dzikrullah…&lt;br /&gt;Tangan tangan terangkat mengiring do’a….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isak tangis terdengar…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat dosa…&lt;br /&gt;Mengingat mati…&lt;br /&gt;Mengingat Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh sunnah harian Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Shalat tahajud&lt;br /&gt;2. Qira’at Qur’an dan terjemahaannya&lt;br /&gt;3. Sholat Subuh berjamaah di Masjid&lt;br /&gt;4. Sholat Dhuha&lt;br /&gt;5. Bersedekah setiap hari&lt;br /&gt;6. Senantiasa menjaga wudhu&lt;br /&gt;7. Senantiasi Dzikir - Istighfar&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sufisme tanpa Zuhudisme&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa dan melakukan kesalahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;USTAz Muhammad Arifin Ilham melantunkan doa tersebut dengan suara serak. Air mata meleleh di pipi pimpinan majelis zikir itu. Jemaah zikir tampak ikut hanyut dan meneteskan air matanya. Itulah fenomena spiritualisme yang sering bisa disaksikan di Masjid-masjid dan sejumlah tempat lain di kota-kota besar dalam dua tahun terakhir ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetesan air mata di tengah zikir bukan identik dengan tumpahan air mata buaya. Air mata kecengengan. Ini merupakan bagian dari pengalaman spirutual ketika orang mengakui kesalahan, kekerdilan dalam perjalanan hidupnya. Sebaliknya mengakui kebesaran Tuhan, Allah SWT, yang hadir secara transenden berkat kenikmatan doa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Annemarie Schimmel dalam buku Dimensi Mistik dalam Islam menggambarkannya sebagai pengalaman mistik atau pengalaman sufistik. Pengertiannya, ekspresi cinta kepada Yang Mutlak. Cinta Ilahi membuat si pencari mampu menyandang, bahkan menikmati segala sakit dan penderitaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, untuk mengujinya dan memurnikan jiwanya. Apabila pengalaman ini sampai tahapan transendental, orang yang mengalami akan merasa "bagaikan elang yang membawa mangsanya", yakni memisahkannya dari segala yang tercipta dalam waktu (hlm. 2-3).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena "air mata" dalam majelis zikir merupakan bagian awal dari determinasi pengalaman spiritual agama yang digambarkan Annemarie Schimmel. Bentuk pengalaman yang dirasakan tentu saja berbeda-beda pada setiap orang. Begitu pula halnya kualitas dari pengalaman mistik, masing-masing berbeda kadarnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai model pendekatan dakwah, metode spiritualisme yang diterapkan oleh dai muda seperti Ustaz Muhammad Arifin Ilham dan dalam kadar tentu oleh Abdullah Gymnastiar itu bisa dikategorikan sebagai model dakwah baru di tanah air. Selama ini dakwah lebih menonjol dengan pendekatan dogmatis. Jemaah dijejali dengan norma-norma agama dan dalil-dalilnya, sesekali diselingi humor pemancing tawa. Atau, jemaah dipaksa tepekur dalam bengong, tanpa merasakan secara langsung kehadiran Tuhan, Allah SWT, di tengah sebuah forum muhasabah. Tidak ada setetes air mata pun yang berlinang selama mendengar untaian kalimat-kalimat yang diceramahkan pendakwah. Suasananya menjadi hambar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Arifin Ilham khususnya mengajak jemaah aktif dalam pergumulan batin. Salawat, tasbih, dan kalimat tayyibah lainnya dikumandangkan bersama. Diselingi untaian doa yang dibahasakan dalam bahasa ibu jemaah. Menyentuh kalbu dan menghanyutkan jemaah pada perasaan masing-masing. Sampai akhirnya setiap jemaah merasa diri kecil, merasakan tiada cinta yang murni kecuali cinta diri kepada Allah dan merasa Allah hadir dalam dirinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini berbeda dibanding keadaan sepuluh tahun silam. Ketika itu, para eksekutif perusahaan milik negara dan swasta gandrung mendalami seruan praktik agama di hotel-hotel dan tempat mewah lainnya. Ada kajian Alquran dan ilmu agama lainnya seperti fikih, syariat, dan tata cara menjalankan ibadah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah spiritualitas Arifin Ilham sebagai kecenderungan atau fenomena orang kota yang gandrung pada pendekatan tasawuf atau sufisme dalam beragama? Sufisme tidak sesederhana dan sebatas zikir. Sufisme sering digambarkan sebagai penerapan agama yang unik dan rumit.&lt;br /&gt;Carl W. Ernest mendefinisikan sufisme dalam beberapa pengertian dengan mengutip catatan dari Qusyayri. Sufisme adalah pintu masuk menuju perilaku teladan dan pintu keluar dari perilaku yang tidak semestinya; sufisme berarti Tuhan membuatmu mati dalam dirimu sendiri dan membuatmu hidup dalam diri-Nya; sufisme yang ikhlas adalah dia (seseorang) merasa miskin ketika memiliki kekayaan, lemah ketika memiliki kekuasaan, dan tersembunyi ketika memiliki kebenaran; sufisme berarti Anda tidak memiliki apa pun dan juga dimiliki oleh apa pun; sufisme berarti meraih realitas-realitas spiritual dan berhenti dari usaha-usaha untuk memperoleh segala yang dimiliki seorang makhluk; sufisme berarti mengetuk pintu Sang Kekasih, meskipun Dia sedang memalingkanmu; sufisme adalah keadaan di mana kondisi-kondisi kemanusiaan hilang; sufisme adalah kekuatan yang menyala-nyala, yang bersinar terang (Ajaran dan Amaliah Tasawuf, Pustaka Sufi, 2003).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik konvensional, para pengikut sufisme memiliki keterikatan dengan mursyid (guru) yang membimbing tata cara spiritual. Guru dianggap sebagai orang suci yang akan hadir di tengah muridnya saat mengalami gejolak, kegalauan, kesedihan, dan persoalan lain. Murid dan guru biasanya memiliki keterikatan dengan tempat-tempat yang dianggap keramat atau tokoh-tokoh besar. Yang sering menjadi ciri khas sehingga dikesankan negatif, sufisme identik dengan zuhudisme atau mengasingkan diri dari dunia, melupakan harta dan kekayaan pribadinya, serta hidup dalam kepasrahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman tersebut, sufisme secara operasional bukan "pendekatan cinta Allah" yang bersifat instan. Jalan mencapai "hakikat cinta" berliku dan para ahli sering menamakan diri setiap tahapan dengan istilah maqam. Salah satu versi, mencapai puncak sufisme harus mengikuti mujahadah dan riyadloh. Jenjangnya mengosongkan sifat-sifat tercela (takhalli), pengisian dengan sifat-sifat terpuji (tahalli), dan akhirnya mencapai kejernihan hati (tajalli) (Amin Syukur, Tasawuf Sosial, Pustaka Pelajar, 2004). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap jenjang memiliki elemen-elemen kelengkapan atau cabang-cabang praktik menuju paripurna. Zuhud atau asketisme sebagai sikap yang mengesampingkan kesenangan dunia dan mementingkan Allah/akhirat dikenal sebagai ciri khas perilaku sufi, hanya bagian dari maqam tahalli. Tetapi banyak yang salah paham, zuhud adalah hakikat dari sufisme, sehingga citra tasawuf menjadi negatif seperti disinggung sebelumnya. Tetapi kesan demikian tidak salah. Sebab banyak mursyid memilih jalan hidup miskin, menjauhkan diri dari urusan dunia, dan seluruh hidupnya dihambakan kepada Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jalan atau sarana mencapai sufisme beragam. Zikir adalah satu cara sebelum memasuki tahapan wirid yang sering digunakan oleh pencari Allah. Muhammad Sholikhin dalam buku Tasawuf Aktual Menuju Insan Kamil (Pustaka Nuun, 2004) menguraikan, zikir sebagai upaya memelihara Allah dalam ingatan atau selalu mengingat dan menyebut asma Allah. Domain zikir adalah hati, pikiran dan lisan. Apabila meningkat menjadi kebiasaan yang tidak putus, diikuti dengan amal saleh seluruh anggota tubuh, maka dicapailah tahap wirid. Wirid merupakan upaya maksimal pembiasaan diri untuk selalu menghampiri Allah, baik dengan bacaan, bisikan hati, maupun perbuatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Annemarie Schimmel memberi gambaran lain yang disebutnya jalan tritunggal mencapai ketauhidan atau kesempurnaan tasawuf dengan mengutup hadis Rasulullah saw, "Syariat adalah perkataanku (aqwali), tarekat adalah perbuatanku (a'mali) dan hakikat adalah batinku (ahwali). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apabila diakselerasikan pendapat Muhammad Sholihin dan Annemarie Schimmel, zikir bagian dari syariat atau jalan normatif tahap awal, diteruskan dengan penghayatan (internalisasi) dalam batin sebagai penanaman rasa cinta kepada Allah, dan terakhir mencapai tahapan wirid yang bisa digambarkan sebagai penyatuan sikap batin dan puncak cinta kepada Allah (makrifat). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena zikir Arifin Ilham bisa dikategorikan sebagai pintu masuk jalan sufistik. Dengan catatan, seremoni ini dilaksanakan dalam kontinuitas waktu, bukan sebatas dalam jemaah tertentu dan waktu tertentu yang disesuaikan jadwal televisi yang menyiarkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang unik dari pendekatan Arifin Ilham adalah penciptaan egalitarianisme tasawuf. Sufistik dalam tradisi konservatif biasanya dipraktikkan secara eksklusif dan menempati ruang khusus yang jauh dari keramaian. Muhammad Arifin Ilham memakai masjid, rumah tinggal sebagai media praktiknya. Jemaahnya sangat plural atau beragam. Siapa pun bisa mengikuti dan menikmati pengalaman batin atau pengalaman spiritual dalam waktu yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap jemaah tidak memiliki keterikatan secara kultural, apalagi secara struktrurual dengan sang mursyid (Arifin Ilham). Ketika zikir akbar selesai, jemaah bebas. Bisa meneruskan zikir sendiri hingga menjelma sampai tingkatan wirid. Kemudian jemaah selepas kegiatan zikir bebas pula mencari jalan hidup, bekerja sebagaimana layaknya menjalani kehidupan sosial. Inikah fenomena sufisme modern? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Zikir Arifin Ilham dikategorikan sebagai bagian praktik tasawuf sangat bergantung dari sudut mana dan siapa yang memahami. Dari sudut pandang sederhana dengan mengacu pada uraian Muhammad Sholihin, perilaku zikir ini bisa diidentifikasi sebagai tasawuf progresif. Suatu praktik sufistik (pada tahapan awal) yang mengombinasikan pendekatan (subjektif) spiritualitas dengan imanen atau praktik kehidupan dunia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam tasawuf progresif salah satu tahapan penting yang jadi ciri khas berupa zuhud ditempatkan secara kontekstual. Karena alasan ini, Muhammad Sholihin mengibaratkan wirid sebagai tanah, dan kerja keras atau amal adalah tanamannya. Maka ia menempatkan zikir yang meningkat jadi wirid berfungsi dialektis. Pertama zikir adalah sebagai wujud pertanggungjawaban diri kepada Allah atas segala limpahan kemurahan dan kenikmatan. Kedua, zikir ataupun wirid cerminan salah satu perangsang bukti tanggung jawab Allah kepada kita. Semakin mewiridkan kekuasaan dan cinta-Nya di sisi kerja keras setiap hari, semakin Allah menunjukkan bukti tanggung jawab-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena frustrasi?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Spiritualisme dalam zikir Arifin Ilham mengundang tanya, apakah pilihan model ini yang diikuti oleh banyak muslim berbagai kalangan kota mencerminkan fenomena frustrasi? Frustrasi oleh kekeringan batin, kesulitan hidup, dan ketidakpastian?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Arifin Ilham dalam buku Indonesia Berdzikir menguraikan, pendekatan agama yang diterapkan laksana membangun konstruksi hidup bersama yang penuh cinta, kasih sayang, tolong-menolong yang diliputi kesyahduan melalui zikir. Arifin Ilham mengamini pendapat Muhammad Sholihin, cara yang ditempuh sebagai penciptaan transformasi ritual ke dalam dataran praksis.&lt;br /&gt;Ia menyebut pendekatannya dengan istilah zikir transformatif. Jalan yang memiliki urgensi tinggi dan mendesak dioperasionalkan bagi kebangunan kembali masyarakat Indonesia menuju Indonesia baru yang agamis, pluralis, dan sekaligus nasionalis. Zikir transformatif menjadi sarana mengoreksi pribadi, masyarakat, para penyelenggara negara dari mulai yang terendah hingga lembaga kepresidenan dan lembaga tinggi negara lainnya. Terminal tujuannya bukan sekadar mereguk anggur spiritual, menikmati pertemuan dengan Tuhan. Zikirnya digambarkan sebagai transformasi revolusi tangan-tangan yang selalu berbuat kerusakan di daratan dan di lautan hingga merusak ekosistem dan lapisan ozon. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Arifin Ilham memulai zikir transformatif ketika situasi Indonesia dalam krisis multidimensional. Ketika negara dengan pendekatan manusiawi dan kekuasaan mengalami kedodoran mengatasi krisis, Maka ia menawarkan agama dipandang sebagai alternatif solusi. Inikah pendekatan jalan buntu?*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Wartawan "Pikiran Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-3925665882277449646?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/3925665882277449646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=3925665882277449646&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3925665882277449646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3925665882277449646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2007/04/majelis-dzikir-al-ikhlas.html' title='Majelis Dzikir Al Ikhlas'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RjFo6uyYF8I/AAAAAAAAAHI/F36MeJF6uJE/s72-c/114.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-3711495757660071495</id><published>2007-03-06T11:03:00.001+07:00</published><updated>2007-04-02T13:20:21.322+07:00</updated><title type='text'>...sebagian kecil alam semesta....</title><content type='html'>... ini adalah sebagian kecil dari alam semesta ciptaan Ilahi Robbi...&lt;br /&gt;dari yang sebgaian kecil ini, bumi hanya sebesar noktah kecil yang tiada artinya di jagat raya ini. Apalagi sosok seorang manusia di alam ini. ...lemah..kecil...tiada daya...apa yang masih bisa dibanggakan, disombongkan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RezwUf5zAUI/AAAAAAAAAAk/EjY1kpL6cyo/s1600-h/eso269_vlt.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038666318072709442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RezwUf5zAUI/AAAAAAAAAAk/EjY1kpL6cyo/s400/eso269_vlt.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika guru SMAku yang mengajar ilmu bumi antariksa kami tanya tentang hakekat alam raya, beliau menjawab :"Sebenarnya alam kita ini sedang berada pada waktu malam....""Tapi mengapa sekarang ini lagi siang pak?" Tanya temanku."Oh, sekarang ini tampak siang, karena kebetulan kita sedang berada pada bagian bumi yang menghadap matahari. Nanti malam, kita akan berada pada posisi balik dari keberadaan matahari." "Tetapi kalau kita perhatikan, seluruh alam ini, sebagian besar berada pada keadaan gelap. Matahari kita hanyalah sebuah titik kecil. Ia adalah bintang kecil, seperti yang dinyanyikan oleh anak-anak TK." Kata beliau."Karena itulah, kita harus selalu berbakti kepada Tuhan. Sebenarnya manusia ini berada dalam kegelapan, kecuali yang diberi cahaya oleh Tuhan." Jawab beliau berfilsafat.Aku merenung, dengan apa yang disampaikan guruku. "Malam adalah hakekat kehidupan". Ah, menarik juga kata-kata beliau itu.Alasan dan jawaban beliau agak aneh kedengarannya. Tetapi sangat masuk diakal. Mengapa? Sebab yang disebut siang di alam raya ini, ternyata begitu sedikitnya, dan begitu kecilnya. Semua gelap gulita kecuali bagian yang diterangi oleh bintang yang 'sangat kecil' itu.Padahal bintang-bintang itu adalah benda raksasa. Tetapi menjadi kecil dibandingkan dengan besarnya alam raya. Ruang yang begitu luasnya di alam raya ini gelap semuanya. Sekali lagi yang terang hanyalah seujung jarum saja. Bagian lainnya malam, dan gelap gulita.Kalaulah di galaksi ini ada seratus milyar bintang, maka seluruh space antar bintang itu gelap dan malam. Kalaulah di alam raya ini ada seratus milyar galaksi atau bahkan lebih, maka seluruh ruangan alam raya ini juga gelap dan malam, kecuali sedikit yang diterangi oleh matahari atau bintang.Sehingga sebenarnya secara menyeluruh, di dunia ini tak ada waktu siang. Jika hari ini kita sedang berada pada giliran siang hari, sebenarnya sembilan puluh sembilan persen atau bahkan lebih, seluruh alam ini sedang dalam keadaan gelap gulita atau dengan kata lain sedang berada pada peristiwa malam.Sehingga kalau Al-Qur'an mengatakan ada peristiwa yang terjadi di waktu malam hari, sebenarnya bagi orang yang berakal, Allah telah memberikan sebuah informasi yang bersamaan, yaitu secara parsial dan secara universal.Secara parsial, yang terjadi pada daerah atau bagian bumi yang sedang berada pada waktu malam. Tetapi juga bisa berarti secara universal. Bahwa setiap saat dan watu, kita semua sedang berada pada saat universal yaitu sedang berada pada waktu malam. Kita disuruh berfikir dan merenung, bahwa semua sedang terjadi ‘saat ini’. Kalau-lah bagi kita sekarang ini sedang siang, boleh jadi di bagian belahan bumi yang lain atau langit yang lain, yang persentasenya jauh lebih besar, sedang terjadi waktu malam, alias gelap gulita.QS. Al-Furqan (25) : 64Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.QS. Qaaf (50) : 40Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.QS. Adz-Dzariyyat (51) : 17-18Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).QS. Al-Muzzamil (73) : 6Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.QS. Al-Qadr (97) : 1Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.Kalau kita lihat, di dalam Al-Qur'an tidak kurang ada sebanyak 114 buah kata 'malam', dengan berbagai macam informasinya. Antara lain bahwa malam hari, adalah :1. Waktu yang paling tepat untuk bersujud (Ali-Imran:113)2. Waktu yang paling tepat untuk bertasbih (Al-Anbiyaa:20; Thaha:130)3. Waktu yang paling tepat shalat sehingga bisa khusyu' (Al-Muzzamil:6)4. Waktu untuk shalat tahajud (Al-Isra':79)Waktu yang paling tepat untuk mencari hikmah ( Adh-Dhukhaan:4)5. Waktu yang paling tepat untuk mohon ampun (Adz-Dzariyaat:18)6. Waktu yang diperbolehkan makan &amp;amp; minum bagi yang berpuasa (Al-Baqarah:187)7. Waktu untuk beristirahat (An-Naml:86, Yunus:67, Al-Mu'min:61)8. Waktu untuk tidur (Al-Furqan:47, Al-An'am:60)9. Waktu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan mensyukuri nikmat Allah (Al-Furqan:62)10. Waktu untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (Al-Isra':12)11. Waktu untuk melihat / merenungi tanda-tanda kebesaran Allah (Al-Isra':1)12. Waktu untuk mendirikan shalat (Huud:114)13. Waktu yang dipilih Allah untuk diturunkannya Al-Qur'an (Al-Qadr:1)14. Waktu yang dipakai malaikat untuk mengatur segala urusan (Al-Qadr:4)Dari berbagai informasi tersebut, tampaklah bahwa waktu malam adalah waktu yang istimewa. Waktu yang tepat dan waktu yang hebat untuk mencari 'senjata' guna dipakai untuk melawan perbuatan setan.Dengan memanfaatkan waktu malam, insya Allah kita akan bertambah dekat dan bertambah cinta kepada Allah Swt. Jika seorang hamba bertambah dekat kepada Sang Penciptanya, insya Allah akan lebih mudah untuk mengalahkan sifat dan perbuatan setan yang selalu merugikan manusia&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-3711495757660071495?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/3711495757660071495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=3711495757660071495&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3711495757660071495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/3711495757660071495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2007/03/sebagian-kecil-alam-semesta.html' title='...sebagian kecil alam semesta....'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RezwUf5zAUI/AAAAAAAAAAk/EjY1kpL6cyo/s72-c/eso269_vlt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-7808815710022690</id><published>2007-03-06T11:03:00.000+07:00</published><updated>2007-03-06T11:11:13.614+07:00</updated><title type='text'>dari Muroqobah menuju ihsan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RezpKP5zATI/AAAAAAAAAAc/hfKmkJK-NWI/s1600-h/a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038658445397655858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RezpKP5zATI/AAAAAAAAAAc/hfKmkJK-NWI/s320/a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Anda harus yakin bahwa selain Allah ada hal lain yang selalu mengontrol Anda. Malaikat selalu mengontrol, mengawasi gerakan, ucapan dan tindakan Anda dan mencatatnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Infithar (82): 10-12)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya." (QS. Ath-Thariq (86): 4)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"ï¿½diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga," (QS. Al-An'am 6): 61)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (QS. Az-Zukhruf 43): 80)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf (50): 18)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Anggota tubuh Anda juga merupakan pengontrol dan saksi atas apa yang Anda dikerjakan. "Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir?" (QS. Al-Balad (90): 7-9)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. An-Nuur (24): 24)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;"Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka:"Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami" Kulit mereka menjawab:"Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan". Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Fushilat (41): 19-23)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Anas ibn Malik ra., "Kami sedang bersama Rasulullah SAW dan beliau tertawa. Beliau kemudian beratanya, `Apakah kalian tahu apa sebabnya aku tertawa?' Kami menjawab, `Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Rasulullah menjawab, `Salah satu dari pembicaraan hambanya dan Tuhannya. Hamba berkata, `Wahai Tuhanku, tidakkah Engkau lindungi aku dari ketidakbenaran?' Tuhan menjawab, `Benar.' Hamba berkata, `Aku hanya memperkenankan seorang saksi dari diriku sendiri.' Tuhan menjawab, `Cukup bagimu hari ini, seorang saksi atas dirimu dan para pencatat yang mulia.' Setelah itu, kedua bibirnya dikunci, dan dikatakan kepada seluruh anggota tubuhnya, `Berbicaralah!' Dan berbicaralah tentang semua perbuatannya. Kemudian hamba itu diberi kesempatan untuk berbicara, dan berkata, `Kalian telah mengetahuiku, padahal dulu aku selalu membela kalian'."Bagaimana mungkin seorang hamba bisa menyangkal, melakukan maksiat dan kezhaliman, sementara pengawasan disekitar dirinya sangat ketat? Semua tindakan dan ucapannya yang ia lakukan selalu dicatat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Allah itu Maha Dekat, Maha Menyaksikan, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Para malaikat yang mulia itu adalah saksi, dan seluruh anggota tubuh kelak akan berbicara tentang apa yang dikerjakannya.Apakah yang seperti itu akan mampu mengangkat derajat Anda di akhirat? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;PELAJARILAH, PIKIRKANLAH dan PAHAMILAH.!!! Setelah itu, bertakwalah kepada Allah dalam menghadapi diri sendiri dan orang lain.[*]die *Fikih Akhlak*Musthafa al-`Adawy&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-7808815710022690?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/7808815710022690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=7808815710022690&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7808815710022690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/7808815710022690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2007/03/anda-harus-yakin-bahwa-selain-allah-ada.html' title='dari Muroqobah menuju ihsan'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_sgvfkw38ytQ/RezpKP5zATI/AAAAAAAAAAc/hfKmkJK-NWI/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-117202648587824210</id><published>2007-02-21T09:48:00.000+07:00</published><updated>2007-02-21T09:54:46.883+07:00</updated><title type='text'>PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN</title><content type='html'>PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasamengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga bentengkalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan kedalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agartidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yangdijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknyasyetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkanuntuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasihati manusia.Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yangtidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenarnya sangat banyakNamun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas olehsyetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akandimasuki syetan itu adalah:&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;1. Marah&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marahmaka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelerengatau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;2. Hasad&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain maka iaakan menjadi buta. Rasulullah bersabda:” Cintamu terhadap sesuatu bisamenjadikanmu buta dan tuli” Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetanakan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehinggatidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hatimanusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;3. Perut Kenyang&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam saturiwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahyabin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dangantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblisbelenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang akugunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannyapemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka akuberi pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanyalagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata:Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya.Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslimselamanya.Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:· Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.· Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena iamengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.· Mengganggu ketaatan kepada Allah· Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkankelembutan· Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisamenembus hati manusia.· Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;4. Cinta Perhiasan dan Perabotan Rumah Tangga&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotanrumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terusberusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasitemboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan denganperabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan re-check&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt; Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan danhati-hati adalah dari Allah SWT. Allah berfirman: ”Manusia diciptakantergesa-gesa” dalam ayat lain dditegaskan: “Sesungguhnya manusia itu sangattergesa-gesa. Mengapa kita edilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harusdilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hatahati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesamenghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajibanmaka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;6. Mencintai Harta&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagisyetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akankosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akanmuncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satujuta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkantambahan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;7. Ta’assub bermadzab dan meremehkan Kelompok Lain&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangatberbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain.Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetanmenghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diriorang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain danmenjelekkannya.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;8. Kikir dan takut miskin&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt; Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah danselalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalahjanji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepadafakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnyasyaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga halperintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak,menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya(zakat).Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnyamanusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambilharta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;9. Memikirkan Dzat Allah&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yangdiinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana.Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;10. Su’udzon terhadap orang Islam / Ghibah&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamumencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjingsebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan dagingsaudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Danbertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi MahaPenyayang.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkanprasangka buruk.Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lainmaka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasamencari maaf dan ampunan tetapi orang munafik selalu mencari cela orang lainItulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya.Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mampu menghitungsemua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusiaSekarang bagiamana solusi dari hal ini?&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Apakah cukup dengan zikrullah danmengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upayauntuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutupsemua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifattercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifattercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidakbisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikirtidak akan kokoh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dandijauhkan dari sifat-sifat tercela.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt; Bila orang yang hatinya masih diliputioleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidakmenguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab ituAllah berfirman:Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was darisyaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihatkesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendekati anda. Bilaanda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupunCuma menghardiknya dengan ucapan kata. Tapi bila di tangan kita ada dagingmaka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia inginmerebut daging dari kita&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Demikian juga hati bila tidak memiliki makanansyetan akan pergi hanya dengan dzikrullah. Syahwat bila menguasai hati makaia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisamerasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas darihawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karenasyahwat tapi karena kelalaian dari dzikrullah apabila ia kembali berdzikirmaka syetan langsung takut. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayatsebelumnya:Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglahkepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( AlA’roof ayat 200) Dalam ayat lain disebutkan:Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungankepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak adakekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yangmengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannyadengan Allah. (An Nahl 98-100)Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lerengmaka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umarmemiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidakbisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengandzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belummembersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, sepertiorang yang meminum obat sebelum melindungi diri dari penyakit dan perutmasih disibukkan dengan makanan yang akan dicerna. Taqwa adalah perlindunganhati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosongdari zikir maka syetan mendesak masuk seperti masuknya penyakit bersamaandengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.Allah SWT berfirman :Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatanbagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya,sedang dia menyaksikannya. (Qoof 37) WAllahu a’lamu bis showab.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Sumber : Dudung.Net - Penulis : Dr.H. Achmad Satori&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-117202648587824210?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/117202648587824210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=117202648587824210&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/117202648587824210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/117202648587824210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2007/02/pintu-pintu-masuknya-syetan.html' title='PINTU-PINTU MASUKNYA SYETAN'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-116971668863929492</id><published>2007-01-25T16:14:00.000+07:00</published><updated>2007-01-25T16:18:10.690+07:00</updated><title type='text'>Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas</title><content type='html'>Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas (Hadits ke-1 Arba’in An-Nawawi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Asli: Ikhlas dan Bahaya RiyaPenulis: Ustadz Firanda&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Berkata Abdurrahman bin Mahdi, “Kalau seandainya aku menulis sebuah kitab yang terdiri atas bab-bab maka aku akan menjadikan hadits Umar bin Al-Khattab yaitu hadits Al A’maalu bin Niyyaat di setiap bab” (Jami’ul Ulum 1/8).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini adalah sepertiga ilmu” (Jami’ul ‘Ulum 1/9).&lt;br /&gt;Imam Ahmad berkata, “Pokok-pokok Islam ada tiga hadits, hadits Umar rodiallahu’anhu, ”Hanya saja amal-amal itu berdasarkan niatnya”, hadits ‘Aisyah rodiallahu’anha, Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini yang bukan dari agama maka ia tertolak” dan hadits Nu’man bin Basyir rodiallahu’anhu ”Yang halal jelas dan yang haram jelas”. (Jami’ul ‘Ulum 1/9).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Sesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, hal dikarenakan tauhid adalah inti dan poros dari agama dan Allah tidaklah menerima kecuali yang murni diserahkan untukNya sebagaimana firman Allah, “Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Maka perkara apa saja yang merupakan perkara agama Allah jika hanya diserahkan kepada Allah maka Allah akan menerimanya, adapun jika diserahkan kepada Allah dan juga diserahkan kepada selain Allah (siapapun juga ia) maka Allah tidak akan menerimanya, karena Allah tidak menerima amalan yang diserikatkan, Dia hanyalah meneriman amalan agama yang kholis (murni) untukNya. Allah akan menolak dan mengembalikan amalan tersebut kepada pelakunya bahkan Allah memerintahkannya untuk mengambil pahala (ganjaran) amalannya tersebut kepada yang dia syarikatkan, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya:&lt;br /&gt;Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, “Lafal ‘amalan’ disini adalah nakiroh dalam konteks kalimat syart maka memberi faedah keumuman sehingga mencakup seluruh jenis amalan kebaikan baik amalan badan, amalan harta. Maupun amalan yang mengandung amalan badan dan amalan harta (seperti haji dan jihad)”. (At-Tamhid hal. 401).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut peletakan bahasa)Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, dan dikatakan “harta ini adalah murni untukmu” maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang bersyarikat bersamamu dalam memiliki harta ini. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang wanita yang menghadiahkan dirinya untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;Dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. Al Ahzaab: 50).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya”. (QS. Yusuf: 80). Yaitu para saudara Yusuf menyendiri untuk saling berbicara diantara mereka tanpa ada orang lain yang menyertai pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Definisi ikhlas menurut istilah syar’i (secara terminologi)Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama. Diantara mereka ada yang mendefenisikan bahwa ikhlas adalah “menjadikan tujuan hanyalah untuk Allah tatkala beribadah”, yaitu jika engkau sedang beribadah maka hatimu dan wajahmu engkau arahkan kepada Allah bukan kepada manusia. Ada yang mengatakan juga bahwa ikhlas adalah “membersihkan amalan dari komentar manusia”, yaitu jika engkau sedang melakukan suatu amalan tertentu maka engkau membersihkan dirimu dari memperhatikan manusia untuk mengetahui apakah perkataan (komentar) mereka tentang perbuatanmu itu. Cukuplah Allah saja yang memperhatikan amalan kebajikanmu itu bahwasanya engkau ikhlas dalam amalanmu itu untukNya. Dan inilah yang seharusnya yang diperhatikan oleh setiap muslim, hendaknya ia tidak menjadikan perhatiannya kepada perkataan manusia sehingga aktivitasnya tergantung dengan komentar manusia, namun hendaknya ia menjadikan perhatiannya kepada Robb manusia, karena yang jadi patokan adalah keridhoan Allah kepadamu (meskipun manusia tidak meridhoimu).&lt;br /&gt;Ada juga mengatakan bahwa ikhlas adalah “samanya amalan-amalan seorang hamba antara yang nampak dengan yang ada di batin”, adapun riya’ yaitu dzohir (amalan yang nampak) dari seorang hamba lebih baik daripada batinnya dan ikhlas yang benar (dan ini derajat yang lebih tinggi dari ikhlas yang pertama) yaitu batin seseoang lebih baik daripada dzohirnya, yaitu engkau menampakkan sikap baik dihadapan manusia adalah karena kebaikan hatimu, maka sebagaimana engkau menghiasi amalan dzohirmu dihadapan manusia maka hendaknya engkaupun menghiasi hatimu dihadapan Robbmu.&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah, “melupakan pandangan manusia dengan selalu memandang kepada Allah”, yaitu engkau lupa bahwasanya orang-orang memperhatikanmu karena engkau selalu memandang kepada Allah, yaitu seakan-akan engkau melihat Allah yaitu sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ihsan “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu”. Barangsiapa yang berhias dihadapan manusia dengan apa yang tidak ia miliki (dzohirnya tidak sesuai dengan batinnya) maka ia jatuh dari pandangan Allah, dan barangsiapa yang jatuh dari pandangan Allah maka apalagi yang bermanfaat baginya? Oleh karena itu hendaknya setiap orang takut jangan sampai ia jatuh dari pandangan Allah karena jika engkau jatuh dari pandangan Allah maka Allah tidak akan perduli denganmu dimanakah engkau akan binasa, jika Allah meninggalkan engkau dan menjadikan engkau bersandar kepada dirimu sendiri atau kepada makhluk maka berarti engkau telah bersandar kepada sesuatu yang lemah, dan terlepas darimu pertolongan Allah, dan tentunya balasan Allah pada hari akhirat lebih keras dan lebih pedih. (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas. Definisi-definisi ini sebagaimana juga yang disampaikan oleh Ahmad Farid dalam kitabnya “Tazkiyatun Nufus” hal. 13).&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Abdul Malik, “Ikhlas itu bukan hanya terbatas pada urusan amalan-amalan ibadah bahkan ia juga berkaitan dengan dakwah kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja (tetap) diperintahkan oleh Allah untuk ikhlas dalam dakwahnya”.&lt;br /&gt;Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108).&lt;br /&gt;Yaitu dakwah hanyalah kepada Allah bukan kepada yang lainnya, dan dakwah yang membuahkan keberhasilan adalah dakwah yang dibangun karena untuk mencari wajah Allah. Aku memperingatkan kalian jangan sampai ada diantara kita dan kalian orang-orang yang senang jika dikatakan bahwa kampung mereka adalah kampung sunnah, senang jika masjid-masjid mereka disebut dengan masjid-masjid ahlus sunnah, atau masjid mereka adalah masjid yang pertama yang menghidupkan sunnah ini dan sunnah itu, atau masjid pertama yang menghadirkan para masyayikh salafiyyin dalam rangka mengalahkan selain mereka, namun terkadang mereka tidak sadar bahwa amalan mereka hancur dan rusak padahal mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Dan ini adalah musibah yang sangat menyedihkan yaitu syaitan menggelincirkan seseorang sedikit-demi sedikit hingga terjatuh ke dalam jurang sedang ia menyangka bahwa ia sedang berada pada keadaan yang sebaik-baiknya. Betapa banyak masjid yang aku lihat yang Allah menghancurkan amalannya padahal dulu jemaahnya dzohirnya berada di atas sunnah karena disebabkan rusaknya batin mereka, dan sebab berlomba-lombanya mereka untuk dikatakan bahwa jemaah masjid adalah yang pertama kali berada di atas sunnah, hendaknya kalian berhati-hati…” (Dari ceramah beliau yang berjudul ikhlas).&lt;br /&gt;Syuhroh (Popularitas)Ketenaran (popularitas) memang mahal harganya. Betapa banyak orang yang rela mengorbankan banyak harta benda hanya karena untuk memperoleh ketenaran. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para penyanyi, ataupun para bintang film. Mereka selalu berusaha tampil beda agar bisa menarik perhatian umat dunia. Bahkan ada yang rela untuk melakukan hal-hal yang aneh dan yang diharamkan oleh Allah hanya untuk memperoleh popularitas (sebagaimana penulis membaca pengakuan seorang wanita yang rela untuk berfoto setengah telanjang -bukan setengah lagi, tapi 90%, karena hanya tersisa beberapa utas benang atau secarik kain yang menutupi tubuhnya, “awas jangan dibayangkan!!”-, padalah dia hanya dibayar sangat rendah. Dia mengaku bahwasanya semua itu agar dia menjadi tenar. Na’udzu billahi min dzalik), yang toh setelah perjuangan dan pengorbanannya tersebut dia belum tentu tersohor. Kalaupun terkenal, toh belum tentu bertahan lama. Namun bagaimanapun popularitas merupakan sesuatu impian yang didambakan oleh banyak manusia (kafir maupun muslim).&lt;br /&gt;Sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Hampir seluruh keanehan-keanehan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya dikarenakan cinta popularitas. Kita lihat ada orang yang mengecet rambutnya bewarna warni, ada yang kepalanya setengah gundul dan setengahnya rambutnya panjang hingga bahunya dan dicat hijau (sebagaimana yang pernah dilihat oleh Syaikh Abdur Rozaq), ada yang rambutnya cuma ditengah saja panjang adapun sisanya gundul (sebagaimana penulis pernah lihat seorang dari tanah air yang model cukurannya seperti itu padahal dia lagi umroh), ada yang dipotong seperti warna macan tutul (botak gundul, botak gundul), ada yang tengahnya gundul dan kanan kiri kepalanya ada rambutnya, ada yang seluruh kepalanya gundul namun tersisia satu pelintiran yang panjang sekali, dan model-model yang lainnya yang banyak sekali dan aneh-aneh. Ini, padahal baru masalah rambut, belum masalah telinga, hiasan leher, apalagi model pakaian. Yang semua ini hanyalah dilakukan demi ketenaran. Demi Allah, seandainya salah mereka itu tinggal di hutan yang tidak ada manusianya sama sekali kecuali dia sendiri, dan dia hanya berteman binatang dan pepohonan, demi Allah dia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang telah dia lakukan, karena tidak ada manusia yang memperhatikannya. Kalau dia tetap aneh juga maka dia akan terkenal diantara para hewan. Popularitas merupakan kenikmatan dunia yang mahal harganya.&lt;br /&gt;Penyakit cinta ketenaran ternyata tidak hanya menimpa orang awam saja yang tidak mengetahui perkara-perkara agama, namun juga menjangkiti para ahli ibadah dan para penuntut ilmu syar’i. Walaupun memang bentuknya berbeda, namun hakekatnya sama adalah cinta popularitas. Ahli ibadah juga pingin kesungguhannya dalam beribadah diketahui oleh para ahli ibadah yang lain, ahli ilmu pun ingin orang lain tahu bahwasanya dia adalah seorang yang pandai, sehingga akhirnya martabatnya tinggi dihadapan manusia. Penyakit inilah yang dalam kamus agama disebut penyakit riya’ (pingin dilihat orang) dan sum’ah (pingin didengar orang).&lt;br /&gt;Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka menginginkan mendapatkan kehormatan dimata manusia. Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, -sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya- , tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah Allah. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi Allah. Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya sohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45).&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500 beliau berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”.&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Abdul Malik, “Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki Allah” (Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas).&lt;br /&gt;Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keihlasan mereka, dan karena mereka kawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.&lt;br /&gt;Berkata Hammad bin Zaid: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia-pen), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan, “Ini Ayyub” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni: “Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232), dan sanadnya shahih.” (Sittu Duror hal 46)).&lt;br /&gt;Berkata Imam Ahmad: “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).&lt;br /&gt;Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata: “Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”. (As-Siyar 11/211).&lt;br /&gt;Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau: “Aku mohon kepada Allah agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya”. (As-Siyar 11/211).&lt;br /&gt;Pernah Imam Ahmad mengatakan kepada salah seorang muridnya (yang bernama Abu Bakar) tatkala sampai kepadanya kabar bahwa manusia memujinya: “Wahai Abu Bakar, jika seseorang mengetahui (aib-aib) dirinya maka tidak bermanfaat baginya pujian manusia”. (As-Siyar 11/211).&lt;br /&gt;Berkata Hammad, “Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya, “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab: ”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia-pen)”. Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata: ”Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.” Berkata Syaikh Abdul Malik: ”Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239), dan sanadnya shahih”. (Sittu Duror hal 47).&lt;br /&gt;Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr, “Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri”), maka berkata Yazid :”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ”Ya Allah, sesungguhnya para hambaMu memintaku untuk berdoa kepadaMu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya. Kemudian dia berkata: ”Ya Allah, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.” Lihat takhrij kisah ini secara terperinci dalam buku Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal. 47.&lt;br /&gt;Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada Allah agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini. Allahu Akbar.. ! inilah akhlak salaf (Berkata Guru kami Syaikh Abdul Qoyyum, “Adapun orang-orang yang memerintahkan para pengikutnya atau rela para pengikutnya mencium tangannya lalu ia berkata bahwa ia adalah wali Allah maka ia adalah dajjal”). Namun banyak orang yang terbalik, mereka malah menjadikan ketenaran merupakan kenikmatan yang sungguh nikmat sehingga mereka berusaha untuk meraihnya dengan berbagai macm cara.&lt;br /&gt;Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata: ”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Ma’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).&lt;br /&gt;Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”.&lt;br /&gt;Berkata Ibnu ‘Aisyah: ”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain” Lihat ketiga atsar tersebut dalam Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.&lt;br /&gt;Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari ”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata, “Demi Allah, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku sholat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia” (Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad).&lt;br /&gt;Tidak seorangpun diantara kita yang meragukan akan kesungguhan para sahabat dalam beribadah. Namun walaupun demikian, mereka tidaklah ujub, atau memamerkan amalan mereka kapada manusia, jauh sekali dengan kita. Adapun sebagian kita (atau sebagian besar, atau seluruhnya (kecuali yang dirahmati oleh Allah), Allahu Al-Musta’an, sudah amalannya sedikit, namun diceritakan kemana-mana (Bahkan kalau bisa orang sedunia mengetahuinya). Ada yang berkata, ”Dakwah saya disana…, disini…”, ada juga yang berkata,”Yang menghadiri majelis saya jumlahnya sekian dan sekian…” (padahal kalau dihitung belum tentu sebanyak yang disebutkan, atau memang benar yang hadir majelisnya banyak tetapi tidak selalu. Terkadang yang hadir dalam sebagian majelisnya cuma sedikit, namun tidak dia ceritakan, atau yang hadir banyak tapi pada ngantuk semua, juga tidak dia ceritakan. Pokoknya dia ingin gambarkan pada manusia bahwa dia adalah da’i favorit), ada yang berkata, “Saya sudah baca kitab ini, kitab itu.. hal ini sebagaimana termuat dalam kitab ini atau kitab itu…”(padahal belum tentu satu kitabpun dia baca dari awal hingga akhir, atau bahkan belum tentu dia baca sama sekali secara langsung kitab itu. Namun dia ingin gambarkan pada manusia bahwa mutola’ahnya banyak, agar mereka tahu bahwa dia adalah orang yang berilmu dan gemar membaca). Yang mendorong ini semua adalah karena keinginan mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia.&lt;br /&gt;Lihatlah Tamim Ad-Dari tidak membuka pintu yang bisa mengantarkannya terjatuh dalam riya, sehingga dia tidak mau menjawab orang yang bertanya tentang ibadahnya. Namun sebaliknya, sebagian kaum muslimin sekarang justru menjadikan kesempatan pertanyaan seperti itu untuk bisa menceritakan seluruh ibadahnya, bahkan menanti-nanti untuk ditanya tentang ibadahnya, atau dakwahnya, atau perkara yang lainnya.&lt;br /&gt;Ayyub As-Sikhtiyani sholat sepanjang malam, dan jika menjelang fajar maka dia kembali untuk berbaring di tempat tidurnya. Dan jika telah terbit fajar maka diapun mengangkat suaranya seakan-akan dia baru saja bangun pada saat itu. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/8).&lt;br /&gt;Berkata Muhammad bin A’yun, ”Aku bersama Abdullah bin Mubarok dalam peperangan di negeri Rum. Tatkala kami selesai sholat isya’ Ibnul Mubarok pun merebahkan kepalanya untuk menampakkan padaku bahwa dia sudah tertidur. Maka akupun –bersama tombakku yang ada ditanganku- menggenggam tombakku dan meletakkan kepalaku diatas tombak tersebut, seakan-akan aku juga sudah tertidur. Maka Ibnul Mubarok menyangka bahwa aku sudah tertidur, maka diapun bangun diam-diam agar tidak ada sorangpun dari pasukan yang mendengarnya lalu sholat malam hingga terbit fajar. Dan tatkala telah terbit fajar maka diapun datang untuk membagunkan aku karena dia menyangka aku tidur, seraya berkata “Ya Muhammad bangunlah!”, Akupun berkata: ”Sesungguhnya aku tidak tidur”. Tatkala Ibnul Mubarok mendengar hal ini dan mengetahui bahwa aku telah melihat sholat malamnya maka semenjak itu aku tidak pernah melihatnya lagi berbicara denganku. Dan tidak pernah juga ramah padaku pada setiap peperangannya. Seakan-akan dia tidak suka tatkala mengetahui bahwa aku mengetahui sholat malamnya itu, dan hal itu selalu nampak di wajahnya hingga beliau wafat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih menymbunyikan kebaikan-kebaikannya daripada Ibnul Mubarok” (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim 1/266).&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, ketahuilah… sesungguhnya ikhlas adalah sesuatu yang sangat berat, penuh perjuangan untuk bisa meraihnya. Pintu-pintu yang bisa dimasuki syaitan untuk bisa merusak keikhlasan kita terlalu banyak. Tatkala kita sedang beramal maka syaitanpun berusaha untuk bisa menjadikan kita riya’, kalau tidak bisa menjadikan kita riya’ di permulaan amal, maka dia akan berusaha agar kita riya’ di pertengahan amal. Kalau tidak mampu lagi maka di akhir amalan kita. Oleh karena itu kita dapati para salaf dahulu memngecek niat mereka ditengah amalan mereka, apakah masih tetap ikhlas atau sudah berubah?. Diriwayatkan dari Sualaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana hati-hatinya salaf dalam menjaga niat mereka, untuk bisa menyampaikan satu hadits saja (yang mungkin hanya beberapa buah kata) dia memperhatikan niatnya berulang-ulang. Bagaimana dengan kita sekarang? Bukan cuma berpuluh-puluh kata yang kita lontarkan, bahkan beribu-ribu kata (tatkala mengisi pengajian, atau memberi pendapat atau nasehat tatkala diminta, atau yang lainnya…) pernahkah kita mengecek niat kita disela-sela pembicaraan kita??. Terkadang seseorang di awal sedang mengisi pengajian, dia mendapati niatnya ikhlas. Namun tatkala di tengah pengajian, disaat dia memandang bagaimana para pendengarnya terkagum-kagum dengan kefasihannya melontarkan dalil disaat itulah syaitan berperan aktif untuk merubah niatnya. Waspadalah wahai para saudaraku… sesungguhnya hanya sedikit yang selamat dari tipu daya syaitan.&lt;br /&gt;Sungguh benarlah perkataan Sufyan Ats-Tsauri, ”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik (berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul ‘Ulul wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).&lt;br /&gt;Kalau seseorang telah selamat dari tipu daya syaitan hingga selesai amalnya, ingatlah…syaitan tidak putus asa. Dia mulai menggelitik hati orang tersebut dan merayu orang tersebut untuk menceritakan amalan solehnya pada manusia, dan syaitan menipunya dengan berkata, ”Ini bukanlah riya…, supaya kamu bisa dicontohi manusia…”. Akhirnya terjebaklah orang tersebut dan diapun mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dihadapan orang, maka bisa jadi diapun menceritakan kabaikan-kebaikannya pada manusia karena riya’, maka ini merupakan kecelakaan baginya, atau kalau tidak maka minimal pahalanya berkurang. Karena pahala amalan yang sirr (disembunyikan) lebih baik daripada amalan yang diketahui orang lain.&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya:“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikanya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Baqoroh: 271).&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Kasir dalam Tafsirnya, ”Asalnya isror (amalan secara tersembunyi tanpa diketahui orang lain) adalah lebih afdol dengan dalil ayat ini dan hadits dalam shohihain (Bukhori dan Muslim) dari Abu Huroiroh, beliau berkata: “Berkata Rasulullah : ”Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam yang adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1423) dan Muslim (2377). Berkata Imam Nawawi: ”Berkata para Ulama bahwanya penyebutan tangan kanan dan kiri menunjukan kesungguhan dan sangat dismbunyikannya serta tidak diketuhinya sedekah. Perumpamaan dengan kedua tangan tersebut karena dekatnya tangan kanan dengan tangan kiri, dan tangan kanan selalu menyertai tangan kiri. Dan maknanya adalah seandainya tangan kiri itu seorang laki-laki yang terjaga maka dia tidak akan mengetahui apa yang diinfak oleh tangan kanan karena saking disembunyikannya.” (Al-Minhaj 7/122), hal ini juga sebagaimana penjelasan Ibnu Hajr (Al-Fath 2/191).&lt;br /&gt;Rosulullah bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhlukMu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhlukMu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kanannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahamad dalam Musnadnya 3/124 dari hadits Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).&lt;br /&gt;Sungguh benar orang yang berkata, “Jangan heran kalau engkau melihat seorang yang bisa jalan di atas air, karena syaitan juga bisa berjalan di atas air. Janganlah heran kalau engkau melihat seorang yang berjalan terbang diudara, karena syaitan juga bisa terbang di udara. Tapi heranlah engkau jika engkau melihat seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya namun tangan kirinya tidak mengetahuinya, karena syaitan tidak bersedekah (apalagi dengan ikhlas) (Untaian kalimat ini, penulis tidak mengetahui siapa yang mengucapkannya. Namun penulis pernah mendengarnya dari seorang petugas penjaga mushola dikapal laut, tatkala menyampaikan nasehat pada awak penumpang kapal. Mungkin saja dialah yang mengucapkan perkataan ini pertama kali. Namun bagaimanapun perkataan ini benar maknanya jika ditinjau dari kacamata syar’i, Wallahu A’lam).&lt;br /&gt;Ingat perkataan Ibnul Qoyyim, “Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423). Wahai Dzat yang membolak-balikan hati-hati (manusia) tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.&lt;br /&gt;Hukum menyembunyikan amalPara ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amalan kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: ”At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Al-Fath 3/365). Sebagian mereka juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’, dan hal ini tidaklah mungkin kecuali jika iman dan keyakinan mereka yang kuat.&lt;br /&gt;Imam Al-Iz bin Abdus Salam telah menjelaskan hukum menyembunyikan amalan kebajikan secara terperinci sebagai berikut. Beliau berkata, “Keta’atan (pada Allah) ada tiga:&lt;br /&gt;1.      Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan secara dengan dinampakan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam sholat secara jahr, khutbah-kutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, maka hal-hal seperti ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk menolaknya hingga dia bisa ikhlas kemudian dia bisa melaksanakannya dengan ikhlas, sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.&lt;br /&gt;2.      Yang kedua, amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya seperti membaca qiro’ah secara perlahan tatkala sholat (yaitu sholat yang tidak disyari’atkan untuk menjahrkan qiro’ah), dan berdzikir dalam sholat secara perlahan. Maka dengan perlahan lebih baik daripada jika dijahrkan.&lt;br /&gt;3.      Yang ketiga, amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan seperti sedekah. Jika dia kawatir tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakan amalannya dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika dinampakkan.&lt;br /&gt;Adapun orang yang aman dari riya’ maka ada dua keadaannya:&lt;br /&gt;1.      Yang pertama, dia bukanlah termasuk orang yang diikuti, maka lebih baik dia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi dia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.&lt;br /&gt;2.      Yang kedua, dia merupakan orang yang dicontohi, maka dia menampakan sedekahnya lebih baik karena hal itu membantu fakir miskin dan dia akan diikuti. Maka dia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan dia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir miskin karena mencontohi dia, dan dia juga telah memberi manfaat pada orang-orang kaya tersebut karena mengikuti dia beramal soleh.” Qowa’idul Ahkam 1/125 (Sebagaimana dinukil oleh Sulaiman Al-Asyqor dal kitabnya Al-Ikhlash hal 128-129).&lt;br /&gt;Tentunya kita lebih mengetahui diri kita, kita termasuk orang yang aman dari riya atau tidak.&lt;br /&gt;Mengobati penyakit cinta ketenaranBerkata Abdullah bin Mas’ud, “Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak ada dua orangpun yang berjalan di belakangku, dan kalian pasti akan melemparkan tanah di kepalaku, aku sungguh berangan-angan agar Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku dan aku dipanggil dengan Abdullah bin Rowtsah”. (Al-Mustadrok 3/357 no. 5382).&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((“Untaian kalimat ini adalah madrasah (pelajaran), dan hal ini tidak diragukan lagi karena tersohornya seseorang mungkin terjadi jika orang tersebut memiliki kelebihan diantara manusia, bahkan bisa jadi orang-orang mengagungkannya, bisa jadi orang-orang memujinya, bisa jadi mereka mengikutinya berjalan di belakangnya. Seseorang jika semakin bertambah ma’rifatnya kepada Allah maka ia akan sadar dan mengetahui bahwa dosa-dosanya banyak, dan banyak, dan sangat banyak. Oleh karena tidaklah suatu hal yang mengherankan jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Abu Bakar –padahal ia adalah orang yang terbaik dari umat ini dari para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam - yang selalu membenarkan (apa yang dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam-pen), yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah berkata tentangnya, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dibanding dengan iman umat maka akan lebih berat iman Abu Bakar”, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkannya untuk berdo’a di akhir sholatnya, “Robku, sesungguhnya aku telah banyak mendzolimi diriku dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau maka ampunilah aku dengan pengampunanMu”. Yang mewasiatkan adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan yang diwasiatkan adalah Abu Bakar As-Shiddiq. Semakin bertambah ma’rifat seorang hamba kepada Robnya maka ia akan takut kepada Allah, takut kalau ada yang mengikutinya dari belakang, khawatir ia diagungkan diantara manusia, khawatir diangkat-angkat diantara manusia, karena ia mengetahui hak-hak Allah sehingga dia mengetahui bahwa ia tidak akan mungkin menunaikan hak Allah, ia selalu kurang dalam bersyukur kepada Allah, dan ini merupakan salah satu bentuk dosa.&lt;br /&gt;Diantara manusia ada yang merupakan qori’ Al-Qur’an dan tersohor karena keindahan suaranya, keindahan bacaannya, maka orang-orangpun berkumpul di sekitarnya. Diantara manusia ada yang alim, tersohor dengan ilmunya, dengan fatwa-fatwanya, dengan kesholehannya, kewaro’annya, maka orang-orangpun berkumpul di sekelilingnya.&lt;br /&gt;Diantara mereka ada yang menjadi da’i yang terkenal dengan pengorbanannya dan perjuangannya dalam berdakwah maka orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya karena Allah telah memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaranya. Demikian juga ada yang terkenal dengan sikapnya yang selalu menunaikan amanah, ada yang tersohor dengan sikapnya yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan demikianlah… Posisi terkenalnya seseorang merupakan posisi yang sangat mudah menggelincirkan seseorang, oleh karena itu Ibnu Mas’ud mewasiatkan kepada dirinya sendiri dengan menjelaskan keadaan dirinya (yang penuh dengan dosa), dan menjelaskan apa yang wajib bagi setiap orang yang memiliki pengikut…&lt;br /&gt;Hendaknya setiap orang yang tersohor (dengan kebaikan) atau termasuk orang yang terpandang untuk selalu merendahkan dirinya diantara manusia dan menampakkan hal itu, bukan malah untuk semakin naik derajatnya di hadapan manusia namun agar semakin terangkat derajatnya di hadapan Allah, dan ini semua kembali kepada keikhlasan, karena diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia namun agar tersohor dan ini adalah termasuk (tipuan) syaitan. Dan diantara manusia ada yang merendahkan dirinya di hadapan manusia dan Allah mengetahui hatinya bahwasanya ia benar dengan sikapnya itu, ia takut pertemuan dengan Allah, ia takut hari di mana dibalas apa-apa yang terdapat dalam dada-dada, hari di mana nampak apa yang ada disimpan di hati-hati, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah dan mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraan mereka di hadapan Allah.&lt;br /&gt;Ini adalah pelajaran yang berharga bagi setiap yang dipanuti dan yang mengikuti. Adapun pengikut maka hendaknya ia tahu bahwa orang yang diikutinya itu tidak boleh diagungkan, namun hanyalah diambil faedah darinya berupa syari’at Allah atau faedah yang diambil oleh masyarakat, karena yang diagungkan hanyalah Allah kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Adapun manusia yang lain maka jika mereka baik maka bagi mereka rasa cinta pada diri kita. Dan hendaknya orang yang tersohor untuk selalu takut, rendah, dan mengingat dosa-dosanya, mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allah, ingat bahwasanya ia bukanlah orang yang berhak diikuti oleh dua orang di belakangnya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu tatkala Abu Bakar dipuji di hadapan manusia maka ia berkutbah setelah itu dan riwayat ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata: “Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka persangkakan dan ampunkanlah apa-apa yang mereka tidak ketahui”, ia mengucapkan doa ini dengan keras untuk mengingatkan manusia bahwasanya ia memiliki dosa sehingga mereka tidak berlebih-lebihan kepadanya. Apakah hal ini sebagaimana yang kita lihat pada kenyataan dimana orang yang diagungkan semakin menjadi-jadi agar diagungkan dirinya??, orang yang mengagungkan juga semakin mengagungkan orang yang diikutinya?? Ini bukanlah jalan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Umar terkadang ujub dengan dirinya -dan dia adalah seorang khalifah, orang kedua yang dikabarkan dengan masuk surga setelah Abu Bakar-, maka ia pun memikul suatu barang di tengah pasar untuk merendahkan dirinya hingga ia tidak merasa dirinya besar.&lt;br /&gt;Diantara kesalahan-kesalahan adalah sifat ujub (takjub dengan diri sendiri), yaitu seseorang memandang dirinya waw (hebat). Ada diantara salafus shalih yang jika hendak menyampaikan suatu (mau’idzoh) dan jika ia melihat orang-orang berkumpul maka iapun meninggalkan majelis tersebut, kenapa?, karena keselamatan jiwanya lebih utama dibandingkan keselamatan jiwa orang lain, karena ia melihat ramainya orang yang telah berkumpul dan ia menyadari bahwa dirinya mulai merasakan bahwa dirinya senang karena kehadiran mereka, yang pada diam memperhatikannya, dan memperhatikannya, maka iapun mengobati dirinya dengan meninggalkan mereka maka merekapun membicarakannya akibat hal tersebut, Namun yang paling penting adalah keselamatan jiwa dan hatinya dihadapan Allah. Dan keselamatan hatinya lebih utama dibandingkan keselamatan hati orang lain…”)). (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud).&lt;br /&gt;Riya itu samarSungguh benar sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya riya itu samar sehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama’ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama’ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. (Tazkiyatun Nufus hal 15).&lt;br /&gt;Berkata Abu ‘Abdillah Al-Anthoki, “Fudhail bin ‘Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “Wahai Abu ‘Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”, lalu Fudhail berkata kepadanya, “Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, Sufyan berkata, “Kenapa wahai Abu Ali?”, Fudhail berkata, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad-Dimasyq 48/404).&lt;br /&gt;Perhatikanlah wahai saudaraku… sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerak-gerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.&lt;br /&gt;“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zumar: 48).&lt;br /&gt;“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104).&lt;br /&gt;Maroji’:&lt;br /&gt;1.      Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dar As-Salam, Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi&lt;br /&gt;2.      Al-Minhaj syarh Sohih Muslim, Imam Nawawi, Dar Al-Ma’rifah&lt;br /&gt;3.      Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rojab, tahqiq Al-Arnauth&lt;br /&gt;4.      Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, Syaikh Abdul Malik Romadhoni, maktabah Al-Asholah&lt;br /&gt;5.      Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm, cetakan pertama&lt;br /&gt;6.      Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Dar Ibnul Jauzi&lt;br /&gt;7.      Al-Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais&lt;br /&gt;8.      Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah, Syaikh Al-Albani&lt;br /&gt;9.      Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf, Abdul Aziz bin Nasir Al-Jalil, Dar Toibah&lt;br /&gt;10.  Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud, transkrip dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh&lt;br /&gt;11.  Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11526494-116971668863929492?l=masjidalikhlas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/feeds/116971668863929492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11526494&amp;postID=116971668863929492&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/116971668863929492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11526494/posts/default/116971668863929492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masjidalikhlas.blogspot.com/2007/01/penyakit-riya-dan-gila-popularitas.html' title='Penyakit Riya’ dan Gila Popularitas'/><author><name>me..</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/149/4313/640/Masjidku1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11526494.post-116711562468584502</id><published>2006-12-26T13:34:00.000+07:00</published><updated>2006-12-26T13:47:04.723+07:00</updated><title type='text'>Tafsir Surah Al Faatihah</title><content type='html'>Tafsir Surah Al Faatihah&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Di dalam Alquran ada 114 surah, semuanya dimulai dengan "Basmalah", kecuali surah At-Taubah. Surah At-Taubah ini tidak dimulai dengan "Basmalah" karena memang tidak serasi kalau dimulai dengan "Basmalah".&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Di samping pada permulaannya "Basmalah" ada disebutkan satu kali di pertengahan surah An-Naml:30; dengan demikian "Basmalah" itu didapati di dalam Alquran 114 kali.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan "Basmalah" yang terdapat pada permulaan sesuatu surah. Di antara pendapat-pendapat itu yang termasyhur ialah:&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;1."Basmalah" itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surah, dan pembatas antara surah dengan surah yang lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiraat dan fuqaha Madinah, Basrah dan Syam dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah "Basmalah" itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;2."Basmalah" adalah salah satu ayat dari Al-Fatihah, dan dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan "Basmalah". Ini adalah pendapat Imam Syafii beserta ahli qiraat Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka "Basmalah" itu dibaca dengan suara keras dalam salat (Jahar). Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw. telah sependapat menuliskan "Basmalah" pada permulaan sesuatu surah dan surah-surah Alquranul Karim itu, kecuali surah At-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah saw. melarang menuliskan sesuatu yang bukan Alquran supaya tidak bercampur aduk dengan Alquran. Sebab itu oleh mereka tidak dituliskan "amin" di akhir surah Al-Fatihah. Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Alquran atau dengan perkataan lain bahwa "basmalah-basmalah" yang terdapat di dalam Alquran itu adalah ayat-ayat Alquran, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak. Sebagai disebutkan di atas surah Al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Mereka yang berpendapat bahwa basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari Al-Fatihah, memandang: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat Al-Fatihah itu tetap tujuh.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) "Dengan menyebut nama Allah", maksudnya "dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai". Seakan-akan Nabi berkata: "Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri. Maka basmalah di sini mengandung arti bahwa Alquranul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw. dan Muhammad itu hanyalah seorang pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Alquran kepada manusia.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Pemakaian kata "Allah" "Allah" nama bagi Zat yang ada dengan sendiri-Nya (wajibul wujud). Kata "Allah" itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain. Kata "Ar-Rahman" terambil dari "Ar-Rahmah" yang berarti "belas kasihan", yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi kata "Ar-Rahman" itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak. Kata "Ar-Rahim" juga terambil dari "Ar-Rahmah", dan arti "Rahim" ialah: Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu "tetap" padanya selama-lamanya. Maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu maksudnya: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya. Dengan demikian maka kata-kata "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim" itu kedua-duanya adalah diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus. Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlulah diikuti dengan Ar-Rahim, supaya orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya. Hikmah membaca basmalah Seorang muslim disuruh membaca basmalah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan yang dikerjakannya itu adalah suruhan Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka karena Allahlah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil. Nabi saw. bersabda: كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر أي مقطوع الذنب ناقص Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya. Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al-Lata dan Al-`Uzza, yaitu nama-nama berhala mereka. Sebab itu Allah swt. mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah. 2 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,(QS. 1:2) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 2 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) Pada ayat di atas Allah swt. memulai firman-Nya dengan menyebut "Basmalah" untuk mengajarkan kepada hamba-Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmalah itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada-Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah swt. mengajarkan hamba-Nya agar selalu memuji Allah. "Al-Hamdu". الحمد Memuji oleh karena sesuatu nikmat yang diberikan oleh yang dipuji atau karena sesuatu sifat keutamaan yang dimiliki-Nya. Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang jadi sumber bagi semua nikmat. Yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, hanyalah Allah semata. Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji. Ada manusia dipuji orang berhubung jasanya yang banyak atau akhlak dan budi pekertinya yang luhur, tetapi orang memujinya itu pada hakekatnya memuji Tuhan, dengan disengaja atau tidak karena Allahlah yang jadi pangkal bagi semua yang disebut itu. Berhubung nikmat Allah yang sangat banyak, dan berhubung sifat-sifat kesempurnaan yang dipunyai oleh Allah, maka sudah selayaknyalah manusia selalu memuji-Nya. Orang yang menyebut "Alhamdulillah" bukanlah hanya mengakui bahwa puji itu teruntuk bagi Allah semata, bahkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah. Dapat juga seseorang memuji Allah dengan sebutan lain, yaitu: الحمد لله tetapi حمدا لله itulah yang dipakaikan Allah di sini, karena susunan semacam itu mengandung arti tetap, yakni dipahamkan di dalamnya bahwa Allah selamanya dipuji, bukan sewaktu-waktu saja. رب arti aslinya: "Yang Empunya" (pemilik) di dalamnya terkandung arti: mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaannya yang sempurna dengan berangsur-angsur. "Alamin" artinya "semesta alam", yakni semua jenis alam. Alam itu berjenis-jenis macamnya, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk yang bertubuh halus umpamanya malaikat, jin dan alam yang lain. Ada ahli tafsir mengkhususkan "Alamin" di ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini berarti mempersempit arti kata yang sebenarnya amat luas. Dengan demikian Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya. Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing. Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya, sampai ke masa kanak-kanak lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Tuhan yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya. 3 Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(QS. 1:3) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 3 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) Pada ayat dua di atas Allah swt. menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan semesta alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berganda-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut "Ar-Rahmanir Rahim". Yang demikian itu supaya lenyap dari pikiran mereka gambaran keganasan dan kezaliman seperti raja-raja yang dipertuan, yang bersifat sewenang-wenang. Allah mengingatkan dalam ayat ini bahwa sifat ketuhanan Allah terhadap hambanya bukanlah sifat keganasan dan kezaliman, tetapi berdasarkan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian manusia akan mencintai Tuhannya, dan menyembah Allah dengan hati yang aman dan tenteram bebas dari rasa takut dan gelisah. Malah dia akan mengambil pelajaran dari sifat-sifat Tuhan. Dia akan mendasarkan pergaulan dan tingkah lakunya terhadap manusia sesamanya, atau pun terhadap orang yang di bawah pimpinannya, malah terhadap binatang yang tak pandai berbicara sekalipun atas sifat cinta dan kasih sayang itu. Karena dengan jalan demikianlah manusia akan mendapat rahmat dan karunia dari Tuhannya. Rasulullah saw. Bersabda: إنما يرحم الله من عباده الرحماء Artinya: Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih.(H.R Tabrani) الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك و تعالي ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء Artinya: Orang-orang yang kasih sayang Tuhan yang Rahman Tabaraka wa Taala akan kasih sayang kepadanya. (Oleh karena itu) kasih sayanglah kamu semua kepada semua makhluk yang di bumi niscaya semua makhluk yang di langit akan kasih sayang kepada kamu semua. (H.R Ahmad, Abu Daud At Tarmizi dan Al Hakim) Dan sabda Rasulullah saw: من رحم ولو ذبيحة عصفور رحمه الله يوم القيامة Artinya: Barang siapa (orang) yang kasih sayang meskipun kepada seekor burung (pipit) yang disembelih, Allah kasih sayang kepadanya pada hari kiamat. (H.R Bukhari) Maksud hadis tersebut ialah pada waktu menyembelih burung itu dengan sopan santun umpamanya dengan pisau yang tajam. Dapat pula dipahami dari urutan kata "Ar-Rahman", "Ar-Rahim" itu, bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Tuhan terhadap semesta alam, bukanlah lantaran mengharapkan sesuatu dari alam itu, hanya semata-mata karena rahmat dan belas kasihan daripada-Nya. Boleh jadi ada yang terlintas pada pikiran orang, mengapa Tuhan mengadakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum, dan menghukum orang-orang yang melanggar peraturan-peraturan itu? Keragu-raguan ini akan hilang bila diketahui bahwa Allah swt. mengadakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum, begitu juga menyediakan azab di akhirat atau di dunia untuk hamba-Nya yang melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum itu, bukanlah berlawanan dengan sifat Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karena peraturan dan hukum itu rahmat dari Tuhan; begitu pula azab dari Allah terhadap hamba-Nya yang melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum itu sesuai dengan keadilan. 4 Yang menguasai hari pembalasan.(QS. 1:4) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 4 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) Sesudah Allah swt. menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu menguasai hari pembalasan. "Malik" berarti "Yang Menguasai" Ada dua macam bacaan berkenaan dengan "Malik", pertama dengan memanjangkan "Maa", kedua dengan memendekkannya. Menurut bacaan yang pertama, "Maalik" artinya: Yang memiliki (yang empunya). Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya: Raja; kedua-dua bacaan itu dibolehkan. Baik menurut bacaan yang pertama, atau pun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti "berkuasa" dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah maka diterjemahkan dengan: "Yang menguasai". "Yaum", (hari) artinya, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak. "Ad-Din" itu banyak artinya, di antaranya: 1.Perhitungan 2.Ganjaran, pembalasan 3.Patuh 4.Menundukkan 5.Syariat, agama Yang selaras di sini ialah dengan arti "pembalasan". Jadi "Maaliki yaumiddin" maksudnya "Tuhan itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan itu". Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal-hal yang terjadi, yaitu hari kiamat, hari berbangkit, hari berkumpul, hari perhitungan, hari pembalasan, tetapi pembalasan sajalah yang disebut oleh Tuhan di sini, karena itulah yang terpenting. Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, berbangkit dan seterusnya, pendahuluan dari pembalasan itu, apalagi untuk targib dan tarhib (menarik dan menakuti) dengan menyebut "hari pembalasan" itulah yang lebih tepat. Hari akhirat menurut pendapat akal (filsafat) Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia di masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal. Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini bukanlah saja ditetapkan oleh agama, malah juga ditunjukkan oleh akal. Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya hidup di dunia ini orang yang teraniaya telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa, biar kecil atau besar, belum mendapat penghargaan terhadap jasanya. Alangkah hanyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat dan peluh, membanting tulang tetapi belum sempat lagi merasa buah usahanya itu. Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat-penjahat, penganiaya, pembuat onar yang tak dapat dipegang oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain. Maka biar pun kejahatan dan aniaya itu telah meratai bangsa seluruhnya tiadalah digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Victor Hugo (1802-1885) pernah menyindir keadaan ini dengan katanya, "Membunuh seorang manusia dalam rimba adalah satu dosa yang tak dapat diampuni, tetapi membunuh suatu bangsa seluruhnya adalah satu soal yang masih dapat dipertimbangkan." Maka di manakah akan didapat gerangan keadilan itu, kalau tidak ada nanti mahkamah yang lebih tinggi, yaitu mahkamah Allah di hari kemudian. Sebab itu ahli-ahli pikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir. Antara lain Pythagoras; filosof ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini persediaan hidup yang abadi di akhirat kelak. Sebab itu semenjak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi ini. Socrates, Plato dan Aristoteles, "Jiwa yang baik akan merasai kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu. Hanya kelezatan rohani yang bagaimana pun banyak dan lamanya, tiadalah menyebabkan bosan dan jemu." Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam tentang hari akhirat Di antara bangsa Arab sebelum datang agama Islam didapati beberapa ahli pikir dan pujangga-pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian itu. Umpamanya Zuhair bin Abu Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Allah. Pujangga ini pernah berkata yang artinya: Sesuatu pekerti atau perbuatan seseorang yang menurut dugaannya tidak diketahui orang, pasti diketahui juga oleh Tuhan. Sebab itu janganlah disembunyikan kepada Allah sesuatu yang ada pada dirimu, karena bagaimanapun kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan mengetahuinya. Dilambatkan membalasnya, maka ditulislah dalam buku disimpan sampai "hari perhitungan", atau disegerakan maka diberi balasan. \s Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian itu. Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair mereka: "Hidup, sudah itu mati, sudah itu dibangkit lagi, itulah cerita dongeng hai fulan". Karena itu, datanglah agama Islam membawa kepastian tentang adanya hari kemudian. Di hari akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya biar pun besar atau kecil. Allah swt. berfirman: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8) Artinya: Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S Az Zalzalah: 7-8) 5 Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS. 1:5) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 5 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) Di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan empat macam dari sifat-sifat Tuhan, yaitu: Pendidik semesta alam Maha Pemurah Maha Penyayang Dan Yang menguasai hari pembalasan. Sifat-sifat yang disebutkan itu adalah sifat-sifat kesempurnaan yang hanya Allah sajalah yang mempunyainya. Sebab itu pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa Allah sajalah yang patut disembah, dan kepada-Nya sajalah seharusnya manusia memohonkan pertolongan, dan bahwa hamba-Nya haruslah mengikrarkan yang demikian itu. "Iyyaka" (hanya kepada Engkaulah). Susunan ayat-ayat ini membawa pengertian "pengkhususan" yaitu pengkhususan "ibadah" kepada Allah. Jadi arti ayat ini: "Kepada Engkau sajalah kami tunduk dan berhina diri, dan kepada Engkau sajalah kami memohonkan suatu pertolongan". Pertolongan yang khusus dimohonkan kepada Allah ialah tentang sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuasaan manusia. "Iyyaka" dalam ayat ini diulang dua kali, gunanya untuk menegaskan bahwa ibadat dan isti`anah itu masing-masing khusus dihadapkan kepada Allah. Selain dari itu untuk dapat mencapai kelezatan munajat (berbicara) dengan Allah. Karena bagi seorang hamba Allah yang menyembah dengan segenap jiwa dan raganya tak ada yang lebih nikmat dan lezat pada perasaannya daripada bermunajat dengan Allah. Baik juga diketahui bahwa dengan memakai "Iyyaka" itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud menghadirkan Allah swt. dalam ingatan, seakan-akan Dia berada di muka kita, dan kepada-Nya dihadapkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawaduk. Seakan-akan kita berkata: "Ya Allah, Zat yang wajibul wujud. Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Yang menjaga dan memelihara semesta alam. Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda. Yang berkuasa di hari pembalasan. Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami meminta pertolongan. Karena hanya Engkau yang berhak disembah dan hanya Engkau yang dapat menolong kami". Dengan cara yang seperti itu orang akan lebih khusyuk di dalam menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran Yang disembahnya itu. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya: أن تعبد الله كأنك تراه Artinya: Hendaklah engkau menyembah Allah itu seakan-akan engkau melihat-Nya. (H.R Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab) Karena surah Al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang diterangkan merupakan rahasia diwajibkan membacanya tiap-tiap rakaat dalam salat, karena itu jiwanya ialah munajat dengan menghadapkan diri dan memusatkan ingatan kepada Allah. "Na'budu" pada ayat ini didahulukan menyebutkannya dari "nasta`iinu", karena menyembah Allah itu adalah suatu kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Tetapi pertolongan dari Tuhan kepada seseorang hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka seakan-akan Tuhan mengajar hamba-Nya supaya menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya. Melihat kata-kata "na`budu" dan "nasta`iinu" (kami menyembah, kami minta tolong), bukan a`budu" dan "asta`iinu" (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia itu, dan tidak selayaknya mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah, seakan-akan penunaian kewajiban beribadat dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna kecuali kalau dikerjakan dengan bersama-sama. Kedudukan tauhid di dalam ibadat dan sebaliknya Arti "ibadat" sebagai disebutkan di atas ialah tunduk dan berhina diri kepada Allah, yang disebabkan oleh kesadaran bahwa Allah yang menciptakan alam ini, Yang menumbuhkan, Yang mengembangkan, Yang menjaga dan memelihara serta Yang membawanya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain hingga tercapai kesempurnaannya. Tegasnya ibadat itu timbulnya dari perasaan tauhid, maka orang yang suka memikirkan keadaan alam ini, yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bahkan yang mau memperhatikan dirinya sendiri, yakinlah dia bahwa di balik alam yang zahir ada Zat yang gaib yang mengendalikan alam ini, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, yakni Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan sebagainya. Maka tumbuhlah dalam sanubarinya perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui itu. Perasaan inilah yang menggerakkan bibirnya untuk menuturkan puji-pujian, dan yang mendorong jiwa dan raganya untuk menyembah dan berhina diri kepada Allah Yang Maha Kuasa itu sebagai pernyataan bersyukur dan membalas budi kepada-Nya. Tetapi ada juga manusia yang tidak mau berpikir, dan selanjutnya tidak sadar akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sering melupakan-Nya, sebab itulah maka tiap-tiap agama disyariatkan bermacam-macam ibadat, gunanya untuk mengingatkan manusia kepada kebesaran dan kekuasaan Allah itu. Dengan keterangan ini kelihatanlah bahwa tauhid dan ibadat itu pengaruh-mempengaruhi dengan arti tauhid menumbuhkan ibadat dan ibadat memupuk tauhid. Pengaruh ibadat terhadap jiwa manusia Tiap-tiap ibadat yang dikerjakan karena didorong oleh perasaan yang disebutkan itu, niscaya ada kesannya kepada tabiat dan budi pekerti orang yang beribadat itu. Umpamanya orang yang mendirikan salat karena sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada-Nya, akan terjauhlah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, yang dilarang Allah. Dengan demikian salatnya itu akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu, sesuai dengan firman Allah swt.: إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ Artinya: Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Q.S Al Ankabut: 45) Begitu juga ibadat puasa. Ibadat ini akan menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang yang melarat dan miskin pada diri orang yang berpuasa itu. Dan seterusnya dengan ibadat-ibadat yang lain. Tetapi ibadat yang bukan ditimbulkan oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, dan bukan pula didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Allah itu, hanya karena turut-turutan, atau karena memelihara tradisi yang sudah turun-temurun, bukanlah ibadat yang sebenarnya, dan kendatipun dia mempunyai rupa dan bentuk ibadat, tetapi tidak ada mempunyai jiwa ibadat itu, tak ubahnya dengan gambar atau patung, bagaimana pun juga miripnya dengan manusia, tidaklah dinamai manusia. Selanjutnya ibadat yang semacam itu tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadat itu. Berusaha berdoa dan bertawakal "Isti`anah" (memohon pertolongan) sebagai disebutkan di atas khusus dihadapkan kepada Allah, dengan arti bahwa tidak ada yang berhak dimohonkan pertolongannya kecuali Allah. Dalam pada itu, pada ayat yang lain Allah menyuruh manusia bertolong-tolongan dalam mengerjakan kebaikan. Allah berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. (Q.S Al Ma'idah: 2) Adakah pertentangan antara dua ayat itu? Tidak Tercapainya sesuatu maksud, atau terlaksananya suatu pekerjaan dengan baik adalah tergantung kepada cukupnya syarat-syarat yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan itu, dan tidak adanya rintangan-rintangan yang akan menghalanginya. Manusia telah diberi Allah tenaga, baik yang berupa pikiran maupun yang berupa kekuatan tubuh, untuk dipakai guna mencukupkan syarat-syarat, atau menolak rintangan-rintangan dalam menuju suatu maksud, atau mengerjakan sesuatu pekerjaan. Tetapi ada di antara syarat-syarat itu yang tidak kuasa manusia mencukupkannya, sebagaimana di antara rintangan itu ada yang di luar kekuasaan manusia menolaknya. Begitu pula ada di antara syarat-syarat itu atau di antara halangan-halangan itu yang tidak dapat diketahui. Maka kendatipun menurut pikirannya dia telah mencukupkan semua syarat-syarat yang diperlukan, dan telah menjauhkan semua rintangan-rintangan yang menghalangi, tetapi hasil pekerjaannya itu belum lagi sebagai yang dicita-citakannya. Jadi ada hal-hal yang tidak masuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia. Itulah yang dimintakan pertolongan khusus kepada Allah. Sebaiknya tentang sesuatu yang termasuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia, dia disuruh bertolong-tolongan, supaya tenaga menjadi kuat, dan agar ada pada masing-masing manusia sifat cinta-mencintai, harga-menghargai, dan gotong-royong. Dengan perkataan lain, manusia disuruh Allah berusaha dengan sekuat tenaga, dan disuruh tolong-menolong, bantu-membantu. Di samping menjalankan ikhtiar dan usahanya itu, dia harus pula berdoa, memohon taufik, hidayah dan ma`unah. Ini hendaknya dimohonkannya khusus kepada Allah, karena hanyalah Dia yang kuasa memberinya. Sesudah itu semua, barulah dia bertawakal kepada-Nya. Ibadat itu sendiri pun sesuatu pekerjaan yang berat, sebab itu haruslah dimintakan ma`unah dari Allah supaya semua ibadat terlaksana sebagai yang dimaksud oleh agama. Maka seseorang menuturkan bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadat, diikuti lagi dengan pernyataan bahwa kepada-Nya saja minta pertolongan, terutama pertolongan agar amal ibadat terlaksana sebagaimana mestinya. Ayat di atas, sebagai telah disebutkan, mengandung tauhid, karena beribadat semata-mata kepada Allah dan meminta ma`unah khusus kepada-Nya, adalah intisari agama, dan kesempurnaan tauhid. 6 Tunjukilah kami jalan yang lurus,(QS. 1:6) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul:: Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 6 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) "Ihdi": Pimpinlah, tunjukilah, berilah hidayah Arti "hidayah" ialah: Menunjukkan sesuatu jalan atau cara menyampaikan orang kepada orang yang ditujunya dengan baik. Macam-macam hidayah petunjuk) Allah telah memberi manusia bermacam-macam hidayah, yaitu: 1. Hidayah naluri (garizah) Manusia begitu juga binatang-binatang, dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya "naluri", dalam bahasa Arab disebut "garizah". Umpamanya, naluri "ingin memelihara diri" (mempertahankan hidup). Kelihatan oleh kita seorang bayi bila merasa lapar dia menangis. Sesudah terasa di bibirnya mata susu ibunya, dihisapnyalah sampai hilang laparnya. Perbuatan ini dikerjakannya tak seorang juga yang mengajarkan kepadanya, bukan pula timbul dari pengalamannya, hanyalah semata-mata ilham dan petunjuk dari Allah kepadanya untuk mempertahankan hidupnya. Kelihatan pula oleh kita lebah membuat sarangnya, laba-laba membuat jaringnya, semut membuat lobangnya dan menimbun makanan dalam lubang itu. Semua itu dikerjakan oleh binatang-binatang tersebut ialah untuk mempertahankan hidupnya dan memelihara dirinya masing-masing dengan dorongan nalurinya semata-mata. Banyak lagi naluri yang lain, umpamanya garizah ingin tahu, ingin mempunyai, ingin berlomba-lomba, ingin bermain, ingin meniru, takut dan lain-lain. Sifat-sifat garizah Garizah-garizah itu sebagai disebutkan terdapat pada manusia dan binatang, hanya perbedaannya ialah garizah manusia bisa menerima pendidikan dan perbaikan, tetapi garizah binatang tidak, sebab itulah manusia bisa maju tetapi binatang tidak, hanya tetap seperti sediakala. Garizah-garizah itu adalah dasar bagi kebaikan sebagaimana dia pun juga dasar bagi kejahatan. Umpamanya karena garizah ingin memelihara diri, orang berusaha, berniaga, bertani, artinya mencari nafkah secara halal. Tetapi karena garizah "ingin memelihara diri" itu pulalah orang mencuri, menipu, merampok dan lain-lain. Karena garizah "ingin tahu" pulalah orang suka mencari-cari aib dan rahasia sesamanya, yang mengakibatkan permusuhan dan persengketaan. Demikianlah seterusnya dengan garizah-garizah yang lain. Garizah-garizah itu tidak dapat dihilangkan dan tidak ada faedahnya membunuhnya. Ada ahli pikir dan pendidik yang hendak memadamkan garizah karena melihat seginya yang tidak baik (jahat) itu, sebab itu diadakan oleh mereka macam-macam peraturan untuk mengikat kemerdekaan anak-anak supaya garizah itu jangan tumbuh, atau mana yang telah tumbuh menjadi mati. Tetapi perbuatan mereka itu besar bahayanya terhadap pertumbuhan akal, tubuh dan akhlak anak-anak. Dan bagaimanapun orang berusaha hendak membunuh garizah itu, namun ia tidak akan mati. Boleh jadi karena kerasnya tekanan dan kuatnya rintangan terhadap sesuatu garizah, maka kelihatan dia telah padam tetapi manakala ada yang membangkitkannya, timbullah dia kembali. Oleh karena itu kendatipun garizah itu dasar bagi kebaikan, sebagaimana dia juga dasar bagi kejahatan, tetapi kewajiban manusia bukanlah menghilangkannya, hanya mendidik dan melatihnya, supaya dapat dimanfaatkan dan disalurkan ke arah yang baik. Allah telah menganugerahkan kepada manusia bermacam-macam garizah untuk jadi hidayah (petunjuk) yang akan dipakai dengan cara bijaksana oleh manusia itu. 2. Hidayah Pancaindra Karena garizah itu sifatnya belum pasti sebagai disebutkan di atas, maka ia belum cukup untuk jadi hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah swt. manusia dilengkapi lagi dengan pancaindra. Pancaindra itu sangat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan pikiran manusia, sebab itu ahli-ahli pendidikan berkata: الحواس أبواب المعرفة Artinya: Pancaindra itu adalah pintu-pintu pengetahuan. Maksudnya ialah dengan jalan pancaindra itulah manusia dapat berhubungan dengan alam yang di luar, dengan arti bahwa sampainya sesuatu dari alam yang di luar ini ke dalam otak manusia adalah pintu-pintu pancaindra itu. Tetapi garizah ditambah dengan pancaindra, juga belum cukup lagi untuk jadi pokok-pokok kebahagiaan manusia. Banyak lagi benda-benda dalam alam ini yang tidak dapat dilihat oleh mata. Banyak macam suara yang tidak dapat didengar oleh telinga. Malah selain dari alam mahsusat (yang dapat ditangkap oleh pancaindra), ada lagi alam ma'qulat (yang hanya dapat ditangkap oleh akal). Selain dari pancaindra itu hanya dapat menangkap alam mahsusat, tangkapannya tentang yang mahsusat itupun tidak selamanya betul, kadang-kadang salah. Inilah yang dinamakan dalam ilmu jiwa "illusi optik" (tiupan pandangan), dalam bahasa Arab disebut, "khida'an nazar". Sebab itu manusia membutuhkan lagi hidayah yang kedua itu. Maka dianugerahkan lagi oleh Allah hidayah yang ketiga, yaitu "hidayah akal". 3. Hidayah akal (pikiran) a. Akal dan kadar kesanggupannya Dengan adanya akal itu dapatlah manusia menyalurkan garizah ke arah yang baik agar garizah itu menjadi pokok bagi kebaikan, dan dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan pancaindranya, membedakan buruk dengan baik. Malah sangguplah dia menyusun mukadimah untuk menyampaikannya kepada natijah, mempertalikan akibat dengan sebab, memakai yang mahsusat sebagai tangga kepada yang ma'qulat, mempergunakan yang dapat dilihat, diraba dan dirasai untuk menyampaikannya kepada yang abstrak, maknawi dan gaib, mengambil dalil dari adanya makhluk untuk adanya khalik, dan begitulah seterusnya. Tetapi akal manusia juga belum lagi memadai untuk membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat di samping berbagai macam garizah dan pancaindra itu. Apalagi pendapat akal itu bermacam-macam, yang baik menurut pikiran si A belum tentu baik menurut pandangan si B, malah banyak manusia yang masih mempergunakan akalnya, atau akalnya dikalahkan oleh hawa nafsu dan sentimennya. Hingga yang buruk itu menjadi baik dalam pandangannya dan yang baik itu menjadi buruk. Dengan demikian nyatalah bahwa garizah ditambah dengan pancaindra ditambah pula dengan akal belum lagi cukup untuk menjadi hidayah yang akan menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup jasmani dan rohani, di dunia dan akhirat. Oleh karena itu manusia membutuhkan suatu hidayah lagi, di samping pancaindra dan akalnya itu, yaitu hidayah agama yang dibawa oleh para rasul `alaihimus shalatu wassalam. b. Bibit agama dan akidah tauhid pada jiwa manusia Dalam pada itu kalau diperhatikan agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang diciptakan oleh manusia (Al-Adyan Al-Wad'iyyah) kelihatan pada jiwa manusia telah ada bibit-bibit suka beragama. Yang demikian itu karena manusia itu mempunyai sifat merasa berhutang budi suka berterima kasih dan membalas budi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Maka di kala diperhatikan dirinya dan alam yang di sekelilingnya, umpamanya roti yang dimakannya, tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya, binatang ternak yang digembalakannya, matahari yang memancarkan sinarnya, hujan yang turun dari langit yang menumbuhkan tanam-tanaman, akan merasa berutang budilah dia kepada "suatu Zat" yang gaib yang telah berbuat baik dan melimpahkan nikmat yang besar itu kepadanya. Didapatnyalah dengan akalnya bahwa Zat yang gaib itulah yang menciptakannya, yang menganugerahkan kepadanya dan kepada jenis manusia seluruhnya, segala sesuatu yang ada di alam ini, segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk memelihara diri dan mempertahankan hidupnya. Karena dia merasa berutang budi kepada suatu Zat Yang Gaib itu, maka dipikirkannyalah bagaimana cara berterima kasih dan membalas budi itu, atau dengan perkataan lain bagaimana cara "menyembah Zat Yang Gaib itu". Akan tetapi masalah bagaimana cara menyembah Zat Yang Gaib itu, adalah suatu masalah yang sukar, yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia. Sebab itu di dalam sejarah kelihatan bahwa tidak pernah adanya keseragaman dalam hal ini. Bahkan akal pikirannya akan membawanya kepada kepercayaan membesarkan alam di samping membesarkan Zat Yang Gaib itu. Karena pikirannya masih bersahaja dan karena belum dapat dia menggambarkan di otaknya bagaimana menyembah "Zat Yang Gaib", maka dipilihlah di antara alam ini sesuatu yang besar, atau yang indah, atau yang banyak manfaatnya, atau sesuatu yang ditakutinya untuk jadi pelambang bagi Zat Yang Gaib itu. Pernah dia mengagumi matahari, bulan dan bintang-bintang, atau sungai-sungai, binatang dan lain-lain, maka disembahnyalah benda-benda itu, sebagai lambang bagi menyembah Tuhan atau Zat Yang Gaib itu, dan diciptakannyalah cara-cara beribadah (menyembah) benda-benda itu. Dengan ini timbullah pula suatu macam kepercayaan, yang dinamakan "Kepercayaan menyembah kekuatan alam", sebagai yang terdapat di Mesir, Kaldania, Babilonia, Assyiria dan di tempat-tempat lain di zaman purbakala. Dengan keterangan itu kelihatanlah bahwa manusia menurut fitrahnya suka beragama, suka memikirkan dari mana datangnya alam ini, dan ke manakah kembalinya. Bila dia memikirkan dari mana datangnya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan tentang adanya Tuhan, bahkan akan sampailah dia kepada keyakinan tentang keesaan Tuhan itu (tauhid), karena akidah (keyakinan) tentang keesaan inilah yang lebih mudah, dan lebih lekas dipahami oleh akal manusia. Karena itu dapatlah kita tegaskan bahwa manusia itu menurut nalurinya adalah beragama tauhid. Sejarah telah menerangkan bahwa bangsa Kaldania pada mulanya adalah beragama tauhid, barulah kemudian mereka menyembah matahari, planet- planet dan bintang-bintang yang mereka simbolkan dengan patung-patung. Sesudah Raja Namruz meninggal, mereka pun mendewakan dan menyembah Namruz itu. Bangsa Assyiria pun pada asalnya beragama tauhid, kemudian mereka telah lupa kepada akidah tauhid itu dan mereka persekutukanlah Tuhan dengan binatang-binatang, dan inilah yang dipusakai oleh orang-orang Babilonia. Adapun bangsa Mesir, maka bila diperhatikan nyanyian-nyanyian yang mereka nyanyikan dalam upacara-upacara peribadatan, jelaslah bahwa bukan seluruh bangsa Mesir purbakala itu orang-orang musyrik dan wasani, melainkan di antara mereka juga ada orang-orang muwahhidin, penganut akidah tauhid. Di dalam nyanyian-nyanyian itu terdapat ungkapan berikut: "Dialah Tuhan Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya" "Dia mencintai seluruh makhluk, sedang dia sendiri tak ada yang menciptakan-Nya" "Dialah Tuh
